Bab 1

119 5 7
                                        

Yuri Cyzarine Darya
Bagian 1 oleh Aini Dahlia

Kenapa pria misterius berjaket hodie hitam menutupi kepala dan memakai masker itu, tak menyerah mengejarku? Aku bahkan tidak paham sudah membuat kesalahan apa.

Untung saja pagar tanaman yang tinggi ini menyamarkan persembunyianku. Pria itu dengan pisau di tangannya terlihat sangat bernafsu untuk membunuh. Perlahan, ia menyerah dan berbalik arah menjauhi tempat ini.
Dengan sangat hati-hati, aku keluar dari semak belukar. Pakaianku jadi acak-acakan. Ah padahal aku seharusnya kencan malam ini kekasih hati sambil membicarakan rencana pernikahan kami. Nasib baik sedang tidak berpihak padaku malam ini. Hanya karena salah membuka ruangan aku jadi dikejar-kejar psikopat seperti dia.

Apa ini ada hubungannya dengan wanita yang disiksa di belakang gedung?

Baru beberapa langkah berjalan, sebuah tangan membekap mulutku dari belakang. Sigap aku memutar jempol tangannya agar melepas cengkeraman, aku tak mau mati sia-sia begitu saja. Setelah berhasil lepas, aku menginjak kakinya dengan hells yang kukenakan. Sepersekian detik ia menahan nyeri, kugunakan untuk melarikan diri. Namun, sebuah hantaman dari arah belakang tepat di kepala, membuatku terjatuh. Lalu, semuanya menjadi gelap.

***

Aku membuka mata perlahan sembari menghirup angin malam di bawah sinar bulan purnama. Berada di puncak pohon kamboja, aku berbaring memandangi langit sambil menghitung bintang menanti peruntungan nasib atas hidup yang tidak jelas.

Aku hanya tahu namaku saja. Yuri. Itu juga diberitahu oleh seseorang yang usianya sudah ribuan tahun. Selebihnya, tidak ada ingatan sama sekali. Aku hanya bisa beraktifitas leluasa di malam hari, karena warna langit yang gelap sangat cocok dengan energi baru di tubuhku saat ini. Siang hari, aku masih bisa ke sana kemari, tetapi sinar mataharinya terasa sangat membakar tubuh. Jadi, aku memilih berlindung di gedung-gedung besar tak terpakai atau di kamar yang ditinggal penghuninya bekerja.

Aku lebih suka melayang ke sana kemari dibandingkan berjalan. Lelah teramat sangat jika aku menjejakkan kaki ke tanah. Ada tarikan kuat untuk berbaring di dalamnya, seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang meninggal secara wajar. Bukan seperti diriku yang tidak jelas bagaimana matinya.

Mungkin inilah yang menjadi penghalang diriku untuk beristirahat dengan tenang. Aku sendiri tidak tahu di mana tubuhku dimakamkan, karena saat membuka mata tiba-tiba saja sudah berada di ruangan gelap dengan pakaian berlumuran darah. Perlu waktu lama untuk bisa keluar dari ruangan itu. Aku harus merelakan tubuh transparanku terasa seperti tersengat listrik tegangan tinggi, demi mencari misteri yang menyebabkanku menjadi terombang ambing tidak jelas antara hidup dan mati.

Saat itu, sebuah tarikan tangan membantuku lepas dari dimensi gelap. Lalu tanpa sempat berkata-kata, tangan itu menarikku menjauh melayang ke langit dan mendarat di suatu tempat dengan design kuno di dalamnya. Wujud wanita yang belum sempat aku lihat wajahnya melayang dan segera duduk di anggap saja itu singgasananya. Gaun panjang warna merah dengan leher v rendah mengekspos kulit putihnya yang pucat. Rambut terulur ke leher sebelah kanan dan bibir berwarna merah darah, menambah kesan menakutkan padanya.

Ia tampak menggenggam sebuah kertas berwarna cokelat, membacanya sesaat, lalu kertas itu terbakar begitu saja di tangannya.

"Yuri Cyzarine Darya, itu namamu, bukan? Kenapa kau bermain-main di gerbang batas manusia dan hantu?" tanyanya dengan sorot mata menantang.

"Yuri?" tanyaku kembali sambil mengerutkan kening. “Apa itu memang namaku?”

"Benar, namamu Yuri. Sepertinya kau tidak memiliki ingatan sama sekali, mengapa sampai bisa berada di sini. Benar, bukan?"

Aku hanya mengangguk kuat meyakinkan perkataannya. Memang tidak ada ingatan sama sekali tentang diriku.

"Perkenalkan, aku Sansha. Makhluk berusia ribuan tahun, penjaga gerbang antara manusia dan hantu," ucap Sansha sambil memamerkan kuku panjangnya.

Sejenak aku diam menatap indah ukiran istana disertai patung-patung mengerikan di empat sudut istana ini.

"Kuberi kau dua pilihan, Yuri. Pertama, kau terima nasibmu seperti ini dan aku akan melemparmu ke gerbang akhirat menunggu nasib membawamu ke mana. Kedua, kau kembali ke bumi, mencari misteri penyebab kematianmu dengan batas waktu yang kuberikan. Bagaimana?"

"Batas waktu? Berapa lama?"

"Dua bulan."

"Hah. Apa bisa selesai dalam dua bulan?"

"Dua bulan di istanaku sama dengan dua tahun di dunia manusia. Waktumu dimulai dari sekarang."

Tangan dengan kuku panjang itu membalikkan jam pasir dan seketika tubuhku terhempas tepat di pemakaman umum. Tanpa mengulur waktu, aku mencoba mencari namaku yang tertera di batu nisan. Lelah berputar menjelajahi semua pemakaman umum dari kelas biasa hingga high class tidak ada yang cocok dengan namaku.

Aku malah menggunakan kesempatan untuk berkenalan dengan penghuni asli kuburan yang aku jajaki. Katanya, mereka makhluk yang tidak ada kerjaan, makanya mereka menggangu manusia yang lewat berbeda denganku yang masih harus mencari  penyebab kematian.

Dari mereka juga aku tahu, bahwa makhluk tak jelas seperti kami punya kekuatan di malam hari. Tak jarang kekuatan itu aku gunakan untuk menolong orang-orang yang masih hidup. Terkadang juga usil menggunakannya untuk mengambil beberapa dress cantik yang terpajang di manekin sebuah toko.

Hingga setahun berjalan, belum juga menemukan petunjuk kematianku. Semua rumah sakit sudah kutelusuri, mencoba mencari petunjuk. Bahkan beberapa petugas rumah sakit pernah pingsan, ketika dengan tidak sabar aku membuka semua penutup mayat untuk mencocokkan wajah. Pun dengan catatan riwayat pasien yang berhamburan, sukses membuat beberapa perawat lari terbirit-birit ketika aku melayangkan ke udara untuk membacanya sekaligus. Usil, tetapi aku suka, hahaha. Lagipula aku tak bisa menyentuh manusia dengan tubuh transparan ini, jadi anggap saja itu sebagai hiburan.

***

Purnama ketiga belas hampir meredup. Dari atas pohon kamboja tempat kesukaanku menghitung bintang, terlihat seorang laki-laki dengan setelan baju gelap bersembunyi di balik pagar rumah besar. Seperti mengintai sesuatu di tempat sepi ini.

Anehnya, tubuhku seperti ada yang menarik tiba-tiba. Hingga mendarat di dekat kakinya. Segera aku berdiri karena tak ingin terlena untuk tidur di dalam tanah. Pandangan kami sejenak bertemu, kemudian dengan cepat ia memalingkan wajah. Dari jarak dekat, aku bisa melihat keringatnya bercucuran dan degup jantung berpacu sangat cepat.

Tunggu, pria berwajah tampan ini … iya dia memang tampan aku bisa melihatnya di kegelapan malam dengan mata ajaibku. Apa dia bisa melihatku? Dia berdehem. Ya ampun suaranya seksi sekali. Apa dia mencoba menghilangkan rasa gugup di hadapanku?

Kucoba melambaikan lima jari di depan wajahnya. Dia masih bergeming. Lanjut dengan menjentikkan jari, tetap saja tidak bereaksi, bahkan mengedipkan mata pun tidak. Oh, jadi ia berpura-pura tidak melihatku. Lihat saja sampai berapa lama ia bisa bertahan.

Nekat, kucoba mendekatkan wajahku dengan wajahnya. Pria itu mundur beberapa langkah sambil matanya tetap awas mengamati situasi.

"Kamu, bisa lihat aku, kan?" Aku terkejut saat ternyata tangan ini menyentuh telapak tangannya yang berkeringat. Kami bisa bersentuhan? Siapa sebenarnya pria ini?

Belum sempat aku bertanya lagi, ia nampak mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya. Benda yang berasal dari besi. Aku langsung melayang mundur beberapa langkah. Seketika itu juga, ia berlari seperti mengejar seseorang yang muncul dari rumah tua yang kerap dipakai beristirahat makhluk-makhluk seperti kami.

Dengan langkah besar dan senyap, pria itu mengikuti seseorang. Lagi, seakan ada energi yang menarik tubuhku untuk melayang mengikutinya.

"Tunggu! Apa kamu salah seorang yang tahu penyebab kematianku?" tanyaku sambil melayang di sebelahnya

Bersambung ....

Unconditional Love Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora