SADBOY (END)

2.4K 17 7
                                        

"Yunki yaaaaaaa! Cepat antarkan akuuu!" Yunji yang sudah siap dengan seragam dan sepatunya berteriak di depan pintu rumah yang ia tinggali berdua bersama kakak satu-satunya.

Yunki berjalan menuruni tangga dengan langkah yang malas.

"Kau mau mengantarku ke sekolah atau berangkat ke kuburan?" Tanya Yunji.

"Sstttt... Kamu terlalu berisik." Jawab Yunki datar. Ia kemudian berlalu melewati tubuh Yunji dan menuju mobil sport berwarna hitam metalik kesayangannya.

Yunji hanya menghela nafas sembari mengunci pintu. Kemudian ia mengekori Yunki masuk ke dalam mobil dan mendudukan diri di kursi penumpang sebelah kursi pengemudi.

"Yunki yaa, berhentilah berpakaian seperti itu. Kamu selalu terlihat mencurigakan." Yunji masih menilai penampilan kakaknya yang memakai topi, masker, kaus yang dilapisi jaket, celana dan sepatu yang semuanya full berwarna hitam.

"Aku benci sinar matahari." Jawab Yunki. Ia kemudian melajukan mobilnya membelah jalanan kota Seoul yang mulai padat oleh hilir mudik manusia yang dijajah uang.

"Aigoo, dasar si pucat!" Yunji melipat tangannya di depan dada dan memanyunkan bibirnya.

Yunki tak menjawab apapun karena pada dasarnya memang Yunki tidak pernah banyak bicara. Apalagi semenjak kematian kedua orangtuanya dua tahun yang lalu. Ia merasa terlalu sibuk mengurus satu cafe di Seoul dan dua cafe di Daegu peninggalan orang tuanya. Sehingga menurutnya, untuk banyak bicara saja ia sudah lelah.

Beruntung Yunji yang tahun ini akan lulus dari SMA tidak pernah merepotkan Yunki. Ia bisa mengurus rumah, dirinya sendiri, dan juga keperluan Yunki. Bahkan kadang ia lebih suka ikut melayani pelanggan di cafe utamanya yang di Seoul.

Yunki tak sendiri mengurus cafe-cafe nya. Ia dibantu Hobie, sahabatnya sejak SMP. Usia pertemanan mereka sudah mencapai hampir 10tahun. Mereka sudah sangat dekat. Bahkan Yunji lebih manja pada Hobie. Yunji bisa berbicara dari A-Z pada Hobie dan Hobie akan setia mendengarkan celotehan Yunji yang kadang melupakan rem dilidahnya. Yunki dan Yunji juga sudah terbiasa keluar masuk apartemen Hobie tanpa permisi. Dan begitupula dengan Hobie.

"Aku akan ke Daegu." Ujar Yunki pada adiknya sebelum adiknya itu menurunkan kakinya dari dalam mobil.

"Mendadak?" Tanya Yunji.

"Heem. Kalau kau kesepian, ke cafe saja. Atau kau bisa ke apartemen Hobie dulu." Yunki memberikan opsi pada adiknya.

"Yasudah. Hati-hati ya." Jawab Yunji yang diangguki oleh kakaknya.

Mobil Yunki melaju dengan kecepatan tinggi seiring dengan tubuh Yunji yang mulai melangkah memasuki gerbang sekolah yang hanya akan ia tinggali tiga bulan lagi.

🐈☀️🐈

Sore itu Yunji akhirnya pulang ke apartemen Hobie dengan bus yang cukup padat karena Yunki bilang tidak bisa menjemputnya terlebih dahulu dan akan sampai di Seoul lagi pada tengah malam atau tidak esok hari.

Tanpa basa-basi Yunji duduk disebelah Hobie dan mengeluh kepanasan pada Hobie yang sedang duduk menonton tv di sofa putih panjang yang berada di ruang tengah.

Hobie hanya tersenyum kecil dan mengacak-acak rambut Yunji. Ia kemudian menuangkan jus jeruk yang sedari tadi menemaninya menonton tv dan menyodorkannya pada Yunji  yang langsung meneguknya sampai habis. Ia lalu meletakan kembali gelas kosongnya di paha Hobie yang dilapisi celana training abu-abu.

"Hey, taruh dimeja sayang!" Seru Hobie. Tangannya memukul pelan puncak kepala Yunji. "Taruh sendiri. Siapa suruh memberikan nya padaku?" Yunji mengambil tangan Hobie yang tadi memukul kepalanya dan menggenggamnya.

ONESHOT BTSHistórias para pegar e não largar. Descubra agora