"Nama gue Fadil. Lo—Naura 'kan? " Tiba-tiba ia datang menghampiri Naura yang sedang berjalan. F-fadil? Bentar, jangan bilang Fadil yang 'itu'? OMG! ucap Naura dalam hati.
Naura menengok ke arah cowok itu. Wah! Fadil. Iya! Fadil. Cowok yang sudah ia incar sejak sebulan lalu. Kini berdiri tepat di sebelah kanan tubuhnya, dan hebatnya lagi, ia mengajak Naura berkenalan!
"Iya. Gue Naura. Kenapa?" Prinsip yang dipegang teguh Naura. 'Harus jadi jaim dulu kalo ketemu orang baru. Terutama untuk cogan.' Tak ada maksud apa-apa. Dia hanya ingin dinilai baik oleh orang baru yang mengenalnya. Ia tak mau di cap jelek dengan kelakuan Naura yang sedikit-urakan?
"Nghh... lo temennya Shira 'kan? nama dia Shira 'kan? Yang sering lo ajak kerumah lo? Gue sering liat. " Ujar cowok yang kini berdiri didepan Naura sambil menampilkan cengiran.
Apa-apaan dah? Batin Naura. Cowok itu mengajak berkenalan untuk siapa sih sebenarnya?! Untuk dirinya, atau temannya?! Sabar Nau, sabar. Batinnya kembali bersuara. Ia refleks mengelus dadanya.
"Hm. Kenapa lo nanyain Shira? Lo siapanya? " Tanya Naura sambil berkacak pinggang. Shira adalah sahabatnya. Ia tak rela sahabatnya diganggu siapapun, walau orang itu Fadil, cowok yang sejak sebulan lalu ia incar.
"Gue suka sama dia. Lo bisa ngenalin gue ke Shira ngga? " Mendengarnya, dunia Naura secara perlahan runtuh.
Apa tadi katanya? Suka? Yang bener aja! Lagi-lagi Naura bergulat dengan batin serta pikirannya yang berkecamuk hebat.
"Nggh.. S-suka? Lo suka sama dia? Kenapa? " Refleks saja. Naura malah mengucapkan kalimat tersebut. Sadar, matanya melotot dan menepuk bibir tipisnya berkali-kali. Menyalahkan bibirnya yang sangat berani mengeluarkan kalimat itu.
Dahi Fadil tampak mengernyit. Seolah tak mengerti maksud dari cewek didepannya ini. Apa salah jika ia menyukai seseorang? Bukannya hal itu wajar? Kecuali jika yang didepannya ini—
"Sori sori! Euhm, maksud gue bukan gitu! Aduh gimana ya? Shira itu udah punya pacar Dil! Iya! Udah punya pacar! " Naura tidak berbohong kok. Memang benar. Faktanya jika Shira sudah mempunyai kekasih. Malah, acap kali Naura menjadi nyamuk diantara mereka berdua. Sungguh mengesalkan!
"Hahaha.. Iya iya. Kok gelagatnya lo kayak bohong ya? " Goda Fadil. Ia meneliti raut wajah Naura yang panik. Tapi tampaknya lebih ke—menggemaskan?
Naura terkesiap. "Apa-apaan lagi nih cowo! Gue dikata bohong! Wah parah lo ya! " Tapi kali ini, kalimatnya hanya ia simpan didalam hati. Sebagai gantinya, ia menampilkan cengiran khasnya sambil menggaruk lehernya yang entah kenapa tiba-tiba terasa gatal sekali.
"Lo ngga percaya sama gue? Ah, wajar juga sih. Kita 'kan baru kenal. Iya 'kan? " Naura menampik ucapan Fadil yang menuduh nya berbohong tadi. Sebenarnya Naura tak terima. Tapi berhubung yang menuduh nya adalah cogan, ya gapapa deh.
Fadil tersenyum. Cewek yang didepannya ini ternyata terlalu mudah untuk insecure. Fadil yang melihatnya jadi tak enak hati.
Dia sebenarnya percaya-percaya saja jika Shira sudah punya pacar. Lagian 'kan Shira cantik. Jadi wajar dong kalau ia sudah punya pacar?
"Eh jangan gitu dong! Gue 'kan jadi nggak enak hati jadinya. " Bujuk Fadil agar cewek didepannya ini tak insecure lagi. Lagipula, untuk apa sih insecure? Sungguh Fadil tak habis pikir dengan jalan anak muda jaman sekarang. Walau tak menampik, Fadil juga masih anak muda.
Kepala Naura yang tadinya menunduk kini terangkat dan kembali menatap Fadil. Kepalanya terangkat seraya terbitnya senyum yang merekah dari bibirnya. Dan Fadil sadar, bahwa senyum itu secara perlahan akan menghipnotis dirinya.
***
A/n:
Halo. Welcome to Cermin.
YOU ARE READING
CERMIN
Teen FictionFOLLOW TERLEBIH DAHULU SEBELUM MEMBACA! HARGAI KARYA SESEORANG "Nama gue Fadil. Lo--Naura 'kan? " Tiba-tiba ia datang menghampiri Naura yang sedang berjalan. F-fadil? Jangan bilang Fadil yang 'itu'?OMG! ucap Naura dalam hati. Naura menengok ke arah...
