Hari senin selalu menjadi rutinas yang melelahan, begitu juga yang terjadi di salah satu SMA Negeri diwilayah Jakarta selatan. Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah dan hari pertama untuk para siswa siswi baru melakukan MPLS atau jika dulu dikenal dengan istilah MOS.
Jika dulu saat MOS menjadi ajang untuk menunjukaan eksinsitas dan melonco atau mengerjai para siswa siswi baru, maka saat ini hal itu tidak diperbolehkan, jika ada yang melanggar maka akan mendapatkan sangsi yang tegas bahkan akan menjadi firal atau dipermalukan dimedia sosial, ya begitulah zaman sekarang sangat mudah untuk menyebarkan berbagai berita.
Karena hari ini menjadi hari pertama pelaksanaan MPLS, dan menjada hari pertama Tela menjadi siswa SMA. Tela menjadi salah satu manusia yang bersemangat dihari senin yang sedikit mendung ini. Gadis yang bernama Panjang Auristela Gianina Putri Kuncoro ini telah membayangkan apa saja yang akan dia temui dihari pertama sekolah , teman baru, kelas baru, lingkungan baru, dan yang paling dia dambakan melihat pengurus OSIS yang tampan,.
"Woy ngehalu apan lo ?" sentak Arifian kakak Tela, sambal mendorong kepala Tela yang sedang bertopang dagu diatas meja. Kebayang kan kepa Tela bakalan kejedot apa
"Apaan sih lo bang, Gue aduin Bubun lo. Harusnya lo tu masuk penjara"
"Masuk penjara apaan ?"
"Lo tu udah jedotin kepala gue ke meja, termasuk kekerasan itu" ungkap Tela dengan muka yang ditekuk, kepala sakit kejedot meja, hilang sudah hayalan Tela bertemu para Pengurus OSIS cowok yang tampan.
"Lo tu gak usah manja gitu doang masuk penjara segala" ucap Arif sambil menoyor kepala Tela.
"Ihh Bubun Abang ni nyiksa kepala Lala terus" teriak Tela ke arah dapur
"Siksa terus Bang adiknya, sekalian digantung diatas pohon mangga. Kamu itu udah gede masih aja suka usilin Lala" ucapa Beni yang menasehati sekaligus menyindir Arif.
" ya kurang kejam yah kalau dipohon mangga, harusnya tu digantung di pohon kelapa yang tinggi" yang namanya Arifian Dimas Putra kuncoro tidak akan peka dengan namanya sindiran tapi yang membuat heran, Arif adalah ketua OSIS disekolahnya, dan saat ini Arif kelas 12 otomatis sebentar lagi dia akan melepas jabatannya.
"Bang Ayah tu lagi nyindir lo, dasar dugong gak peka"
"hah ? nyindir apaan ?"
"susah emang ngomong sama titisan dugong"
"kalau abang kamu titisan dugong, trus kamu apaan ?" tanya Dyah Ayu Kuncoro, istri kesayangan Beni Aji Kuncoro yang keluar dari arah dapur membawa teh yang mengepul dari cangkirnya.
"Kalau aku udah pasti, princes kesayangan Ayah sama Bubun"
"lo anak cewek sendiri ogep"
"Banggg" singkat namun dapat membungkam mulut criwis Arif, memang hanya Dyah yang bisa mengendalikan Arif.
"iya Bun, kan Abang cuma bercanda" ucap Arif sambil mencium pipi tembam bunda kesayangannya. "Gas besok gua pinjem jam tangan lo yak" lanjut Arif mengalihkan perhatian dari omelan bundanya.
"Gak modal" singkat, padat, sekaligus nylekit. Itulah Satrio Bagas Putra Kuncoro bertolak belakang dari kedua kakaknya, Bagas memiliki sifat yang sangat cuek, jarang berbicara, dan terkesan cool. Tak jarang Arif dan Tela menjaili dan mengoda Bagas dengan cewek-cewek sekitar komplek yang seusia Bagas. namun Bagas selalu masa bodoh yang membuat kedua kakaknya gemas sendiri.
"Mampun gak lo bang, bagas aja ngatain lo gak modal" ucap Tela sambil tertawa diujung kalimatnya. sedangkan kedua orang yang sudah tua didalam rumah itu hanya mengelengkan kepala melihat ketiga anak mereka yang selalu membuat nuansa rumah selalu ramai.
"Elah lo sombong amat jadi bocah, masih kelas 8 aja udah pakek jam mahal kebanyakan gaya lo"
"Hadiah dari ayah, bukan Gue yang minta" lagi Bagas hanya menimpali seadanya, memang Beni memberi hadiah jam tangan mahal pada Bagas dengan merek Casio G-Shock, alasanya Beni hanya merasa jika jam itu cocok dipakai Bagas. Terlalu mahal memeang untuk anak remaja kelas 2 SMP.
Beni yang mendengar ucapan Bagas tidak merasa tersingung sama sekali kara dia sudah paham diluar kepala sifat bagas yang agak menjengkelkan. Tidak ingin semakin berdebat Dyah mengalihkan pembicaraan dengan mengingatkan bahwa sudah mendekati jam tujuh, mau tak mau mereka harus segera berangkat sekolah.
"Bang cowok cowok di SMA ganteng gak ? " tanya Tela saat berjalan menuju garasi.
"Ganteng dong, apa lagi ketua OSISnya, gantengnya kebangetan" jawab Arif dengan yakin sambil mengenakan helemnya.
"Gue udah tau bang ketua OSIS disana titisan dugong mustahil kalo ganteng"
"Harusnya sekali-kali lo tu muji gue, tiap hari perasaan gue gak ada bagus-bagusnya dimata lo"
"Emang lo abang gue yang paling jelek" ucap Tela sambil mengenakan helem.
" Eh lo ngapain pakai helem ? "
"Mau naek montor lah masak mau naek dokar"
"Mau naek motor siapa lu ?" pasalnya digarasi milik kelurga Beni Aji Kuncoro hanya terdapat 2 sepeda motor satu milik ayahnya yaitu motos vespa lawas dan satunya lagi motor Honda CB milik Arif dan hanya terdapat satu mobil yang memuat satu keluarga yaitu Toyota Calya. Beni dan Arif memang menyukai hal-hal yang berbau kuno terutama sepeda motor, memang buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
"Kan mau bareng Abang naek motor"
"Gak usah aneh-aneh lo bareng Bagas dianter Ayah. gua mau lempar kail ke cewek-cewek, udah mau lepas jabatan capek jadi jomblo tampan gue"
"Kebanyakan gaya lo bang, situ sendiri yang dulu bilang mau fokus organisasi sekarang sok-sokan lempar kail, lo kira mancing ikan"
"Gak usah banyak omong lo, cepetan lo susul Ayah sama Bagas keberu pada berangat" usir Arif sambil mendorong bahu Tela "Eh lo mau naik mobil pakek helem ?"
"Eh iya lupa" ucap Tela mringis sambil melepas helemnya, lalu segera berlari menuju mobil Ayahnya yang hendak keluar dari garasi rumah "Ayah tinggu, Lala Ditelantarkan dugong laknat"
Hay hay cemua, kasih tau ya kalau banyak typo :) soalnya aku sering gak sadar kalau ada typo semoga kalian suka sama ceritaku yang ambrul adul :v
YOU ARE READING
Virus Merah Jambu
Teen Fiction-Tela "Kak sebenarnya setatus kita apa ?" -Danu "Tela, tolong kamu ngertiin aku tunggu aku purna dari jabatan ini " menjadi anak organisasi tidaklah muda, banyak aturan, banyak larangan, apa lagi jika peraturan itu menyangkut hati manusia. hanya ada...
