Prolog

193 41 5
                                        

ℍ𝔸ℙℙ𝕐 ℝ𝔼𝔸𝔻𝕀ℕ𝔾!

00. PROLOG

Ketika dua sejoli saling bertemu, berbincang bahkan merasa bahagia bersama, apa yang kalian pikirkan? Bukankan kalian akan memikirkan hal yang sama sepertiku 'mereka terlihat sangat bahagia, irinya', 'oh mereka sangat cocok', 'mereka pasangan yang sempurna'. Hal seperti ini sering terjadi, tenang saja itu bukan pandangan yang buruk bahkan terkesan sangat positif.

Namun dapatkah kamu mengatakan hal seperti itu jika melihat pertemuan mendung dan langit? Sayang sekali, si abu-abu mengharapkan senyum tulus dari biru. Bodohnya lagi ia menetap dalam jangka waktu lama untuk bertatap muka dengan sang pujaan hati, melewati siklus panjang agar dapat bersisihan. Seharusnya ia lebih memilih angin, pahlawan yang tiba-tiba datang membantu agar tak jatuh duluan sebelum mencapai langit.

Bukankah alam sangat kejam? Mempertemukan mendung dan langit, dimana kehadiran mendung yang terkesan diundang langit. Namun dalam jarak dekat dapat terlihat jelas, langit tetap memberikan batas berupa sela dan tak mengijinkan abu-abu menyentuh bahkan menggapainya. Dan seterusnya seperti siklus alam yang tak dapat dicegah, langit jugalah yang pada akhirnya mengusir mendung.

Sebelum semuanya terjadi dan proses tersebut berakhir, kebungkaman mendung menghadirkan hujan bulir rindu yang sama sekali tak dilihat langit. Matanya menatap penuh kebanggaan karena dapat bersisihan, namun punggung abu-abu terasa berat dan rapuh oleh luapan rindu. Bulir itu turun semakin deras bersamaan dengan panik yang mendera mendung, ia mulai kabur dan menipis oleh sikap langit yang tak menerima sama sekali.

Ini tentang dua bagian utama yang tersimpan maksudnya, dan mari menelusuri lebih dalam pada bagian pertama bualan rindu yang dianggap sebagai omong kosong belaka.

{Bukan hanya mendung yang merindu tapi sebetulnya menjadi sisi penerima lebih menyakitkan.}





『T』『B』『C』

First: EvanescentWhere stories live. Discover now