01

20 6 0
                                        

"Vava! Bangun nak!" teriak seorang wanita dari luar sana. Ia adalah Marshanda, Bunda Vava.

"Nghhh.. iya bun!" teriak Vava dari dalam kamar. Dengan terpaksa, gadis itu membuka matanya perlahan.

Cklek

"Sayang, bangun nak. Udah jam berapa sekarang. Kamu kan harus sekolah," kata Marshanda saat masuk di kamar Vava.
"Mmm.. iya bun. Vava bangun nih," katanya sambil mengucek matanya.

"Buruan ya. Bangun loh. Jangan tidur lagi."
"Hmm.. iya bun.."

Marshanda segera meninggalkan kamar Vava. Dan Vava segera menuju kamar mandi untuk mandi dan bersiap ke sekolah.

Setelah berpakaian rapi, Vava segera keluar dari kamar untuk sarapan.

"Pagi, Yah, Bun." sapa Vava.
"Pagi juga Sayang," ucap keduanya.

Setelah selesai sarapan, Vava segera mengambil kunci motornya.

"Yah, Bun, Vava berangkat dulu," pamit Vava pada Marcel dan Marshanda.
"Iya Sayang. Hati2 ya," -Marshanda.
"Iya bun. Assalamualaikum!" teriaknya dari luar.
"Waalaikumsalam!" jawab Marcel dan Marshanda.

"Bun, ayah berangkat dulu ya."
"Iya ayah. Hati2 di jalan," kata Marshanda sambil mencium punggung tangan Marcel.
"Iya bunda Sayang," ucap Marcel sambil mencium kening Marshanda.
"Assalamualaikum bunda."
"Waalaikumsalam ayah."

###

Sesampainya di sekolah dan memarkirkan motornya, Vava segera menuju kelasnya, XI IPA 3. Saat melewati lorong menuju kelas, Vava langsung mendapat tatapan kagum dari kaum adam. Merasa risih, Vava mempercapat jalannya agar dirinya segera sampai di kelas.

Sesampainya di kelas, Vava segera menutup pintu kelasnya dengan kasar. Semua orang yang ada di kelas segera menengok ke sumber suara. Ada yang menatapnya sebal karena terkejut.

Vava yang mendapat tatapan seperti itu, membalasnya dengan tatapan sinis.

"Va, lo kenapa sih dateng2 langsung kusut tu muka. Dah disetrika belom?" ucap Risa ngawur.

Vava membanting tasnya ke atas meja.

"Sebel banget gue. Masa, di sepanjang koridor gue diliatin sama cowok2. Emang gue pemandangan apa diliatin," ucapnya jengkel.

Risa yang melihat sahabatnya mulai emosi, ia segera angkat suara.

"Hm.. kalo menurut gue sih, lo wajar ya diliatin sama mereka. Karna kan, lo itu cantik, kalem, putih. Apalagi lo gak pernah jatuh cinta," kata Risa panjang. Gak lebar sih.

Vava mengernyitkan dahinya. "Maksud lo? Apa hubungannya coba?"
"Ya.. lo kan jadi langka dimata cowok2, karena lo gak pernah suka dan jatuh cinta sama sekali sama kaum adam."

Mendengar itu, Vava memutar bola matanya malas. Pagi2 sudah membuatnya frustasi.

"Va," panggil Risa.
"Hm."
"Lo tau gak?"
"Gak."
"Yeee.. gue belom selesai ngomong juga."
"Iya. Lanjutin."
"Katanya di kelas XI IPS 2 lebih tepatnya kelas sebelah bakal- "

Tringtringtring

Ucapan Risa terpotong karena bel masuk sudah berbunyi.

Vava yang tidak penasaran sama sekali apa yang diucapkan Risa, ia hanya diam saja.

"Nah, mumpung Bu Indah belom dateng, gue lanjutin ya," kata Risa.
Vava hanya diam saja. Dan Risa belum sempat melanjutkan ceritanya, Bu Indah datang dengan membawa tumpukan kertas.

"Anjirr! Ulangan dadakan! Gue belom belajar woyy!" ucap Risa panik.

Vava hanya diam saja. Karena semalam ia sudah belajar.

"Va! Lo kok diem sih? Lo gak panik apa ada ulangan dadakan?" tanya Risa.
"Gak. Semalem gue udah belajar," ucap Vava datar.
"Kok lo gak bilang sih sama gue? Kan semalem gue bisa belajar."
"Mana gue tau kalo sekarang ulangan dadakan."
Risa mendengus kesal.

Bu Indah segera membagikan soal ulangan fisika.

###


Tringtringtring

Bel istirahat berbunyi sebanyak 3 kali. Para siswa siswi berhamburan menuju surga dunia mereka. Kantin, bukan surga yang di atas ya :)

"Ngantin kuy," ajak Risa.
"Gue nitip aja deh," kata Vava yang sudah malas jika mendengar kata 'kantin'.
"Ogah." jawab Risa dengan tekanan.
Vava menatap sahabatnya itu dengan sinis. Sedangkan, sang empu yang dilirik seperti itu hanya biasa saja. Karena ia sudah terbiasa.

"Ngapa lo ngeliatin gue sinis? Gak bakal ngaruh. Gue gak sebodoh itu ya. Walaupun lo liatin gue sinis, gue gak bakalan luluh. Gak mempan lirikan sinis lo itu tertuju ke gue."
"Apaan sih lo." kata Vava yang hari ini dibuat kesal.
"Ikut gak? Kalo gak yaudah. Jangan salahin gue ntar kalo lo laper. Bye."

Vava bingung harus ikut atau tidak. Jika ia ikut, pasti akan mendapat tatapan dari para cowok2. Jika ia tidak ikut, pasti ia akan kelaparan.

"Gue ikut," ucap Vava akhirnya.
Risa tersenyum penuh kemenangan. "Kuyy lahh."

###

Di vote and comment yukk 😊
Biar author semangat nulisnya 😝
Jangan cuman dibaca doang.. di vote jg dong 🙃👉👈
Biar author sering update :)

Single is CalmWhere stories live. Discover now