1. Hari Ini Berbeda

163 7 0
                                        

Dua tahun yang lalu, seorang laki-laki—bernama Arja—yang dapat diketahui melalui bordiran nama di seragam putih abunya, berdiri di hadapan papan mading yang sepi. Meskipun sedang istirahat, tetap saja tempat ini tidak terlalu bising karena  letaknya di ujung koridor dekat kamar mandi laki-laki yang sedikit pesing.

Arja tidak melakukan apapun selain membaca puisi mingguan yang tertempel di sana dengan membawa satu botol air mineral dingin di tangan kanannya. Kemudian, tangan kirinya mengeluarkan ponsel lalu membuka kamera dan membidik salah satu puisi yang menurutnya paling bagus di antara yang lain.

Sekarang, Arja dengan kemeja polos biru lautnya yang sudah digulung sampai ke siku, duduk seraya menatap layar ponselnya yang menyala. Aplikasi Instagram tertera di sana dan berhenti pada sebuah unggahan berlatar belakang merah marun yang ditulisi dengan beberapa kalimat. Seketika tangannya membeku dan tidak mampu lagi untuk menggulir ke bawah. Unggahan tersebut ia biarkan seraya pikirannya yang melayang-layang.

Kantin fakultas teknik siang ini ramai dan bising. Namun, tidak ada yang bisa mengalahkan kebisingan dari pikirannya sendiri yang sebenarnya ia juga tidak paham karena apa.

Sampai tepukkan di bahu Arja membuyarkan semuanya. Setengah badannya tersentak ke depan dan dengan waktu yang sama ia refleks mengunci ponselnya.

“Kenapa kaget banget, dah?” ujar Razif—orang yang membuat Arja kaget setengah mati seraya membawa piring berisikan nasi ayam bakar kemudian duduk di kursi sebelah kiri Arja.

Sedangkan, Faiz—yang datang bersama Razif duduk di sebelah kanannya sambil membawa piring dengan menu yang berbeda.

Arja hanya menggeleng sambil membenarkan posisi duduknya dan memasukkan ponsel ke saku celana sebelah kanan. Razif masih menatap Arja dengan dahi mengerut serta alis yang menyatu. Aneh sekali, pikirnya.

Lain cerita dengan Faiz yang tampaknya tidak peduli dengan sekitar selain dengan makanan—yang sekarang sedang ia santap dengan nikmat ditemani satu gelas es teh di meja bundar yang mereka tempati. Ketika Razif menatap Arja kembali yang sedang melamun, ia memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut dan memilih untuk menyusul Faiz—menyantap ayam bakarnya.

Selepas kelas mata kuliah umum yang berakhir tepat pada jam istirahat dan sambil menunggu kelas selanjutnya, mereka bertiga memutuskan untuk pergi ke kantin fakultas karena sedang tidak ingin beradu panas dengan matahari di jalan. Lebih baik saling bersentuhan satu sama lain dengan tangan-tangan yang lain saat antri makanan di kantin. Itu adalah prinsip mereka tetapi untuk hari ini saja. Karena biasanya mereka paling malas untuk berdesak-desakan di kantin, tetapi hari ini berbeda.

-

Mata kuliah statistika lingkungan kali ini berjalan sangat lambat dari biasanya. Arja mendekap kedua tangannya seraya menempelkan punggung ke bangku kuliah dan menatap Pak Bambang—selaku dosen yang mengajar dua mata kuliah di kelasnya, tanpa minat sama sekali.

Padahal, beliau merupakan dosen kesukaan Arja karena cara mengajarnya yang tidak membosankan. Catatan di binder berwarna hitamnya hanya beberapa baris kalimat abstrak—yang Arja yakini tidak bisa dibaca ulang sekalipun dirinya sendiri yang melakukan.

Kesekian kali Razif menatap sobatnya dengan penuh tanda tanya. Faiz yang duduk di sebelah Razif menyenggol lengannya kemudian menggeleng tanpa suara. Seolah-olah ia tahu bahwa daritadi Razif mengamati Arja yang duduknya berjarak sekitar empat anak dari mereka.

“Biarin aja dulu,” ucap Faiz setelah Pak Bambang menutup kelas ini dan berjalan keluar kelas terlebih dahulu.

Razif menghiraukan Faiz kemudian mengeluarkan ponsel dan mengetikkan nama Arja di sana dan menuliskan sebuah pesan.

Razif Tama: Sehat lo?

Kemudian Razif melihat Arja melihat ponselnya dan menatapnya balik seraya mengangkat bahunya. Tanpa membalas pesan dari Razif, ia bergegas ke luar kelas dengan tergesa-gesa. Razif menghela napas kasar kemudian mengajak Faiz untuk ke jurusan karena ada sesuatu yang harus diurus dan Faiz mengiyakan.

Sementara Arja yang tidak ingin menjelaskan mengenai keadaannya sekarang memutuskan untuk ke parkiran fakultas mengambil motornya dan pulang. Bukannya ia tidak ingin menjelaskan, namun, waktunya tidak sekarang.

Nanti, jika sudah saatnya.

Tidak mungkin sekarang karena Arja sendiri tidak tahu apa yang ia rasakan. Yang ia ketahui pasti setelah melihat puisi unggahan Kalya—teman SMA-nya dahulu, nggak bisa dikatakan teman juga karena Arja nggak kenal sebenarnya, tetapi, ya ... pada intinya Kalya merupakan teman bimbel Razif dahulu, ada yang menyentak di dalam dirinya.

Kalau Arja cerita sekarang, pasti yang didapatkan dari Razif hanya koor-koor nggak jelasnya itu. Sedangkan Faiz hanya menatap kami secara heran.

Berbeda dengan Arja dan Razif yang satu sekolah saat SMA, Faiz merupakan teman yang ia kenal pada saat kuliah. Bertemu secara tidak sengaja karena satu kelompok dengan Arja saat OSPEK, sedangkan Razif ketemunya pada saat mereka satu kelas di hari pertama kuliah. Mereka menjadi akrab karena tidak sengaja satu kelompok project tugas pada saat semester satu.

-

aku hanya mampu menatap,
tanpa mampu berucap.
aku hanya mampu melihat,
tanpa mampu memberimu surat.
sampai akhirnya aku sekarat; terjerat; dan kehilangan akal sehat.

ditulis pada saat melihatnya main basket panas-panas di lapangan sekolah.

-
Minggu, 1 Juni 2020.

Tonight, I Wish I Was Your BoyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang