Satu

1.3K 91 4
                                        

Hampir satu jam Shilla menunggu Radit yang katanya mau jemput, tapi ternyata belum ada kabar juga. Padahal tadi pas pulang sekolah dia bilang mau jemput Shilla yang hari ini ada ekskul. Jam udah menunjukkan pukul 5.34. Itu artinya sebentar lagi maghrib. Sekolah juga udah sepi, dan hanya ada beberapa anak yang masih duduk di halte sambil menunggu bis terakhir.

Drrrtttt drrrtttt

Shilla merasakan hapenya bergetar saat dirinya akan naik bis yang baru saja berhenti di depannya. Percuma saja menunggu Radit, paling juga dia lupa lagi kaya biasanya.

"Kebiasaan!" Shilla kembali duduk setelah melihat ke layar hapenya yang ternyata itu pesan dari Radit.

Radit : sorry Shil, gue ketiduran. Jangan kemana-mana dulu, Farel lagi otw jemput lo.

"Yuk naik."

Baru saja Shilla akan memasukkan hapenya ke dalam saku, Farel datang dengan motor ninjanya. Shilla hanya bisa memanyunkan bibirnya dan langsung memakai helm sebelum naik ke boncengan.

"Pegangan, gue mau ngebut." ucapnya lagi.

"Bawel!" meskipun begitu, Shilla langsung melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Farel. Membuat Farel itu tersenyum senang.

Farel melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Nggak seperti ucapannya tadi yang bilang mau ngebut. Tapi, ini udah termasuk ngebut buat Shilla. Padahal kecepatannya hanya 60 km/jam. Biasanya Farel bisa nyampe 100 km/jam. Edan emang itu cowok. Makanya Shilla nggak suka dibonceng sama Farel. Mending dibonceng pake motor maticnya Radit. Lebih aman dan nyaman tentunya. Nggak kaya gini, udah boncengannya tinggi, ngebut lagi bawanya.

Farel menambah kecepatannya saat mendengar suara adzan maghrib. Membuat Shilla memekik di belakangnya. Namun Farel sama sekali nggak menuruti perkataan Shilla yang menyuruh dia untuk memelankan laju motornya.

"Pokoknya ini terakhir kalinya gue mau dibonceng lo, besok nggak lagi." Shilla memberikan helm kepada Farel begitu sampai di depan rumahnya sambil merapikan rambutnya yang berantakan.

Sedangkan Farel langsung mengambil note kecil yang ia taruh di saku depan seragamnya. Dia juga sepertinya belum pulang ke rumah karena masih memakai seragamnya.

"Totalnya udah 57." Farel menunjukkan note kecil yang menunjukkan angka ratusan yang berakhir dengan angka 57 diikuti tanggal dan jam. Itu artinya Shilla sudah mengatakan hal yang sama setiap selesai dibonceng Farel, dan Farel selalu menghitungnya. Dia bahkan selalu membawa note kecil itu kemana-mana.

Shilla yang melihat itu langsung mendengus dan pergi meninggalkan Farel yang tertawa puas.

"Kenapa kak, kok manyun gitu?" tanya Elena yang sedang sibuk menyiapkan makan malam dan melihat anaknya yang baru saja pulang langsung menghampiri dirinya di ruang makan.

"Shilla tuh sebel banget mi, Radit bilang mau jemput tapi lupa. Kebiasaan banget, kan Shilla capek nunggu hampir satu jam." Meskipun udah sampai rumah tapi kekesalan Shilla belum juga hilang. Dia justru semakin kesal setelah menceritakannya kepada maminya itu.

"Tapi dijemput sama Farel kan?" bahkan Elna pun hapal, setiap kali Radit nggak jemput anaknya itu pasti selalu ada Farel.

"Tapi tetep aja mi Shilla kesel sama Radit."

"Kenapa kak, baru pulang kok marah marah?" Adin yang baru bergabung heran karena dari kamar dia juga sudah mendengar anaknya itu seperti sedang marah.

"Itu pi, masa tadi Radit udah janji mau jemput kelupaan. Shilla kan jadi nunggu hampir satu jam. Udah gitu dia nyuruh Farel yang jemput, kan makin kesel."

Why Not?Where stories live. Discover now