Sebut saja dia Arindia gadis periang yang mampu menutupi seribu lukanya hanya dengan senyum yang tak pernah luput dari wajahnya.
Ya namanya Tarana Arindia, nama yg menggambarkan seorang perempuan yang cantik, ceria dan juga baik hati.
Hidupnya serup...
"Jalani hidupmu dengan penuh rasa cinta meski kau tak dianggap sekalipun"🍁
"Mama jangan pergi!"
"Ma jangan tinggalin Arin, hiks... hisk," arin terisak dalam tidurnya Dan sambil mengigau-ngigau menyebut mama.
"Non. Bangun non," Nampak perempuan paru baya yang berusaha membangunkan Arin dari mimpi buruknya.
"Non Arin bangun."
Arin terbangun dengan nafas yang terengah-engah, air matanya nampak jatuh bercucuran dipipinya.
"Non, mimpi buruk lagi ya?" tanya bi Sumi dengan hati-hati.
"Iya bi. Perempuan itu dateng lagi." "Siapa ya perempuan itu? dan kenapa Arin manggil dia itu dengan sebutan mama?" tampak wajah Arin yang sangat kebingungan tentang mimpi-mimpinya belakangan ini.
Dengan cepat bi Sumi menanggapi gadis kecilnya. Yang sudah dianggapnya sebagai anak tersebut.
"Sudah non, gak usah dipikirkan mungkin cuma bunga tidur, sekarang non solat subuh terus bersih-bersih nanti non telat, bibi mau siapin sarapan dulu dibawah."
"Iya bik, makasih ya."
Bik Sumi bangkit dari kasur Arin dan Arin juga bergegas untuk membersikan diri di kamar mandinya.
***
Sekitar 20menit kemudian. Arindia sudah siap dan segera turun kebawah bersama kakak-kakaknya, yaitu Dika dan Dara untuk sarapan.
"Pagi mama, pagi juga papa," dara dengan cepat berlari menuruni tangga dan menyapa Alena dan Dafi yang tengah asik sarapan.
"Pagi juga sayang, kamu mau sarapan pake apa?" tanya Alena kepada Dara dan mempersilahkan dara duduk.
Arin berhenti. Melihat mamanya dan kakak perempuannya, betapa sakit hati Arin yg setiap hari melihat keluarganya yang tidak pernah menganggapnya ada.
Dika yang menyadari Arin berhenti dibelakangnya pun berbalik dan menjajarkan posisinya disamping dan menghadap kan wajahnya menghadap Arin.
"Kamu kenapa dek?" tanya Dika, yang menyadari ada yang aneh dari Arin.
"Hah," sontak Arin terkejut dengan kakak nya yg sekarang sudah ada disampingnya.
Namun Arin cukup ahli menutupi ekspresi wajahnya.
"Gapapa kak, yuk sarapan," Arin kembali berjalan menuju meja makan dan Dika hanya mengikutinya dari belakang.
Arin hanya diam dan menyantap sarapannya, Bersama keluarganya, sesekali dia tersenyum kecil melihat perlakuan manis mamanya kepada Dika dan Dara.
Arin hanya bisa membayangkan kalau dia berada diposisi Dara dan Dika, betapa bahagianya dia memiliki kedua orang tua yang sangat mencintainya, namun itu hanya hayalan yg tidak akan mungkin menjadi kenyataan, ntahlah. Nyatanya kehadiran Arin ditengah-tengah keluarga ini seperti tidak dianggap.
Banyak pertanyaan yg ada pikiran Arin, apa mungkin dia anak angkat?, Tetapi jika benar kenapa mamanya tak mengatakan itu. Apa dia anak yg tidak diinginkan?, tapi kalau benar mengapa mereka masih merawatnya sampai sekarang.
Daripada menyaksikan mereka membuat Arin semakin tersiksa, lebih baik segera berangkat sekolah.
Arin beranjak dari kursinya, "Arin berangkat sekolah dulu Ma, Pa, kak Dika, kak Dar," pamit Arin kepada semuanya.
Dia tidak menyalami tangan kedua orang tuanya, karna percuma mereka tidak akan menguluri tangannya untuk disentuh Arin, tapi Arin sudah terbiasa dengan hal itu.
Namun saat Arin ingin beranjak pergi dari meja makan, tangan yang lembut dan halus mencegatnya membuat hatinya senang, Arin mengira itu Alena.
"Kamu gak mau bareng kita?" ternyata Arin salah bukan Alena tapi Dara yg mencegatnya.
"Aku, ada urusan sebentar kak."
"Mau kakak anterin?" tanya Dika.
Namun dengan cepat Arin menjawab, "Gak usah Arin buru-buru, assalamuallaikum," Arin segera melangkahi kakinya keluar.
**
Disinilah Arin sekarang, duduk dihalte sendirian menunggu angkutan umum yang akan membawanya kesekolah. Namun jalanan sepi tidak ada tanda-tanda adanya angkot ataupun bus.
Benar tadi dia berbohong, kalau dia ada urusan, ntahla hati Arin terlalu rapuh untuk melihat kebahagian mereka.
Dia berjalan meninggalkan halte, namun sekarang kesedihannya tidak bisa dibendung lagi. Air matanya tumpah saat melintasi sekolah dasar, dia melihat seorang ibu-ibu yang sedang mengantar anaknya dan kemudian memeluk dan mencium kening putrinya, Arin tersenyum getir sambil memeluk dirinya sendiri menggunakan tangannya. Dia memegang jidadnya dengan tangannya, air matanya turun sangat deras mengingat jangankan dicium dan dipeluk berjalan seiringan dengan mamanya saja dia tidak pernah.
"Aww," Arin menajamkan tatapannya kearah orang yang menggangu ketenangannya, emosinya memuncak saat Dia melihat seragamnya kotor.
"Woy, kalo bawa motor liat-liat dong, kan jadi basah. Dasar setan."
Seorang pengendara motor tidak sengaja melintasi genangan air dan membuat Arin tekena percikan genangan air itu.
Pengendara itu menghentikan motornya yang sudah jauh dri Arin, namun Arin yg mengetahui itu tiba-tiba refleks dan membuang mukanya.
"Pake berenti lagi," gerutunya pada dirinya sendiri, jujur Arin takut jika pengendara itu malah berbalik memarahinya.
"Sorry. gue gak sengaja, gue buru-buru," suara terdengar setengah berteriak karena jarak yang cukup jauh.
Taklama kemudian laki-laki itu pergi meninggalkan Arin dan melajui vespanya.
Jam tangan arin menunjukan 06:45. Itu tandanya 15 menit lagi bel akan berbunyi dan kbm akan dimulai.
Arin segera menaiki ojek pangkalan disekitar itu dan pergi kesekolahnya, sma Darma Bakti.
Tarana arindia
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Maafkan tulisan ku yang masih belepotan dan typo dimana-mana. Fix ini tulisan pertamaku Heheheh, dan jangan lupa vote⭐ dan tulis kritikan beserta Saran kalian dikolom komentar,aku butuh banget Saran dan semangat dari kalian:)