Kamu begitu seenaknya, melakukan apapun yang kamu ingin.
Karena kamu lebih dulu tahu, bahwa aku akan selalu memaafkan.
¤Oliv🍑¤
Senin pagi yang cerah, terlihat gadis cantik memasuki lingkungan sekolah nya seorang diri menelusuri lorong koridor yang masih terlihat sepi, jam menunjukkan pukul 06:40 pagi.
Ia menelusuri lorong koridor sekolahnya dengan suasana tenang sambil sesekali menghirup banyak-banyak udara segar.
Tak lama pun sahabat nya itu muncul menyerukan namanya.
Sebisa mungkin ia pura-pura tidak mendengarnya walaupun ia tidak bisa berbohong kalau sejak tadi ia telah menunggu kehadirannya.
"Demi cacing yang bersarang di black hole. Apa lagi yang diinginkan manusia lincah ini. Harus drama kejar-kejaran. Terlalu pagi sudah berteriak sebegitu nyaring, seperti ibu penjual sayur komplek perumahan." umpatan dalam hati Pia.
Pia yang telah menyadari kehadiran Erly. Panggilan akrab nya begitu. Menurutnya terlalu indah, jika ia memanggil dengan nama aslinya,
Sherly Kirana Vemoca.
"Piaa!!! Tunggu saya!!" seruan seorang gadis yang tak lain sahabat Pia sejak Taman Kanak-kanak.
"Pura-pura tak mendengar atau kau memang benar-benar tuli! Dipanggil malah makin cepat jalannya!" amarah Erly kian memuncak, kala ia berusaha menyejajarkan langkah kakinya, namun Pia malah diam-diam mempercepat langkah kaki nya.
"Tidak waras!! Kau benar-benar menguji kesabaran!" dengan kekesalan yang telah mencapai puncak, ia melepas earphone di kedua telinga Pia.
Gadis itu hanya menatap Erly datar "Ada apa? Kembalikan, cepat." balas Pia terpancing emosi.
"Ada satu syarat, pelankan cara berjalan mu. Bisa?!" teriak Erly melihat wajah datar Pia yang tak berniat menjawab ucapannya.
"Bisa." jawab Pia sambil menerima earphone kemudian, memasang nya kembali.
Meneruskan perjalanan di koridor SMA Bintang Raya dan hanyut dalam fikiran mereka yang mengasyikkan.
Tatkala itu, ketenangan yang didapatkan dua orang gadis yang sama-sama cantik itu hilang, sesaat segerombolan gadis yang terkenal dengan "penyebar berita tak sedap" nomor satu di SMA Bintang Raya menutupi jalan mereka.
Terlihat mereka tengah membicarakan salah satu murid yang sederhana nan apa ada nya.
Olivia Caroline.
"Perhatikan gadis aneh ini. Sudah bisu, penampilan urak-urakan, dan tak ada teman. Benar kan?" ucap Sabrina memulai celotehan kosong.
Gadis berambut hitam yang di cat biru di ujung hitam rambutnya, kemudian semuanya menyahuti berikut tertawa sinis.
"Good job! Tidak heran, jika Ia tak punya teman di sekolah, senyum saja dia sungkan. Kulit putih pucat sudah seperti vampire di novel fiksi." ejek yang lain.
"Memang kalian tidak mengetahui nya, dia sering keluar masuk ruangan Bimbingan Konseling? Dia pelaku dibalik dalang pemberi efek jera untuk anak- anak yang mengusik nya." ucap Azka, dengan sedikit rasa takut melirik Oliv yang tengah melewati mereka.
Ia hanya melirik Azka sebagai jawaban nya.
"Tak perlu gusar, lagian ketua kita yang satu ini akan habis-habisan mengerjai nya esok hari." ujar yang lain.
YOU ARE READING
Gorgeously Stone
Teen FictionPersis, isi kepala riuh yg ingin bertemu 'kematian' setiap malam hampir 3 bulan. Tak diinginkan, bukan? Jangan sampai Tuhan. Tak bisa dicegah, bahkan kewalahan. Tapi kenyataan. 🍑Selamat membaca!
