Bab 1 Awal sebuah tragedi

35 4 2
                                        

Malam, malam yang dingin menutupi tidurku. Terdengar suara burung gagak disekitar rumahku, entah apa yang membuat burung itu selalu mengelingi rumah ini akhir-akhir ini, mungkin sebuah pertanda kah?

Aku tidak perduli

Aku tidur terlelap didalam mimpiku yang aneh dan tak bisa ku ingat, entah mimpi apa itu..

Aneh rasanya sebuah kedinginan yang menusuk, menyelimuti ruangan kamarku.
Jantung ku bedegup kencang, dan keringat dingin menetes dari kulitku.
Ada apa ini? Ada apa dengan perasaan ini?

Lalu terdengar suara gaduhh yang sangat gaduh. Seperti bantingan benda keras, pukulan balok kayu, pecahan kaca, dan suara wanita menangis.
Wanita menangis? Tunggu! Suara siapa itu?

Terdengar lagi suara orang berkelahi dan suara histeris wanita, akupun tersadar bahwa itu suara ibuku.

Akupun langsung bangun dari tidurku dan berlari menuju dimana suara itu berasal, instingku sebagai petarung membawaku ke kamar kedua orang tuaku.

Anyir! Apa ini?
Darah!! Oh banyak sekali darah!
Darah berceceran dilantai dan banyak cipratan darah dipintu kamar yang sudah rusak.

Ya Tuhan apa yang terjadi?

Degghh! Suara jantungku yang menyakitkan.

Aku terpaku dengan apa yang ku lihat. Selain ada banyak darah, disana ada ibuku yang bersujud dengan histeris dan ada tiga orang dewasa sedang berkelahi. Dan salah satunya ayahku! Oh ayahku! Dia ayahku!

Sambil memegang perut yang terkena tusukan pisau atau entah apa itu, dia bangun dan melindungi ibuku dari jangkauan orang asing itu..
Dilihatku mereka memakai pakaian hitam dan bertudung hitam menutupi wajahnya, namun ayahku berhasil membuka tudungnya.. Tetapi orang-orang itu semakin ganas dan ganas menyerang ayahku.

Dia mengarahkan pisaunya ke ayahku lagi, berusaha menebas apapun yamg ada didepannya.

Crashhhhh..

Darah berhamburan dimana-mana, wajah ayahku tertutup darah. Dan semua lantai, spray, lemari dan cermin bahkan wajah ibuku terkena cipratan darah dari ayahku.

Syok! Itu yang kurasakan! Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa! Hanya bisa terpaku menyaksikan semuanya. Seolah ada paku yang tertanam di kakiku, bahkan untuk berteriakpun tidak bisa!

Kemana semua keberanianku saat menyerang lawan? Kemana keberanianku saat menyerang dan menendang lawanku di arena?
Semua itu tidak berguna sekarang!

Akhirnya para penjahat itu kabur membawa banyak harta keluarga kami, meninggalkan semua awal tragedi di keluarga ini!

Ya! Ini adalah awalnya!

Saat para penjahat itu lewat didepanku, mereka mendorongku karena berusaha menghalangi jalan emas nya.
Akupun tersungkur dilantai yang penuh darah. Aku bangkit dan kukejar penjahat itu melewati pintu belakang yang sudah rusak. Dan ku yakin dirusak oleh mereka.

Ku terus lari mengejar mereka, sampai akhirnya kaki ku sudah tak bisa bertahan lagi karena menginjak beberapa pecahan kaca. Dan kulihat mereka terus berlari tanpa mempedulikan ku.
Mungkin di pikiran mereka aku hanya anak kecil yang tak bisa apa-apa?

Mungkin benar, karena aku akui. Aku tidak akan menang melawan mereka, dua orang dewasa dengan senjata tajam ditangannya.

Walau aku seorang atlet beladiri, tapi dihadapan mereka aku bukan apa-apa!
Hanya seorang gadis kecil, yang hanya, bisa diam terpaku melihat keluarganya dipotong-potong oleh mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
Thanks for reading..

ENJOYING?

NEXT?

A speck of light in the darkStories to obsess over. Discover now