Prolog

90 4 2
                                        

         "Cinta ini datang tanpa permisi, sudah ku enyahkan segala rasa demi segala mantra persahabatan kita, tapi hati tak mau berganti posisi." Senja mengucap lirih pada sesosok gadis yang duduk membelakangi punggungnya. Jingga masih diam tanpa kata.

           "Aku memang tak bisa menjanjikan kebahagiaan di setiap waktumu, seperti langit yang tak pernah menjanjikan pelangi muncul disetiap hari, tapi aku kan selalu berusaha memberikan kasih sayang dan perhatianku seperti mentari yang kan selalu menyinari bumi, memberikan kehangatan di setiap sisi nya." Setetes air jatuh di pipi gadis itu, mencerna kata kata yang Senja utarakan. Semenit kemudian.
        
         " Ya.. aku tau betapa kau selalu ada disetiap saat terbaik dan terburuk ku, di setiap aku membutuhkan mu, di saat langit tak menampakkan sinar terangnya, kau menerangi dunia ku, di saat langit tak menjanjikan warna pelangi, kau selalu mewarnai hari ku. Mau kah kau bersabar? Bersabar untuk ku bisa menetralkan rasa ini. Rasaku padanya. Atau bahkan membuang sejauh mungkin. Karena aku tak mau ada bayangan dirinya ketika aku bersamamu. Aku ingin rasaku hanya untuk mu, tak terbagi dengan yang lain. Mau kah kau memberikan waktu untuk ku?" Jingga, memutar badan nya menghadap Senja. Demikian pun dengan Senja yang di barengi dengan lengkungan simetris di bibirnya.
         
         " aku akan dengan senang hati menunggumu, untuk rasa yang tak pernah kau hiraukan pun 5 tahun dengan baik ku jaga. Maka untuk kesempatan ini, aku akan menunggumu sampai kamu betul betul menerima kehadiranku dihatimu, atau tak sama sekali bisa singgah sedetik saja" kedua tangan Senja memegang bahu Jingga, tersenyum lebar penuh haru, Jingga membalasnya dengan tersenyum pula.

Bagaimana kelanjutannya?? Akankah Jingga bisa menerima Senja dan memberikan seluruh hati nya untuk Senja, ataukah tidak sama sekali? Yuk, simak cerita selengkapnya..

The ChoiceCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang