SUNYALAYA-BABAK 1

134 6 6
                                        

"Dum ... tak...tak...dum..."

"Tak...dum...tak...dum..."

Terdengar suara hentakan kaki dari orang yang (seolah) sedang menari. Mengangkat satu kakinya bergantian dan menghentakkannya dengan penuh tenaga di atas panggung beralas kayu. Sejurus kemudian berganti sikap kuda-kuda seorang ksatria yang sedang mengolah ilmu kanuragan dengan tangan kosong. Sesekali menendang, sesekali memukul angin disekitar dirinya, sesekali melompat kemudian melangkah kecil-kecil mengelilingi panggung dan berteriak.

"Aaa...Uuu...Mmm..."

"Aaa...Uuu...Mmm..."

"Aaa...Uuu...Mmm..."

Dan kemudian berhenti tepat ditengah panggung, memejamkan mata dan melakukan Vriksha Asanan.

"Aaa...Uuu...Mmm..."

"Tuhan!, saya pernah jatuh dan mati berkali-kali dalam situasi yang sama seperti ini yang membuat ku frustasi. Telah berkali-kali pula ku hadapi kematian, bukan karena aku berani tapi inilah persembahan sembah baktiku padaMu."

"Aaa...Uuu...Mmm..."

Matanya kini terbuka dan ditebarkan pandangannya lurus kedepan.

"Kini telah berdiri pengejawantahan dirimu yang tengah mengarahkan anak panahnya tepat dihadapanku. Apakah aku akan mundur?. TIDAK!. Aku tak mundur dan tak akan melangkah kemana-pun meski hanya menggeser sebelah kaki. Bagaimanapun, lakon kehidupan musti berlanjut karena waktu tak pernah mau menunggu."

"Kemarilah Rama, lepaskan anak panahmu tepat didadaku"

"Aaa...Uuu...Mmm..."

"Jika aku mati. Maka Cinta-Mu membunuhku dan mewujudkan Kau yang terbunuh oleh dirimu sendiri, menjadikan Diri sebagai Cinta yang mengejawantah. Cinta sebagai pusara-nya"

"Aaa...Uuu...Mmm..."

"Akulah Rahwana Raja Alengka. Yang boleh mati secara fisik dikubur gunung Sondara-Sondari. Tapi tidak dengan Spirit Rahwana, yang telah abadi menyatu bersama diri-Nya."

"Ohm..Ohm..Ohm..."

Terdengar suara tubuh yang roboh menghantam panggung dengan kerasnya. Memecah sunyi di sebuah ruangan dengan deretan ratusan kursi penonton yang tersusun rapi menghadap panggung yang kini hanya diterangi 1 spot cahaya lampu merkuri dan terlihat seseorang roboh terlentang mengakhiri dialognya. Disusul kemudian suara tepuk tangan dari beberapa orang di depan panggung.

"Oke Mas Jati langsung saja penilaian dari kami. Secara kualitas akting mas Jati sangat baik. Dalam penghayatan, blocking, vocal dan penguasaan panggung juga. Apalagi gesture dan mimik juga pas. Tapi kami merasa secara postur tubuh Mas Jati kurang merepresentasikan Rahwana. Yang kita sama-sama tau, Rahwana adalah Raja Alengka sekaligus Rakhsasa."ucap salah satu juri yang memberikan respon atas penampilan Jati barusan.

"Tapi kami punya penawaran yang menarik untuk Mas Jati. Dari hasil perundingan, kami menilai mas Jati ini lebih cocok kalau menjadi Lesmana. Dari paras dan postur tubuh juga mendukung. Bagaimana Mas Jati?" juri yang lain memberikan penawaran.

"Sebelumnya terimakasih atas pujian dan tawarannya. Tapi saya mengikuti seleksi ini karena peran Rahwana bukan peran yang lain" sahut Jati.

Jati salah satu anggota teater kampus di Surabaya yang sedang mengikuti audisi Pementasan Lakon Ramayana yang diadakan oleh salah satu kelompok teater atas saran dan paksaan dari seniornya. Jati yang junior menuruti untuk ikut seleksi di Yogya dengan syarat akomodasi dan makan ditanggung mereka.

Hingga akhirnya disinilah Jati sekarang, mengikuti seleksi di gedung pertunjukan di Yogya untuk peran sebagai Rahwana.

"Lah bagaimana juri-juri itu, orang saya kesini karena peran Rahwana malah disuruh jadi Lesmana. Katanya, paras dan postur yang kurang sesuai jadi Raksasa. Mosok Raksasa gak oleh ganteng hahaha"

SunyalayaStories to obsess over. Discover now