Rigel Romanoff berpikir jika dia akan mati malam ini. Dengan tergesa-gesa, dia berlari di tengah kegelapan hutan. Langkah kakinya gontai menapaki tanah yang tidak rata. Dia tidak punya waktu untuk memilih pijakan terbaik sedangkan orang-orang dengan jubah hitam itu masih terus mengejarnya.
Kaki-kaki jenjang itu mulai tak kuasa menahan berat tubuhnya. Dia kelelahan, lututnya terasa panas, tenggorokannya kering dan dia tak tau harus kemana. Pandangan matanya mulai berkunang membuat kesadarannya hampir terputus. Dengan sekuat tenaga, Rigel menahan dirinya untuk tetap terjaga.
Ibuu...
Lelaki berambut hitam itu menyuarakan sebuah nama di dalam hatinya. Di fikirannya muncul sesosok wanita tua yang hampir menemui ajalnya. Wanita itu tergeletak lemas di bawah meja sambil menggigit bibir karena rasa sakit yang Ia derita. Kedua tangannya menekan perut yang terus mengeluarkan darah. Di samping wanita itu ada sebuah benda panjang yang terlihat lembek berwarna putih-kemerahan melingkar-lingkar dan ujungnya tersambung ke perut si wanita.
Rigel buru-buru membekap mulutnya. Lambungnya terasa di guncang-guncang dan di aduk-aduk tak beraturan. Perasaan mual itu mendorong perutnya memuntahkan cairan kuning kental. Dia tak kuasa menahan pemandangan mengerikan dari ibunya sendiri. Kesedihan dan kemarahan kini bersatu menyayat hati kecilnya.
Apa salah ibuku hingga berakhir seperti ini?
Dalam keadaan seperti itu, sang ibu masih tersadar, dia mengucapkan beberapa kata terakhir sebelum maut menjemputnya.
"...per-gilah Rigel. jadi-lahh an-akk yang ba-ikk..."
Ucapan terakhir itu membuat Rigel tak kuasa menahan tangisannya. Tetapi penyesalan terdalamnya ialah saat dia tidak pernah membuat orangtuanya bahagia. Dari titik balik itulah Rigel sulit memaafkan dirinya sendiri. Ibu yang sangat dia benci, ibu yang sering Ia abaikan, ibu yang selalu dia cemooh itu kini telah pergi untuk selama-lamanya.
Kesedihan tak terbendung dan penyesalan tak terbatas itu melemahkan langkahnya. Tumpuan di kakinya mulai goyah dan pelariannya harus terhenti ketika kakinya terperangkap lubang yang tak terlihat.
"Arrght..." Rigel terjerembab ke tanah.
Dia meringis kesakitan tatkala wajahnya jatuh mencium tanah. Aroma dedaunan dan tanah yang kering menyeruak masuk ke dalam hidungnya. Rigel meludahkan serpihan daun yang masuk ke dalam mulutnya. Saat dia meludah, rasa ngilu datang menyerang kepalanya. Sumber rasa ngilu itu berasal dari deretan gigi-gigi yang terasa berdenyut-denyut. Dia juga merasakan cairan yang berbau amis di rongga mulutnya. Dia yakin itu adalah darah dari bibirnya akibat benturan keras dengan tanah yang kering.
Rigel berusaha bangkit lagi untuk melanjutkan pelariannya. Bayangan orang-orang berjubah hitam itu membuat Rigel ketakutan. Mereka bukanlah orang baik. Mereka yang telah membakar seisi desa dan mereka juga yang membunuh ibunya. Mereka pasti akan membunuh Rigel jika berhasil menangkapnya. Ketakutan itulah yang membuat Rigel ingin segera melarikan diri.
Ketika Ia mencoba berdiri, rasa sakit menahan pergeraknnya. Asalnya dari kaki kanan yang tak terlihat di kegelapan. Dia meraba kakinya dan berharap bisa mengusap sumber sakit itu agar sedikit mereda. Tak tau kenapa, Ia tidak bisa menyentuh kakinya. Setelah diurut lagi, dari lutut ke bawah, kakinya sudah tidak ada.
"Arrrh... Arrht...Aaaaarrrrgghht..."
Rigel panik mendapati kakinya tinggal satu. Dia menggerakkan kaki yang sudah tidak ada itu, hanya terasa dingin. Lantas Ia berusaha mencari di mana potongan kakinya yang hilang. Tapi kegelapan hutan Eberlyn itu bagai kebutaan di matanya. Keterbatasan melihat dan sulitnya bergerak membuat Rigel tidak bisa menemukan potongan kakinya.
YOU ARE READING
Unsterblich
FantasyKalau kalian merasa jika tidak bisa mati itu menyenangkan, kalian harus baca cerita ini. Ini adalah kisah seorang laki-laki yang mendapat kutukan tidak bisa mati dan mengalami banyak penderitaan.
