Sebuah Pesan Untukmu

512 36 5
                                        

Karena, semua aksara yang tertuang melalui rasa berawal tanpa judul

° • ° • Catatan Tanpa Judul • ° • °

Di sebuah tempat yang menjadi saksi di mana kedua insan bertemu dan saling jatuh cinta. Di mana memori-memori dalam kalbu terukir. Masih di bawah langit yang sama, tempat itu dipenuhi oleh gelak tawa ke-4 orang yang kini tengah berkumpul dengan tujuan melepas rindu.

Bersama rindangnya Sang Penyejuk Hari, seorang wanita nampak menyendiri di antara keramaian itu. Ia tengah terduduk di salah satu bukit. Menatap indahnya hamparan ladang berwarna hijau yang dihias oleh indahnya bunga-bunga bermekaran dengan warna-warni pohon Tabebuya yang romantis.

Tangannya tergerak mengelus tanah tempatnya terduduk. Masih dengan perasaan yang sama, wanita itu memejam. Memeluk sebuah surat yang ditulis olehnya di setiap tahun. Dengan tanggal, bulan, dan detik yang sama. Ia kemudian tersenyum begitu mengingat beberapa potong memori yang ia alami bersama sesosok manusia yang tengah ia rindukan saat ini.

Ia tertawa hampa untuk sejenak, jika saja, jika saja dirinya berhasil menutup relung hati. Mungkin ia tak akan terluka untuk kurun waktu yang panjang. Mungkin saja, hari ini tidak akan pernah datang.

Namun, tiap kali pikiran ini menghampiri wanita itu. Ia selalu merasa bahwa dirinya terlalu jahat. Terlalu jahat pada sosok itu yang telah memberikannya banyak kenangan indah. Rasanya seperti mengkhianati asa yang pernah tercipta melalui suatu wujud fana yang sempat nyata. Terlalu jahat pada hatinya yang terus menerus dibohongi, karena pada kenyataannya, wanita itu merindukannya.

Dengan segenggam surat yang ia bawa, wanita itu membuka sebuah kotak yang penuh berisikan kertas usang. Beberapa sudah rapuh termakan waktu, dan beberapa lagi memiliki aroma khas buku lama.

Wanita itu kemudian memasukkan secarik kertas berisi tulisan tangannya dengan secercah harap agar dapat kembali dipertemukan sekadar melepas rindu.

Ditutupnya kotak itu. Dikubur di dalam tempat yang sama, ruang hampa yang masih tersisa di dalam relungnya, bahkan ketika waktu tak lagi mampu mengobati. Tak lupa, ia bekali pula sebuah permen kesukaan sosok itu. Ia lantas tersenyum, lalu berdiri.

"Wahai kamu, mulai sekarang, aku akan berusaha melupakanmu."

Wanita itu menyambut hangat tangan lelaki yang sedari tadi memandangnya dengan tatap sendu. Diam-diam berharap melalui doa yang pelik mengenai sesuatu yang masih rancu kebenarannya.

"Udah siap untuk pulang?" tanya lelaki itu.

"Selalu siap. Mulai dari sekarang," ujar wanita itu.

"Apa nanti kamu bakal balik lagi ke sini?" tanya lelaki itu lagi.

"Mungkin? Untuk sesekali barang melepas rindu. Boleh, kan?" tanya wanita itu.

"Apapun untuk kamu. Lagipula, dia pernah hadir di dalam kehidupan kita dan mengambil peran besar dalam ceritanya. Kenapa aku harus melarang?" ujar lelaki itu.

"Terima kasih. Lalu, maafkan aku," ujar wanita itu.

"Aku selalu siap menerima semua tentang-mu, dan mungkin, aku sudah mulai terbiasa dengan semua ini? Lagipula ini perihal hati kamu. Berhak apa aku atas perasaanmu?" Lelaki itu tersenyum.

Wanita itu berdiri, memeluk lelaki tersebut dengan erat. Tak perlu waktu lama bagi lelaki itu untuk membalas pelukan dari wanita di hadapannya. Pelukan yang diharapnya akan setulus pun sehangat si pembalas.

"Hei! Udah siap? Ayo berangkat!" teriak salah seorang sahabat wanita itu.

Wanita itu memandang sendu pepohonan rindang yang menjadi tempatnya berpulang selama beberapa tahun terakhir ini. Beranjak seusai mengucapkan salam perpisahan terakhir, "Sampai jumpa lagi."

Catatan Tanpa JudulWhere stories live. Discover now