Nicho mahasiswa yang baru saja pindah ke jurusan arsitektur menyita perhatian Tasya. Ia bingung dengan sikapnya yang dingin dan tak ingin dekat dengan siapapun.
Tasya mencoba menjadikannya teman namun perasaannya malah ingin untuk menyukainya. Nich...
Nicho berjalan menuju ke bangku barisan belakang untuk menempati posisinya lebih dulu. Sudah kesehariannya untuk memilih kursi paling belakang kelas sebagai tempat duduk favorit. Ia tak menyukai jika harus duduk di antara banyak siswa, karena hanya dapat mengganggu aktivitasnya.
"Gue boleh duduk disini?" tanya Tasya.
Nicho langsung menaruh tas ke kursi di sebelah kanannya.
"Nggak,"
"Kenapa?" tanya Tasya heran. Beberapa hari ini ia tidak masuk kuliah dan hari ini adalah hari pertamanya bertemu dengan Nicho di jurusannya. Mungkin dia adalah murid pindahan dari jurusan lain.
"Gue sukanya sendiri," jawabnya singkat.
"Owh, sorry," Tasya pergi mencari tempat duduk lain di deretan belakang, karena ia paling malas jika harus duduk di deretan depan.
Tasya memilih tempat duduk di barisan bawah Nicho yang berjarak 3 orang disebelahnya. Tasya bisa melihat Nicho dari tempat duduknya, ia rasa Nicho memang bukan tipe orang yang menyukai keramaian.
"Manis," batin Tasya dengan memandangi Nicho. Nicho melihat ke arah Tasya balik dan menaikkan satu alisnya.