01. PASAR

166 7 0
                                        

"Kak, temenin Mama ke pasar yuk."

Tiba-tiba saja Mamanya- Hera, masuk tanpa mengetuk pintu dulu. Spontan Zara yang sedang bermain handphonepun terlonjak kaget.

"Zara belum mandi lho Ma."

"Udah gapapa, ke pasar doang. Mama tunggu di bawah ya," ucap Hera sambil menutup pintu dan keluar kamar anaknya.

"Hmm."

Setelah mengganti baju tidurnya dengan celana training dan kaos putih polos, Zara keluar dari kamarnya menghampiri Hera yang sudah menunggu di depan rumah.

"Yaudah yuk berangkat keburu siang nanti," ajak Hera lalu segera masuk ke dalam taxi yang sudah dipesannya tadi.

"Kenapa nggak minta dianter Pak Yanto aja sih Ma?"

"Tadi Pak Yanto ijin nggak bisa kerja hari ini. Istrinya sakit katanya."

Zara hanya mengangguk paham lalu fokus memainkan ponselnya.

Setelah berjam-jam belanja mengelilingi pasar, kini Zara dan Hera sedang mencari angkutan umum untuk pulang.

"Mana sih kok nggak ada angkutan yang lewat ya?" celoteh Hera sambil mengipasi wajahnya dengan koran yang dimintanya dari penjual sayur tadi.

"Harusnya tadi bawa mobil aja Ma, kan aku juga bisa nyetir."

"Kamu tuh masih kecil belum punya SIM juga kan, gimana nanti kalau ada apa-apa di jalan. Mama nggak mau lah, repot ngurusinnya."

"Tapi kalau panas-panasan gini Mama juga nggak mau, kan?"

"Iya juga sih, tapikan-"

Ucapan Hera terpotong karena suara seseorang yang memanggilnya.

"Hera!!!" sapa seorang wanita yang umurnya hampir sama dengan Hera sambil melambaikan tangannya.

Tapi saat ini bukan itu yang menjadi fokus Zara, melainkan seorang cowok bertubuh tinggi menjulang dengan celana jeans beserta kaos hitam yang membuatnya terlihat semakin mempesona.

Oh shit, gue mimpi apa bisa ketemu cogan di pasar. Gila seger banget mata gue pagi-pagi lihat beginian.

"Ini anak kamu Ra?" tanya wanita yang tadi berpelukan dengan Mamanya membuat Zara tersadar dari lamunannya.

"Oh iya ini anak aku, Zara."

"Hai Tante. Aku Zara," ucap Zara sambil menyalami tangan wanita itu.

"Panggil aja Tante Lina. Oh ya ini anak aku." Lina menengok ke arah cowok yang membuat Zara melamun tadi sambil menyuruhnya untuk berkenalan.

"Buana," ucap cowok itu dengan suara yang datar namun ada ketegasan di dalamnya.

"Anak kamu ganteng banget sih Lin."

"Ah bisa aja. Zara juga cantik banget tahu. Oh ya kamu kenapa disini?"

"Ini tadi aku habis belanja di pasar, terus lagi nunggu angkot deh."

"Oh gitu. Bareng aku aja yuk?"

"Ah gausah malah ngrepotin kamu nanti."

"Udah gapapa." Dengan santai Lina dan Hera berjalan tanpa sadar bahwa anak mereka masih diam di tempat.

Tanpa sepatah katapun Buana menyusul Mamanya  menghiraukan Zara yang masih diam menatapnya. Tak mau seperti anak ayam yang hilang, akhirnya Zara berlari kecil mengikuti mereka.


Hallo!!! Aku harap kalian suka ya sama cerita aku yang kedua ini.

Thankyou buat yang udah baca, vomen, dan share cerita ini.

Jangan sungkan-sungkan kalau mau kasih kritik dan saran. Tapi harus bijak juga ya.

Love youuuu :)

BUANA [COMPLETED]Where stories live. Discover now