•SATU•

93 26 38
                                        


"Akhirnya, lolos juga dari bu Megan." desis Devi sambil mengelus dadanya

"Coba aja nggak di izinin tadi, keburu mati duduk gue lantaran bosen banget dengan metode pembelajaran bu Meganthropus itu."

"Singgah kantin dulu kali yah, minum bentar habis itu balik deh ke kelas."

"Sambil nenangin hayati juga kali."

On the way to canteen. Hal paling indah yang dilakukan seorang Devi disaat jam pelajaran masih berlangsung didalam kelasnya.

Bagaikan taman syurga yang dikelilingi dengan jajanan-jajanan enak yang membuat dirinya speechless seketika.

Taukan gimana sosok Devi kalau sudah bertemu dengan aneka makanan dan jajanan kantin, mulai kambuh penyakit bipolarnya. Langsung gila liat makanan terpampang nyata di samping kanan dan kirinya itu.

Alhasil Devi malah terpanah dengan bakso jualan mbak Ani, terlihat sangat menggoda. Telinganya penuh dengan panggilan-panggilan darurat dari bakso mbak Ani.

Tanpa pikir panjang Devi langsung saja nyelonong ke meja yang sudah disediakan didepan tempat jual mbak Ani.

"Mbak Ani, biasa yah. Bakso tenesnya 1, es jeruk 1, tahu isi 3 deh, tambah air mineral 1 botol ya mbak, udah itu aja." pinta Devi yang sudah tidak sabar menyantap pesanannya

"Neng Devi, tunggu bentar yah." balas wanita yang siap melayani Devi

"Mbak jangan lama-lama! Perut saya udah pada demo nih."

Mbak Ani yang sedang menyodorkan pesanan Devi ke meja "Ini neng sesuai pesanan, nggak ada yang kelupaan. Ongkirnya sesuai jarak yah neng" diiringi tawa dari wanita itu

Lawakan dari mbak Ani membuat perutnya kegelian akibat tertawa"Mbak Ani bisa aja deh ngelawaknya."

SEDAP. ENAK. NIKMAT. MUANTAP.
Hanya kata-kata itu yang bisa mewakili isi perutnya sekarang ini, dasar Devi kalau soal makanan aja pasti senengnya kelewatan batas.

Terlalu sibuk dengan makanannya, sampai-sampai lupa kalau dia sudah lebih 15 menit dari waktu yang diberikan bu Megan tadi.

Mampus lo Devi. Dapat hadiah deh bentar dari bu Megan yang berhati malaikat maut.
Udah tau cuma dikasih waktu 5 menit, malah ngelunjak singgah makan di kantin mbak Ani sampai 20 menit.

"Ya Allah. Mati gue, lebih 15 menit lagi."

"Duh gimana nih jelasin ke bu Megan."

"Bismillah aja deh." perlahan melangkahkan kakinya masuk kedalam kelas

"Eh anak rajin, udah selesai buang airnya?Buang air apa buang mayat? Lama banget izinnya!"

"Eh ibu, maaf bu. Saya tuu-uhh taa-dii." bela Devi terbata-bata

"Nggak usah pake ngeles yah. Pokoknya kamu kerjain tugas yang akan ibu berikan!" potong bu Megan kepada Devi

"Taa-pii bu?"

"Nggak pake tapi-tapian, selesai pelajaran ikut keruangan ibu!"

Sekarang Devi hanya bisa ngedumel didalam hati kecilnya, sangat malas baginya mengerjakan tugas dari bu Megan.

Dengan sangat berat hati, Devi lanjut duduk dikursinya dan mengerjakan tugas yang sempat ditinggalkan ke kantin tadi.

Dalam hati Devi bermonolog "Ini aja tugasnya udah banyak, gimana entar yah. Bisa patah nih jari-jari imut akuh"

🐞🐞🐞

Pelajaran bu Megan selesai. Seperti pinta gurunya tadi, Devi berjalan dibelakang tubuh wanita paruh baya dengan tinggi badan di bawahnya.

Berat sekali rasanya kaki Devi melangkah keruangan bu Megan, ditambah lagi dia belum tau tugas apa yang akan diterimanya.

Sesampainya didepan meja bu Megan "Devi karena kamu keluar dijam pelajaran saya dengan waktu yang cukup lama, tugas yang harus kamu kerjakan itu mudah saja."

"Alhamdulillah makasih ya bu udah kasih saya tugas yang mudah."

"Iya sama-sama. Mudah banget kok, tugasnya cuma meneliti apa saja yang ada di museum terus buatkan resume 8 lembar dan tentunya harus tulis tangan yah!"

"Astaghfirullah bu, katanya mudah tugasnya. Ini mah kelebihan susah bu."

"Ingat! Harus terima apa adanya saja Devi. Yasudah, sekarang kamu boleh balik ke kelas."

Dalam hati berkata " Ya Allah sungguh berat cobaan-Mu kali ini." dengan wajah yang mulai melesu akibat tugas bu Megan.

Ternyata hari ini benar-benar hari yang sangat melelahkan, bahkan lebih parah dari ekspetasi seorang Deviana Salshabilla.

Waktunya pulang ke habitat, Devi tetap berusaha ceria dengan hari yang sangat membosankan ini.

Kebiasaannya sampai rumah bukannya ganti baju, malah langsung makan, terus lanjut tidur, bangun, makan, tidur lagi sampai fajar kembali menjemput.

Bingung kan mau ngapain sekarang. Bikin planing buat tugas yang mengharuskannya pergi ke museum seorang diri.

"Uh capek! Malas ngerjain apa-apa!" teriak Devi dari dalam kamarnya.

"Gimana minta bantuan Athalia sama Wanda aja kali yah?"

"Tapi kan mereka pasti sibuk, secara mereka bukan sekolah umum, tetapi sekolah kejuruan."

"Bingung mau minta tolong siapa."

"Terpaksa harus mandiri."

Devi berusaha merebahkan seluruh tubuhnya diatas kasur queen size miliknya, sambil menutup kedua matanya pelan.

Hari ini sangat melelahkan, Devi tak tahan lagi untuk menahan kantuk yang dari tadi ditahannya.

Dia pun kalah dari kantuk yang terus saja melawannya sedari tadi dia coba untuk lawan sekuat tenaganya itu.

Devi tertidur dengan posisi tengkurap melawan arah kepala kasur miliknya itu. Tidak peduli bagaimana gaya tidurnya sekarang, yang penting dia bisa mengistirahatkan semua anggota tubuhnya.

Yang terpenting sekarang Devi sudah bisa mengistirahatkan seluruh tubuh imutnya dengan tenang.


TBC

Vomentnya jangan lupa yah✔

DeVianWhere stories live. Discover now