ACEVA

207 37 27
                                        

"Tidak ada yang bisa meruntuhkan perasaan. Bahkan saat kau terlelap dalam tidurmu pun, aku masih saja ada disana."

༻♡༺

Di kegelapan malam dimana tidak ada cahaya lampu yang menyala, seorang gadis meringkuk menyusuri ruangan ber abu yang berada satu lantai tepat di atas kamarnya. Ruangan ini begitu gelap, hanya ada seberkas cahaya bulan dan bintang-bintang yang menyelinap melalui celah-celah kecil di atas jendela.

Ruangan ini penuh sesak, dia bahkan merasa sulit untuk mendapat udara segar.

DUG

Tiba-tiba ditengah keingintahuannya, kakinya menendang sesuatu sehingga membuat nya meringis kesakitan. Tanpa berpikir panjang langsung saja tangannya meraba ke sekitar mencari tahu apa yang telah mengenai kakinya barusan. Dari yang telah dia rasakan, itu seperti sebuah kotak yang berukuran selebar buku tulis. Baiklah dia semakin penasaran.

Gadis itu mulai berdiri sembari berpikir.
'Kalau enggak salah ada jendela disini?' batinnya dalam hati. Dia kembali menyusuri ruangan dengan sangat berhati-hati takut orang tuanya terbangun karena suara yang dia perbuat.

'Oh, ini dia! ' setelah bergembira ria tangannya dengan sigap menarik kunci jendela itu ke atas kemudian mendorong nya dengan kedua tangannya sampai cahaya masuk menyinari ruangan itu.

Sejenak gadis berpiyama pink itu tertegun. Indah sekali. Sejauh mata memandang yang langsung terlihat dari jendela ini adalah laut hitam yang luas namun di atasnya terlihat bintang dan bulan yang memantul di atas air. Itu semua bagaikan bayangan yang memantul di sebuah kaca. Tidak salah juga Ayah dan Ibunya memilih tinggal di tempat seperti ini.

"Okay, aku harus cepat."

Ia memutar tubuhnya kearah kotak yang ada dibelakang sana. Kotak itu terasa aneh, bukan kotak dari kardus atau pun kotak biasa yang sering dia lihat selama ini. Kotak ini sangat indah, berwarna putih dengan ukiran halus diatasnya.

"Sepertinya aku tahu deh kotak ini, tapi dimana ya?" pikirannya berkecamuk ditengah hembusan angin malam yang dingin karena dia berada di dekat laut. Rambut panjangnya yang hitam ikut menari mengikuti sang angin.

Disaat yang bersamaan matanya tertuju pada satu tulisan yang berada diatas kotak putih itu. Aceva.

Dahinya mengernyit keheranan setelah membacanya. Nama itu sama dengan nama awalnya, Aceva Athanasia. Gadis berponi selamat datang itu langsung menggeleng dengan cepat.

"Ini pasti bukan aku. Mungkin saja dulu ada orang yang bernama Aceva di rumah ini, kan." Walau sebenarnya Aceva tahu kalau rumah ini belum ada yang menempati karena area ini adalah komplek rumah yang baru saja dibangun.

Glek.

Dia menelan saliva nya dengan ragu. Kepalanya menyusuri ruangan dengan perlahan, melihat semua barang-barang yang ditutup dengan rapi diruangan kecil itu.

"Siapa sih yang menaruh barang-barang ini disini? Kalau ini memang kiriman barang untuk kami, kenapa aku enggak di kasih tahu? Mama dan Ayah jahat dong."

Aceva kini menutup rasa keingintahuannya.
Mamanya bilang barang-barang mereka banyak yang diberikan untuk disumbang, jadi mereka saat ini memakai beberapa perabotan lama dan barang-barang yang baru saja dibeli di toko peralatan di kota ini. Tapi daripada itu Aceva merasa matanya sudah berair saking ngantuknya. Pasalnya, dia sengaja tidak tidur untuk memeriksa ruangan kecil yang baru saja dia temukan tadi sore.

"Padahal Mama bilang enggak ada apa-apa dirumah ini." Setelah berkata demikian, Aceva segera membawa kotak putih itu didalam pelukannya kemudian berlari keluar dan menutup pintunya. Dia sengaja tidak menutup jendela yang tadinya dia buka, dia pikir tidak seharusnya ruangan itu begitu berabu kalau baru saja dibangun, jadi untuk membersihkan udaranya, Aceva sengaja meninggalkan ruangan itu dengan jendela yang terbuka dengan lebar. Sesampainya dikamar, langsung saja disimpannya kotak putih itu didalam laci di samping tempat tidur, kemudian dengan cepat menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut. Suatu saat nanti dia akan memeriksa ruangan itu lagi.

*

Pagi ini matahari bersinar sangat terang melalui jendela kaca yang ditutupi gorden berwarna putih. Walau telah ditutup dengan gorden pun sinar matahari tetap bisa menembus kelopak mata Aceva yang saat ini masih terpejam.

"Ceva... Ayo turun! mau sampai jam berapa kamu tidur?"

Itu suara Mama. Walau berteriak dari bawah pun, suaranya tetap menggelegar sampai keatas. Aceva meringis dan menutup kepalanya menggunakan selimut, dia tidak ingin bangun dan sarapan. Tadi malam kalau tidak salah Aceva melirik jam dinding yang ada di kamarnya sebelum tidur dan saat itu sudah pukul dua pagi. Jadi untuk sekedar membuka mata saja pun rasanya terlalu berat.

"Aceva? kamu enggak sekolah? cepat sarapan nanti kesiangan loh!"suara Mama kembali terdengar memenuhi ruangan.

Aceva terdiam sebentar. Sejak kapan ada murid yang bersekolah dihari libur begini?

"Ini kan hari minggu Ma, mana mungkin Ceva pergi ke sekolah, teman Ceva siapa coba?" jawab Aceva tidak kalah berteriak menjawab pertanyaan dari Ibunya.

Mama pun tersenyum. "Oh sudah bangun rupanya, ayo kebawah bantu Mama? cepat ya!"

Langsung saja Aceva terdiam mematung di tempat tidur. Matanya terbuka melihat langit-langit kamar tanpa berkedip sekalipun. Selalu seperti ini, Aceva akui Mamanya adalah orang yang paling cerdik sepanjang masa. Titik.

.
.
.
.
Salam hangat :)

TREEVA (On going) Where stories live. Discover now