Prolog.
Semua murid berhamburan menuju kantin. Sedangkan, dua orang gadis ini masih duduk manis di bangkunya. Aerin tampak senang, terbukti dari raut wajahnya yang terlihat berseri. Bukan, ia bukan senang karena mendapat hadiah, atau mendapat nilai yang bagus, apalagi memikirkan cogan cogan sekolahnya yang ia kagumi. Aerin senang karena pelajaran Matematika hari ini tidak ada PR, jadi ia bisa melakukan hobynya yaitu meng-scroll handpone tidak jelas.
Aerin, murid kelas sepuluh IPA 2 ini baru saja menyelesaikan Masa Orientasi Siswa yang biasa dilakukan oleh siswa baru beberapa minggu yang lalu. Ia sudah mendapat banyak teman karena sifatnya yang supel. Tetapi, selain sifatnya yang supel, ia terkenal galak,moddy dan bodo amatan. Sifat itu sudah melekat sejak ia lahir, jadi susah untuk dihilangkan walau sudah beberapa kali ia coba.
"Oi Rin, lo gak mau ke kantin?" tanya seorang gadis di sebelahnya yang sudah memperhatikan Aerin sejak tadi. Arika Raysa Wilana, panggil saja Rika. Orang satu satunya yang mau menjadi teman dan sahabat dekat sekaligus teman curhat bagi Aerin sejak pertama saling kenal saat MOS kemarin. Anehnya, Rika selalu sabar dan tabah menghadapi sifat aneh Aerin. Menurutnya, sifat Aerin itu emang wajar. Sebenarnya, kalau sudah mengenal Aerin lebih dekat, Aerin tidak seseram yang teman teman lainnya fikirkan. Setiap orang punya sifatnya masing-masing bukan?
"Hah apa?" Aerin menoleh kearah Rika yang berhasil membuyarkan halusinasinya.
Rika menghela napas, kalau saja Aerin bukan sahabatnya, pasti Rika sudah menjitaknya habis habisan. "Aerin Renata Falovi, yang cantiknya tiada tara, lo mau ke kantin apa enggak? Kalo lo masih mau lanjutin halu lo, gue tinggal nih, biar gue ke kantin sendiri." jelas Rika dengan slow motionnya.
"Ooh, ngomong dari tadi geh, ya ayok! Lets go!" Aerin menghempaskan kepalan tangannya ke atas, lalu bergegas melangkah meninggalkan Rika yang menatap Aerin aneh keluar dari ambang pintu kelasnya.
Rika memutar bola matanya malas. Sangat amat sudah hafal dengan tingkah aneh Aerin. Baru saja ia ingin melangkahkan kakinya menyusul Aerin, tiba-tiba Aerin muncul di ambang pintu kelasnya.
"Rika, lo kok ketinggalan sih, malah masih berdiri disini." Aerin menghampiri Rika, mengambil asal lengan Rika dan menariknya menuju kantin.
"Ih, pelan pelan Rin." cibir Rika sebal.
###
Kantin kelas sepuluh tampak ramai. Di SMA Nusa Bangsa, kantinnya berada di setiap lantai masing-masing. Jadi, kantin lantai satu untuk kelas sepuluh, kantin lantai dua untuk kelas sebelas, dan kantin lantai tiga untuk kelas dua belas. Hal itu dibuat untuk menghindari kerusuhan akibat berebut antrian.
"Ka, lo pilih meja aja buat kita duduk, gue yang pesen. Lo mie ayam mang otoy kan sama es jeruk. Oke gue pesenin." ucap Aerin yang langsung pergi memesan makanan.
Rika tampak bingung. Bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri memilih meja yang nyaman untuk mereka duduk. Padahal masih banyak yang kosong. Setelah beberapa saat memilih, akhirnya pilihan Rika jatuh pada meja diujung sana yang bersebelahan dengan dinding.
Rika melangkahkan kakinya, menuju meja yang tadi ia pilih. Tetapi, saat langkahnya tinggal beberapa lagi, segerombolan cowok bertubuh jangkung duduk di meja yang tadi Rika pilih.
Rika berdecak sebal, dari pada harus membuat keributan karena berebut meja, Rika sebaiknya mengalah dan duduk di meja kosong lainnya yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ia duduk manis disana dengan membuka layar handphonenya seraya menunggu Aerin datang membawa pesanannya. Beberapa menit kemudian, Aerin datang dengan nampan di kedua tangannya yang membawa semangkuk berisi mie ayam pesanan Rika, dan semangkuk lagi berisi bakso kesukaannya tidak lupa dengan dua gelas es jeruk.
Raut wajah Aerin tampak ditekuk, Rika sudah menebak kalau sahabatnya ini sedang tidak mood. "Ngapa lo Rin?"
Aerin yang baru sampai dan menyimpan nampan yang ada di tangannya ke atas meja. Ia duduk dan mengambil semangkuk baksonya lalu meracik baksonya dengan menambahkan saus, sambal, dan kecap. Wajahnya masih ditekuk.
"Sebel banget tadi gue udah ngantri duluan malah di serobot sama anak sebelah. Gilak aja pingin gue bunuh ditempat rasanya kalo gue gak lupa ini di sekolah." Aerin mengaduk baksonya kasar, sehingga kuah baksonya menciprat.
"Alah udah biasa Rin, santai aja kali."
"Iya lo bisa bilang santai, lah gue? Lo kok malah kayak ngebela mereka. Lo temen gue apa temen mereka? Asli pingin gua tampol pake cangkul beneran." Aerin menggerutu geram lalu melanjutkan kegiatan makan baksonya.
Rika menghela nafas kasar, sudah biasa mengahadapi mood Aerin yang mudah berubah hanya karena hal sepele, menurutnya.
Lalu Rika tak sengaja melihat sesosok cowok yang ia kenal beberapa hari lalu. Dengan sigap, ia pun langsung memegang tangan Aerin sehingga membuat Aerin terkejut.
"Apa sih Ka, makan tinggal makan, gak usah bikin gue tambah gak mood deh." guman Aerin masih dengan nada kesalnya.
Rika menegakkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya ke hadapan Aerin. "Rin, coba lo liat ke arah kanan." bisik Rika pelan tetapi masih bisa dicerna dengan baik oleh indra pendengaran Aerin.
Mendengar bisikan Rika, Aerin pun menolehkan pandangannya ke arah kanan seperti apa yang dibilang Rika tadi. "Apaan gak ada apa apa."
"Coba lo liat cowok yang duduk sendiri itu." tunjuk Rika berhati-hati takut orang yang ia tunjuk menoleh.
Aerin kembali menoleh kearah yang ditunjuk Rika. "Iya gue liat, kenapa Ka?"
"Itu cowok yang gue suka. Yang gue ceritain ke lo beberapa hari yang lalu. Namanya Geza Renanda Saputra." bisik Rika lagi.
###
Terima kasih telah mampir ke lapak ini.
Semoga dibuat jatuh cinta dengan cerita ini.
Jangan lupa dukung cerita ini.
Karena satu dukungan dari kalian sangat berarti.
Salam
hadza__
YOU ARE READING
GezaAerin
Teen Fiction[UPDATE SETIAP HARI] Geza Renanda Saputra. Panggil saja Geza. Geza hanyalah Geza. Dia dikenal,tapi bukan terkenal,namanya tidak begitu populer. Tapi banyak orang tau tentangnya. Dia bukan Ketua OSIS atau anggota OSIS. Satupun Organisasi yang ada di...
