“Reno! Jangan disini, nanti anak-anak lihat.” Wanita dengan rambut coklat panjang terurai itu menahan lelaki yang tidak lain adalah suaminya untuk bertindak lebih jauh lagi. Karena posisinya saat ini mereka sedang berada di meja makan. Tidak lama lagi pasti kedua anak mereka juga akan kesini untuk sarapan bersama seperti biasa.
Namun sepertinya, lelaki yang sudah menjadi suaminya selama 33 tahun itu tidak ingin melepaskan dirinya begitu saja. Lelaki itu mendorong wanitanya hingga separuh tubuh wanitanya berada diatas meja.
“Kamu terlalu khawatir Rina. Mereka sudah besar, mereka pasti akan mengerti karena mereka juga sebentar lagi akan melakukan hal yang sama seperti kita.” Bisik lelaki bernama Reno itu hingga membuat bulu kuduk Rina merinding.
Rina berdecak sebal. Karena suaminya itu memang tidak pernah perduli jika apa yang mereka lakukan ini akan dilihat anak-anak mereka. Namun beberapa detik kemudia ia tersenyum. Mungkin ada benarnya. Selama ini ia selalu menahan suaminya agar tidak melakukan ‘itu’ disembarang di rumah mereka karena khawatir anak-anak mereka akan lihat. Tapi kini, anak-anak mereka telah dewasa. Baru saja ia ingin membalas perilaku suaminya itu, tiba-tiba terdengar suara yang mengganggu aktivitas mereka berdua.
Bugh.
“shit!” sebuah umpatan keluar dari anak gadis mereka. Anak gadisnya itu menatap tajam kearah dirinya yang hanya dapat tersenyum kikuk. Berbeda dengan suaminya yang justru dengan santai kembali mengancingi baju kemejanya.
Anak gadisnya itu mendengus kesal karena ulah orangtuanya, buku kesayangan miliknya yang lebih pantas untuk menjadi bantal itu jatuh karena ia terlalu terkejut.
“Gak usah kaget Nan. Mereka memang sering seperti itu.” Seorang lelaki muda tiba-tiba keluar dari balik tembok. Nando, anak pertama mereka yang kini berusia 32 tahun sudah sangat hapal dengan kebiasaan buruk orangtuanya itu. Ia lebih berpengalaman 12 tahun dari Nanda dalam menghadapi tingkah laku absurd kedua orangtua mereka.
Nanda mendengus sebal melihat tingkah laku kedua orangtuanya. Ia sudah melewati bab reproduksi, rasanya tidak perlu jika ia harus melihat praktek cara manusia bereproduksi secara langsung bukan? Lagipula, jika ia belum melewati bab itu sekalipun, rasanya ia tetap tidak ingin melihat. Bukankah lebih menyenangkan jika mempraktekannya langsung dari pada hanya menjadi penonton? Itu yang ia pikirkan.
Nanda lagi-lagi mendengus kesal. Ia berusaha membungkukkan badannya untuk mengambil bukunya yang terjatuh karena tadi ia terlalu kaget. Namun rok mini yang ia kenakan ikut terangkat ketika ia membungkuk. Membuatnya kesulitan hanya untuk sekedar mengambil buku diatas lantai. Nando yang menyadari hal itu secara spontan mengambilkan buku tebal yang lebih mirip seperti bantal dan memberikannya pada Nanda. Sekilas matanya membaca tulisan dibuku itu ‘Anatomi & Fisiologi’ yang hanya dengan memegangnya saja sudah membuat otak Nando terasa berat.
“Harusnya kamu gunakan baju yang lebih nyaman. Bukan baju kekurangan bahan seperti itu.” Ucap Nando sembari berjalan santai kearah kulkas dan mengambil sebotol air dingin.
“Bukannya anak kedokteran tidak boleh mengenakan baju kekurangan bahan seperti itu?” Nando menatap baju adiknya dari atas ke bawah. Rambut Nanda yang hitam panjang itu di kuncir kuda, dan seperti biasa, polesan diwajah Nanda cukup tebal hingga rasanya polesan itu lebih cocok digunakan untuk berpesta daripada kuliah. Meski Nanda tampak cantik dengan riasan seperti itu, tetap saja itu terlalu berlebihan. Blouse yang digunakan Nanda juga tampak sangat tidak nyaman untuk Nando, karena bahu Nanda terekspos begitu saja. Ditambah lagi rok mini serta high heels yang melihatnya saja Nando sudah terbayang seribet apa Nanda nanti. Pasti dia harus menjaga gerakannya agar area intimnya tidak terlihat.
“Bukannya nanti kamu dapat masalah?” lagi-lagi Nando bertanya.
Tapi bukan rasa takut yang Nanda rasakan, justru perasaan tertantang hingga membuatnya tersenyum lebar.
YOU ARE READING
Livi dan Nando
Random"Apa?" "Jangan sentuh aku sampai umurku 30 tahun." Ucapan gadis mungil didepanku itu membuat mataku refleks melotot. "Apa kamu gila? Berarti selama 2 tahun aku gak boleh nyentuh kamu sama sekali? Gak boleh nyentuh istriku?" Mataku melotot refleks se...
