Chapter 1

6 1 0
                                        

Hampir tiga bulan Nauzi mengurung diri di kamar. Kegiatannya yang dilakukan di luar kamar hanya mandi dan mencari cemilan, pun tidak ia lakukan setiap hari. Uzi, panggilan sayang dari keluarga, pergi mandi kalau ia merasa baju yang dikenakan sudah terkontaminasi wewangian lain. Bisa hampir empat hari atau bahkan satu minggu.

Pemuda 22 tahun itu terperanjat dari mimpi di pagi harinya. Suara gedoran pintu dari luar terbawa sampai mimpi.

"Astaghfirullahalazim, kebiasaan," runtuknya.

Ia sempat melirik beker diatas lemarinya, sebelum kembali menarik selimut lusuh yang sejak pertama dibeli belum pernah menyentuh air apalagi detergen. Beberapa detik setelah berhasil mengayam bulu matanya, ia kembali bangun seketika. Suara yang menggedor pintu semakin keras. Macam ibu kost yang mau nagih karena nunggak 12 bulan.

Dengan gontai ia melangkahkan kaki nya dari tempat pertapaannya. Ia mengedarkan pandangan di setiap sudut ruangan yang dilewati. Tak ada orang di rumah. Sebelum membuka pintu, ia mengintip di balik gorden tipis. Ada seorang wanita agak besar membelakangi pintu. Wanita itu tampak gusar. Sepertinya ada tujuan penting, sampai-sampai menggedor pintu seperti kesetanan.

"Cari siapa, teh? Di rumah gak ada orang. Cuma ada saya," ujarnya setelah membuka pintu dengan sempurna.

Wanita itu membalikkan badan saat mendengar sang pemilik rumah akhirnya membuka pintu. Ia tersenyum ramah, namun ada penyesalan di balik senyumnya. Ia tanpa canggung menarik tangan lelaki di hadapannya. Punggung tangan lelaki itu ia letakkan di dahinya. Seperti murid yang bersalaman pada sang guru.

"Saya minta maaf, mas. Saya siap mendapatkan perlakuan hukum yang setimpal. Maafkan saya, mas," ujarnya.

Lelaki yang dimintai maafnya itu terus menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tanpa melepaskan tangannya dari wanita itu, ia mendongkangkan kepala ke dalam rumah. Mencari jam terdekat. Seingatnya tadi saat di kamar masih pukul enam pagi. Masih pagi buta baginya, tapi tiba-tiba ada seorang gadis meminta maaf. Tanpa ia tahu kesalahannya.

"Eh, teh, ini udah, tangannya, saya bukan guru, gak usah salim kayak gini," ujarnya salah tingkah.

"Teteh sendirian? Yu masuk dulu, di rumah gak ada siapa-siapa. Tapi percaya, saya cowok baik-baik. Ngobrolnya di dalam aja, jelasin ke saya. Saya linglung teh, tadi pas teteh gegedor(* saya masih tidur pules. Astaghfirullah teteh ini bikin saya kaget aja," jelasnya.

Tanpa rasa canggung ia menarik lengan wanita itu untuk mengikutinya masuk lalu menyuruhnya duduk di ruang tamu. Sementara ia pergi ke dapur mengambil minum dan beberapa cemilan, wanita yang menunggunya di ruang tamu memperhatikan setiap gambar yang ada di ruangan sederhana itu.

"Sok, teh, gimana ceritanya. Ini, silahkan, seadanya aja," ucapnya.

Bukannya mulai bercerita. Wanita yang belum memperkenalkan diri itu malah menunduk dan menghembuskan nafasnya. Sesekali ia menggosokkan kedua telapak tangannya yang tidak butuh kehangatan.

Uzi menunggu respon wanita itu malah kebingungan melihatnya. Ia seperti sedang gugup atau ketakutan. Berulang kali Uzi melirik jam, bergumam dalam hati, menyesal membukakan pintu untuk wanita yang tidak jelas seperti ini.

"Teh?" sapa Uzi membuka suara.

"Eh, maaf, mas, boleh saya minum dulu?" izin wanita itu yang langsung meminum air putih yang Uzi sajikan.

"Mas, namanya siapa?" tanya wanita itu.

"Uzi. Teteh ada keperluan apa? Ke siapa? Saya masih ada hal yang harus diselesaikan, teh. Kalau teteh ke sini cuma mau minta maaf, sudah saya maafkan. Yang jadi masalah ini di rumah hanya ada saya. Kakak saya mungkin udah pergi kerja, ibu saya ke pasar, ayah saya juga udah kerja, ponakan saya pasti udah di rumah pengasuhnya. Kalau nanti diantara mereka ada yang nanya tentang teteh, saya harus jelaskan bagaimana kalau teteh nya gak ngomong apapun?" jelasnya.

"Saya, Frasy. Frasyfa Raedita. Saya baru di komplek ini mas. Rumah saya di gang paling kanan dekat rumah Pak RW," cerita wanita itu.

Uzi manggut-manggut mendengar ceritanya. "Ada tetangga baru aja, gak ngeuh, udah betah banget semedi di kamar," batinnya.

"Tadi pas saya berangkat ke kampus, motor saya.... nyerempet, anak kecil....."

"Terpental, terperosok ke got jalanan itu," jelasnya dengan susah payah. Ada linangan air mata dalam mata indahnya.

Pikiran Uzi langsung tertuju pada Soni, keponakannya yang masih empat tahun. Anak kecil itu masih susah diatur agar bisa diam. Soni sangat hyperaktif.

"Lalu dimana anak itu sekarang?" tanya Uzi dengan suara agak meninggi.

"Di klinik, mas," jawabnya.

Uzi segera beranjak bergegas mengambil helm dan kunci motornya. Sampai-sampai ia lupa bahwa ada Frasy yang memperhatikannya di kursi ruang tamu. Sebetulnya Frasy belum selesai bercerita, namun kepanikan Uzi  langsung membuat Frasy bungkam dan hanya bisa menunggu pemuda itu selesai dengan kegiatannya untuk bisa melanjutkan cerita yang menggantung.

"Ayo, teh, saya mau ke klinik, teteh mau duduk di situ aja?" tanya Uzi.

"Tapi, mas, kayaknya anak kecil itu bukan keponakannya mas Uzi. Sepertinya saya salah rumah. Pas mas Uzi tadi ke dapur bawain saya minum, saya merhatiin foto anak kecil itu, dan anak yang jd korban itu, bukan anak yang ada di foto itu, mas," jelas Frasy pelan-pelan.

Frasy merasa malu karena ia salah memasuki rumah untuk meminta maaf atas kecerobohannya. Karena keadaan saat itu sangat kacau, ia hanya meminta petunjuk pada orang-orang yang menjadi saksi kecelakaan kecil itu. Sekaligus ia merasa tambah bersalah telah membangunkan orang yang masih tidur dan diganggu waktunya.

Uzi menganga ditempatnya. Tidak percaya ada perempuan seabsurd Frasy. Tapi Uzi tidak percaya begitu saja. Ia kekeh mengajak Frasy untuk pergi ke klinik, melihat korban anak kecil yang dimaksud.

"Adeuh, si aa udah bangun masih subuh," celoteh Ceu Nani yang setia menuntun Soni keliling komplek tiap pagi.

Reflek Uzi menoleh ke sumber suara, meskipun sudah cukup jauh dari depan rumahnya. Uzi langsung mengejar Ceu Nani memastikan yang dituntunnya itu memang keponakannya yang paling aktif juga menyebalkan.

"Yeh, kenapa si aa teh?" tanya Ceu Nani, "aa yang di rumah itu kabogoh(* na?" lanjutnya.

Uzi menggelengkan kepala dan segera berlalu untuk kembali ke rumah menemui Frasy. Ternyata Frasy masih mematung depan rumahnya. Tampak perasaan yang sangat bersalah terpancar dari wajah chubby Frasy.

"Ponakan saya, aman, teh," ujar Uzi.

Ia lalu menghembuskan nafas kasar. Mempersilahkan Frasy untuk pergi dari rumahnya dengan sangat sopan. Karena ia rasa memang sudah tidak ada kepentingan apapun Frasy di rumahnya.

"Mas Uzi, saya sangat meminta maaf atas kecerobohan saya. Sekali lagi, maaf, mas," ucapnya sangat lirih.

Tanpa suara, Uzi mengangguk membalas permintaan maaf Frasy. Ia mengacak kasar rambutnya ketika telah sampai di tempat pertapaan ternyamannya.

"Kalau aja cantik, gue tahan-tahan di rumah, kan lumayan ada yang nemenin bincang pagi sambil ngupi," gumamnya sebelum kembali melanjutkan kegiatan pentingnya yang tertunda cukup lama.

-----------------------------------------------------------------
(* gegedor: mengetuk-ngetuk pintu
(* kabogoh: pacar

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: May 26, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

GAUN SANG IBUNDAWhere stories live. Discover now