IN BETWEEN (1)

34 5 0
                                        

Ketika langit sudah menampakkan senjanya, entah mengapa hati gadis ini terasa kembali pedih. Pedih saat mengingat kembali kenangan itu. Kenangan saat masih bersama dirinya dan saat dia masih berada disini bersama sang gadis, berada di tempat yang sama. Namun, dia sudah tak lagi disini, tak lagi bersamanya. Ini memanglah kesalahannya, dan dia sangat ingin tuk kembali dan memulai semuanya dari awal. Namun apalah daya, saat ia kembali semuanya sudah menghilang.

Namanya Liana, seorang gadis remaja berumur 17 tahun yang sekarang sedang terduduk manis di balkon kamar sembari menatap indahnya langit saat senja. Langit yang menampakkan warna oranye itu seperti sedang tersenyum manis kepada Liana yang sedang pilu ini. Liana ikut tersenyum miris melihatnya.

Sudah hampir satu tahun lamanya dia menghilang tanpa kabar, dan selama itu juga Liana sudah mencarinya namun hasilnya nihil. Memang, dengan kembalinya Liana tak akan membuat perubahan yang ada. Liana tau bahwa dia sudah melakukan kesalahan. Namun jujur saja sekarang Liana merasa kehilangan, sosok dirinya yang selalu menghantui pikiran Liana seperti saat ini.

Terlalu hanyut dalam pikiran kelam, Liana tersadar bahwa langit kini tak lagi berwarna oranye. Hawa dingin pun menyeruak ke dalam kaos tipisnya. Liana segera masuk dan menutup pintu balkon. Liana langsung mengambil ponselnya di nakas, mengeceknya dan rupanya ia mendapati notifikasi pesan bahwa papa dan mama Liana akan pulang terlambat malam ini. Liana mengetikkan sesuatu untuk membalas lalu dengan segera ia matikan ponselnya dan pergi keluar kamar untuk mengambil beberapa snack dari dapur.

“Lia?” panggil seseorang dibalik pintu samping kamar Liana.

“oh kak Damar, kenapa?” tanya Liana kepada kakak kandungnya, Damar.

“gapapa, mau kemana?” tanya kak Damar yang sekarang sudah berada di samping Liana.

“mau ke dapur ambil snack” jawab Liana sambil berjalan menuju ke dapur.

“oh yaudah bareng, gue mau bikin kopi juga,” ucap kak Damar sambil merangkul pundak Liana, satu-satunya adik yang ia punya. Liana yang mendengar itu hanya mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.

Kak Damar adalah kakak yang satu-satunya yang dimiliki Liana, meski dari kecil selalu bertengkar, namun semakin beranjak dewasa kak Damar semakin menyayangi Liana, begitu pula Liana. Mereka saling menjaga meski disela-sela itu ada sedikit pertengkaran kecil. Maklum, namanya juga keluarga.

Setelah sampai di dapur, mereka langsung sibuk dengan kegiatan-kegiatan yang mereka rencanakan dilantai atas tadi, tepatnya lantai yang ditempati kamar kak Damar dan Liana. Liana kini sibuk dengan snack-snacknya dan kak Damar yang sibuk membuat kopi untuknya.

“besok sekolah lo gue anter apa naik ojek?” tanya kak Damar tiba-tiba kepada Liana sambil mengaduk-aduk kopinya.

Liana menggeleng-geleng kepalanya, “aku bareng sama papa, papa udah janji dari kemarin kalau mau nganterin aku” balas Liana pada kak Damar, membuat kak Damar hanya manggut-manggut mengerti.

Sesudah menyelesaikan kegiatan mereka di dapur, Liana dan kak Damar langsung kembali ke kamar dan entah melakukan kegiatan apa selanjutnya yang akan mereka lakukan di dalam kamar mereka.

Pagi telah tiba, dan kini Liana sudah siap dengan seragam putih abu-abunya. Hari ini adalah hari pertama Liana kembali ke sekolah setelah ia berlibur selama satu bulannya. Liana segera pamit kepada mamanya untuk berangkat ke sekolah bersamanya papanya.

Beberapa menit kemudian, Liana sudah sampai di depan gerbang sekolahnya, ia segara turun dari mobil tak lupa berpamitan dengan papanya. Liana pun langsung memasuki sekolahnya. Papanya yang melihat Liana sudah memasuki sekolahnya langsung menancap gasnya dan segera pergi dari sekolah Liana dan menuju ke kantornya.

In Between (COMPLETE)Where stories live. Discover now