Prologue

25 5 1
                                        

Jo Jungkook melangkah cepat-cepat keluar dari ruangannya. Tampak wajahnya yang sama sekali tak bersahabat, sampai-sampai staf pegawainya tak ada yang berani menyapa. Jungkook menanti lift naik ke lantainya dengan tak sabaran, sementara tangannya meremas ponsel dengan kuat. Ia baru saja menerima telepon dari salah satu orangnya yang membawa kabar buruk-atau mungkin lebih ke kabar menyebalkan, yang membuat Jungkook naik darah.

Bahwa isterinya dibawa ke kantor polisi.

Jungkook jelas tak tahu bagaimana asal usulnya. Tapi, orangnya mengatakan semacam; mabuk saat berkendara. Serius? Jungkook tak habis pikir. Matahari masih terang benderang, dan isterinya sudah membuat masalah dengan mabuk minuman keras.

Ting!

Pintu lift terbuka. Jungkook langsung masuk dan menekan tombol yang mengarahkannya ke basemen. Sedangkan mata Jungkook kembali melirik ponselnya, dan menyadari bahwa tak sekali pun sang isteri menghubunginya.

*

Setelah melepas heels-nya sembarangan, Seo Jia langsung merebahkan diri telentang di atas sofa. Ia mengusap wajah, merasa lelah. Lantas, tak lama kemudian memejamkan mata, pura-pura tak menyadari tatap tajam yang dilayangkan oleh suaminya, Jo Jungkook, yang berdiri tak jauh dengan tangan bersidekap jemawa.

Jia tak peduli.

Semenjak keluar dari kantor polisi, Jungkook memang belum membuka suara. Ia hanya menarik paksa lengan Jia untuk masuk ke dalam mobilnya dan langsung tancap gas menuju apartemen mereka. Dalam perjalanan, Jungkook juga belum mengatakan apa-apa. Padahal Jia sudah menyiapkan 1001 kalimat untuk menyangkal apapun tuduhan Jungkook.

Lima menit ruangan senyap. Jia mulai muak, tak tahan bila satu ruangan dengan Jungkook. Jadi, ia memutuskan untuk beranjak duduk. Dipandangnya raut masam Jungkook, yang kini juga tengah menatapnya. "Kau tak memarahiku?" tanya Jia langsung.

"Marah?" Jungkook mengangkat alis. "Aku sudah sering memarahimu. Terlalu sering, sampai aku bosan memarahimu dengan cara yang biasa."

Dahi Jia berkerut samar. Tapi, ia agak tak menduga kalau setelahnya, Jungkook justeru melangkah maju-mendekat. Jia berusaha tak gentar, ia mempertahankan tegap tubuhnya, tak mundur sekali pun Jungkook juga menunduk. Wajah mereka berdekatan, sangat dekat. Tangan Jungkook bergerak naik untuk menyentuh dagu Jia, tapi langsung ditepis.

Sudah biasa, maka Jungkook tersenyum miring.

"Tapi, ayo coba hal lain untuk memberimu pelajaran."

Jungkook langsung mengukung Jia dalam dekap dan memperdekat wajahnya dengan wajah Jia. Sang isteri tentu saja berontak, meski mereka berdua resmi menikah, tentu Jia tak rela jika dirinya diperkosa. Pertemuan antara bibir dengan bibir hampir terjadi, seandainya Jia tak mendorong dada Jungkook dengan sekuat tenaga yang ia miliki. Membuat laki-lakinya mundur.

Napas Jia memburu. "Jangan lupa batasanmu!" Jia berseru marah.

"Batasan macam apa yang dimiliki sepasang suami-isteri? Kau sendiri yang membuat batasan-batasan bodoh semacamnya!"

Jia tak memedulikan wajah Jungkook yang kini benar-benar merah. Ia berbalik, muak dan hendak kabur ke kamarnya untuk mengunci diri. Tapi, suara Jungkook kembali terdengar.

"Sampai kapan kau akan terus membuat-ku kesal?" tanya Jungkook.

Jia tertawa, tapi tak berbalik cuma-cuma untuk melihat suaminya.

"Sampai kau mati-atau paling tidak, sampai kau menceraikanku."

*

Memiliki isteri 'bandel' dan terus-menerus membuatnya kesal, Jo Jungkook harus bersabar. Pernikahan mereka berdua hanya berlandaskan pada sebuah kata; terpaksa.

Sementara Seo Jia, yang sudah berstatus sebagai isteri Jo Jungkook, hanya memiliki satu keinginan; bercerai dengan Jungkook, untuk kemudian kabur bersama kekasih gelapnya, Im Taehyung.

-

a/n: Vote & comment sangat membantu supaya aku semangat dan update lebih cepat xixi. Terimakasih!

-love, Jam.

ShatteredWhere stories live. Discover now