Androphobia

74 9 9
                                        

Arallyn Citra

Dan

Jiano Atlanta

Gue membuka mulut lebar-lebar. Kemudian

Ribet

Desis gue pelan banget.

Dua nama yang terpampang di mading sekolah disertai foto itu membuat siswi di sekolah gue, SMA Cakrawala berteriak histeris. Mereka menatap tidak percaya pada foto yang menunjukkan sepasang human sedang melancarkan adu jotosnya. Lebih tepat nya foto gue sama si songong Jian.

"Sudah kuduga." pekik seorang cewek disamping gue. Gue menatap cewek itu sekilas kemudian kembali memelototi foto di mading.

"Kenapa lo hajar, Jian? Gak takut dikeluarin di sekolah lo?"

"Gak!"

Manda memutar bola malas mendengar jawaban gue.

"Dia yang punya sekolah. Kalau lo lupa."

Gue males dengar omongan Manda. Walau dia gak ngingetin, gue juga tahu kali kalau Jian itu anak dari yang punya sekolah. Mungkin itu termasuk motivasi Jian buat seenaknya di sekolah. Si sombong itu tidak segan membully siswa yang membuatnya pantas untuk di Bully. Gue mendesis. Ribet emang.

"Seenggaknya lo udah bikin dia di rumah sakit." Manda tertawa keras.

"Manda kelas kuy."

Gue menarik tangan Manda. Enek lama-lama liat cewek-ceweknya si Jian melototin gue. Maksud gue Fansnya. Masa iya cewek seabrek itu pacarnya si sombong. Banyak pacar juga ngeribetin.

"Kuy lah."

"Gue heran kenapa tuh foto ada di mading. Ribet amat." gue mendengus. Malas membalas pernyataan Manda. Lagian dia nggak bertanya jadi gue gak wajib buat ngejawabnya.

"Lagian lo kenapa pukul Jian?" Manda tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Dia menatap lekat gue.

"Lagian dia mau noel pipi gue, Automacally tangan gue mendarat di pipi nya. Jadi, gue gak sengaja pukul dia. Ribet si Jian."

"Oi, Ndro!"

Rian menghadang gue dan Manda.
Tidak memberikan akses untuk kami jalan.

"Ndro, lo kenapa berantem sama si Jian?"

"Bukan urusan lo! Minggir sebelum gue hajar lo juga." Ara mendengus. Sembari melanjuntkan jalannya saat Rian sudah menyingkir.

"Lo yang penyakitam, kita yang rugi! Nyesel gue punya temen aneh kek elu, Ndro!"

Ara berhenti berjalan sebelum membalikkan badannya.

"Seenggaknya penyakit gue berguna buat ngehajar kaum belangsak kek elu!"

Gue menunjuk muka Rian dan menatapnya sinis. Sumpah enek banget liat muka dia yang belangsak itu. Kalau lama-lama disana, bukan lagi tonjokan yang dia dapatkan tapi juga semua isi perut gue beserta cacing-cacingnya. Deket-deket cowok macam Rian perut gue gampang berkontraksi. Dan pengen muntah.

Lo ... ribetWhere stories live. Discover now