Apa yang kau rasakan ketika orang yang kau perjuangkan menganggap dirimu munafik hanya disebabkan oleh perasaan yang terpendam?
Apa jadinya jika kau mencintai seseorang dengan tulus, tapi dia lah yang membuat harapanmu pupus?
Engkau, lelaki dengan sejuta kehangatan, lelaki dengan renyahnya canda tawa, namun semua itu hilang jika aku berada. Tak apa, setidaknya aku masih bisa melihat kehangatanmu, walau dinginmu hanya menghakimi diriku.
Iya, inilah kita! Saling berjuang dan mencintai. Saling mengutarakan rasa tulus untuk sebuah hati dan berharap bahwa hati itu akan memberikan ruang. Kita memang saling mencintai, tapi bedanya adalah aku mencintaimu dan kau mencintainya. Istimewa bukan? Tentu saja!
Ingin berhenti, namun pikiran dan hati tidak searah. Ingin melupakan, tapi kau selalu datang membawa harapan. Sudah merelakan, tapi rasa ini tidak bisa dituntaskan. Aku pun tak tau kenapa cinta ini begitu dalam. Dan aku pun tak mengerti mengapa mencintaimu harus sesakit ini.
Kau tau tentang rasa yang aku pendam, kau mengerti apa yang aku harapkan, dan kau pun tau bahwa aku ingin cinta ini terbalaskan. Tapi kau tidak peduli sedikitpun. Semakin berusaha aku kejar semakin cepat kau menghindar.
Terima kasih, karena mu aku tau bagaimana merasakan tulus yang diabaikan, cinta yang tak terbalaskan, menunggu untuk dicintai tapi nyatanya dianggap pun tidak.
Terima kasih, karena mu aku bisa mengenal luka sedalam ini. Karena mu aku tau bagaimana merasakan pahitnya cinta, memberikan perasaan kepada seseorang seutuhnya lalu dihempaskan seutuhnya juga. Karena mu aku tau, bahwa tidak setiap orang pantas untuk diperjuangkan.
Maaf jika cinta ini membuatmu terganggu, maaf jika aku mengharapkanmu setinggi itu, maaf karena pernah mengganggu hatimu yang sudah terisi namanya. Dan maaf jika aku mencintaimu terlalu lama.
Aku, perempuan yang kau anggap paling hina, meminta izin untuk mencintaimu selamanya.
- Nayara Grizelle Freya
***
Nayara POV
Seseorang mengajakku untuk berkunjung ke suatu tempat, ia ingin menunjukkan tempat yang katanya berhubungan dengan apa yang akan aku alami. Entahlah, ia membawaku pada tebing sangat curam yang saling berhadapan. Saking curamnya, aku sampai tak bisa melihat permukaan bawah tebing itu. Satu lagi, tempat ini sangat sepi dan tak ada tanda-tanda kehidupan.
Terdapat jembatan usang di antara tebing curam tersebut. Titi jembatan iti sudah sangat usang, kayu-kayu yang menjadi pijakannya sudah rapuh dan tak tersisa satu kayu yang utuh. Tapi... tunggu! Bukannya tempat ini tidak berpenghuni? Lalu, kenapa bisa ada jembatan?
Aku mengedarkan pandangan seraya mengusap-usap bulu kudukku yang meremang, tanpa ada pikiran negatif sedikitpun aku mengikuti apa yang ingin dia tunjukkan.
"Lo tau tempat ini gak?" tanyanya membuka suara.
Aku menggelengkan kepala tidak mengerti. Tak ada angin, tak ada panas, hanya ada jembatan gantung usang yang terdapat di sela-sela tebing. Memangnya apa hubungannya dengan kehidupanku?
"Enggak, btw kenapa tempat ini aneh banget sih, Ral? Emangnya buat apa kita jauh-jauh ke sini? Sepi banget ih, serem," ujarku.
Dia tersenyum hangat, menyiratkan ketenangan. "Tempat ini bukan tempat biasa, dia menyiratkan sebuah arti. Hanya orang tertentu yang bisa menafsirkan arti itu. Tapi lo harus tau, tempat ini menjadi lambang dalam dunia yang akan melibatkan hati dan pikiran lo," ujarnya tampak serius.
ESTÁS LEYENDO
The Painful Hurt (PUBLISH ULANG)
Novela JuvenilLuka sebelum memiliki, cemburu pada hati yang telah terisi, serta harapan semu yang selalu terukirkan. Ini lah yang Nayara rasakan. Selalu memendam pahitnya luka yang ia nikmati seorang diri. Perjuangan yang hanya menghasilkan angan-angan, posisi y...
