Sinar matahari telah menyusup di celah celah jendela kamarku, membuatku mengerjapkan mata. Hari sudah pagi, dan ini artinya hari pertamaku masuk sekolah, setelah rasanya hampir setahun aku tidak bersekolah. Liburan akhir tahun kali ini terasa begitu lama buatku.
Aku segera beranjak untuk bersiap-siap.
Kenalkan, aku Rani. Aku baik, tapi hanya menurut segelintir orang mungkin. Orang biasa menganggapku sebagai orang 'tak tersentuh'.
Tidak ada yang terlalu istimewa tentangku. Boleh jadi disebut 'biasa-biasa saja.
Aku sosok dengan temperamen emosi yang buruk, untuk informasi tambahan.
Jadi, jangan terlalu sering berbicara denganku, untuk saran.
Aku memutuskan segera berangkat ketika jam masih menunjukkan pukul 06.00 WIB. Tak membutuhkan waktu lama, aku telah tiba di sekolah. Aku segera meluncur menuju papan pengumuman, meneliti di kelas apa aku ditempatkan. Ku temukan namaku tertera di deretan kelas MIPA 2-1. Aku segera bersorak sorai melihatnya.
Dari dulu, aku selalu ingin masuk ke kelas ini, jadi perjuanganku belajar tak sia sia. Beberapa anak yang datang melihatku dengan tatapan aneh, tapi aku tidak peduli. Yang terpenting, aku merasa senang hari ini.
Kembali ke papan pengumuman, segera kuteliti lagi nama teman teman sekelasku. Kutemukan nama yang nampak tak asing bagiku. Yumna Putri dan Maulidya. Aku cukup girang, karena setidaknya aku takkan jadi anak hilang di dalam kelas nanti. Setidaknya ada orang yang kukenal.
Buru buru aku segera berlari melesat menuju kelasku yang baru. Aku haruss mendapatkan bangku yang nyaman untuk kelas ini. Dan tingkah konyolku yang berlari lari di sekolah membuatku merasakan tatapan aneh orang orang yang kulewati dan berada di sekelilingku. Aku sampai di depan pintu kelasku dengan cepat. Aku perlahan melangkahkan kaki masuk ke dalam kelas, dengan jantung yang masih berdebar keras.
Memang hanya ada beberapa anak di kelas, termasuk dua temanku Yumna dan Lidya. Tapi bisa kurasakan mereka menatapku seperti belum pernah melihat manusia sama sekali. Apa penampilanku seaneh itu sampai orangpun harus melihatku dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan intens?
"HAII KESAYANGAN!! Gue kangen banget elo berdua! Gue seneng sekelas sama elo berdua."
"Gua tau lu girang, tapi jaga mulut lu dikit lah. Jangan kek TOA gitu," Yumna menjawabku sambil geleng geleng kepala. Yang dinasihati malah cengengesan. cengar cengir kayak orang tanpa dosa.
"Iye, bener tuh apa kata Yumna. Lo tu harus jaga mulut lo, liat tuh semua orang pada ngeliatin lo," Lidya menimpali ucapan Yumna.
"Duh sorry deh, gue salah. Gue kegirangan ketemu elo berdua. Pokoknya hari ini gue lagi hepi jadi plis pelihara mood gue yaa!?"
"Idihh, ngapain gue pelihara mood orang lain? Kaga berfaedah keles. Ya kan suka suka gue mau ngapain," Yumna seperti berusaha merusak moodku
"Kapan kalian damai sihh? Sehari aja, kaga usah ribut napa? Bosen gue ngedengernya," Lidya membalas ucapanku dan Yumna sambil menepuk nepuk kepalanya sendiri
"Kaga bisa, gue dan Yumna emang ditakdirin untuk hal ini. Ntar kalo kita kaga ribut, lo kangen lagi," kujawab dengan senyum percaya diri yang melebihi dosisnya
"Amit amit jabang bayiii!"
"Lidya, lo ko kejem sih ama gue? Gue punya dosa apa ke elo? Sakit hati adekk"
"IHH, makin gue ladenin lo makin konyol. Udah sono duduk di bangku lo. Nggak nyadar apa badan lo ngalangin jalan gitu."
"Lo duduk aja dibelakang kita berdua," Yumna menunjuk kursi yang ada di belakangnya dan Lidya. Aku segera duduk di sana, dan kemudian melanjutkan mengobrol dengan mereka berdua.
YOU ARE READING
Memories
Teen FictionRani, masih 16 tahun dan hanya seorang siswi SMA biasa. Dia sudah menjadi penderita gangguan panik akut semenjak kejadian pahit menimpa dirinya terus menerus. Hidupnya sungguh kacau, bahkan sejak dia masih kecil. Rani pikir, SMA akan terasa lebih me...
