Gadis itu menyusuri kembali jalan yang pernah mereka lalui. Mencoba menolak kenyataan yang mau tidak mau harus ia ikuti. Membunuh habis segala mimpi yang satupun tak mampu terealisasi.
Ia melepas alas kaki yang cukup mengganggu langkahnya. Memasukkannya ke dalam ransel lalu berjalan tanpa peduli aspal membakar kakinya.
Baginya, luka ini tak seberapa, tak sebanding dengan hati yang remuk juga air mata yang kini sudah kehilangan bentuk.
Ia terseok saat batu tanpa sadar menabrak jempol kaki. Membuat sang pemilik meringis namun tak berhenti untuk sekedar mengobati.
Gadis itu sudah sejauh ini berjalan. Mengorbankan segala bentuk pengharapan, namun berakhir kekecewaan. Lalu apa yang menjadi alasannya bertahan? Saat apa yang ia perjuangan dengan mudah melepaskan?
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Semoga suka💙 Ambil baik-baiknya saja.
Pembacaku di cerita sebelumnya pasti tahu kalau aku updatenya lama. Semoga di cerita ini enggak:') Ingetin kalau waktunya update.
Salam sayang💙
Ceruk biru.
YOU ARE READING
Evanescent
Teen FictionCerita ini, Adalah bagian hidup yang ingin saya abadikan. Adalah jalan yang saya harap tak menemui persimpangan. Adalah rumah yang kuharap bisa bertahan. Ditengah badai yang ingin menghancurkan. Karena pada awal cerita ini ditulis, kisah ini suda...
