Simpul dasi itu kembali melenceng.
Caroline menangkapnya tepat ketika hendak membubuhkan tanda tangan pada halaman terakhir sebuah kontrak. Ujung penanya menggantung beberapa saat di atas kertas. Pandangannya beralih kepada Ian yang berdiri tak jauh darinya, masih tenggelam dalam laporan keuangan di layar tablet, sama sekali tidak menyadari bahwa simpul dasinya bergeser beberapa senti dari posisi semestinya.
Ia sempat berniat mengabaikan saja. Namun niat itu menguap begitu saja.
Caroline menutup map di hadapannya, lalu berjalan menghampiri Ian tanpa suara. Jarak di antara mereka menyusut hingga hanya tersisa beberapa langkah.
“Jangan bergerak,” ucap Caroline pelan.
Ian mengangkat pandangan dari tabletnya. Tatapan mereka bertemu sesaat sebelum Caroline lebih dulu mengangkat kedua tangan, melonggarkan simpul dasi itu dengan gerakan yang sudah terlalu akrab untuk terasa canggung. Jemarinya bekerja cekatan, merapikan setiap lipatan kain seolah telah melakukannya berkali-kali.
Ian tidak berkata apa-apa. Ia hanya menundukkan wajah sedikit agar Caroline lebih mudah menjangkau kerah kemejanya.
“Kau tahu,” gumam Caroline sambil merapikan bagian terakhir dasinya, “kalau ini mulai terasa seperti pekerjaan sampingan.”
“Aku tidak pernah memintamu melakukannya,” balas Ian tenang.
“Benar.” Caroline mengangkat wajah, menatapnya datar. “Masalahnya, aku juga tidak bisa membiarkanmu keluar rumah dengan penampilan seperti itu.”
Sudut bibir Ian terangkat tipis. “Jadi ini murni karena rasa iba?”
“Karena harga saham perusahaan bisa turun kalau CEO-nya tidak bisa mengikat dasi.”
Ian terkekeh lirih.
Caroline baru menyadari suara itu setelah tangannya terlanjur menarik diri. Ia menatap Ian sejenak, seolah memastikan bahwa yang didengarnya barusan memang tawa.
“Kau baru saja menertawakanku?” tanyanya sambil mengernyit tipis.
“Sedikit,” aku Ian tanpa berusaha menyangkal.
“Aku akan menganggap itu sebuah kemajuan.”
“Maksudmu?”
“Biasanya kau hanya menatap orang sampai mereka merasa bersalah.”
Ian menyelipkan kedua tangan ke dalam saku celana. “Itu lebih efektif.”
“Jika tertawa… kau terlihat seperti manusia biasa,” sahut Caroline ringan.
“Is that a compliment?”
“Terserah kau mau mengartikannya bagaimana.”
Hening kembali mengambil alih. Bukan keheningan yang menuntut seseorang untuk segera berbicara, melainkan jeda yang terasa wajar di antara dua orang yang telah terlalu lama berbagi rutinitas yang sama.
Ponsel Ian bergetar di atas meja.
Nama Ezra Marcus muncul di layar.
Ian segera menjawab panggilan itu. “What is it?” ujarnya singkat.
Caroline tidak berusaha mendengarkan, tetapi beberapa potong kalimat tetap sampai ke telinganya.
“Pindahkan ke pukul sebelas.”
Ian berhenti sejenak, mendengarkan sesuatu dari seberang.
“Kalau mereka tidak bisa menunggu, batalkan saja.”
Ian mengakhiri panggilan, lalu meletakkan ponselnya kembali.
“Investor?” tanya Caroline seraya kembali ke kursinya.
YOU ARE READING
The Consigliere's Wife
RomanceLima bulan setelah pernikahan kontrak mereka dimulai, Caroline Bercosky masih menghitung hari menuju perceraian. Saat sebuah skandal mengancam menghancurkan kariernya sebagai lawyer, Ian Christopher datang menawarkan perlindungan, kekuasaan, dan jal...
