Lilian Wiryatama
17 Mei 2017
“Lo ngapain ke sini?!” sapa cowok bertubuh atletis di hadapanku tanpa sentuhan hangat sedikitpun.
"Emm… Aku cuman mau kasih ini ke kamu." jawabku sedikit gugup sembari memberikan sebuah kotak dengan pita berbentuk hati. "Selamat ya! Akhirnya kamu keterima juga di klub badminton impianmu."
Selama beberapa saat aku membiarkan tanganku menjulur di udara, memegang hadiah untuk cowok yang sudah membuatku tergila-gila sejak masuk SMA Cakrawala. Suara di dalam hatiku berharap dia menerima pemberianku dengan respon yang lebih baik dari sekedar bentakan atau kata-kata menyakitkan yang biasa dilontarkannya kepadaku.
"Gue gak butuh kado dari lo. Pulang sana lo!" sahutnya kasar, tanpa memandang wajahku.
Kegembiraan yang semula memenuhi hatiku perlahan mulai surut, tergantikan oleh kekecewaan. Egois memang harapanku. Cowok tampan dan cuek seperti dia tidak akan pernah tertarik terhadap cewek lugu sekaligus kutu buku sepertiku.
"Ngapain lo masih berdiri di depan gue?! Masih gak ngerti ucapan gue barusan?" nada bicaranya meninggi, menarik perhatian semua orang di ruang makan ini.
Puluhan pasang mata memandangku aneh, seakan aku alien di antara para manusia. Menghindari semua tatapan yang membuatku ssemakin malu, aku kembali mengarahkan fokus ke cowok itu. "Tapi ini jersey pemain kesukaanmu, Ray. Ada tanda-"
"Gue gak peduli apa isi kotak norak lo itu. Kalo lo mau kasih hadiah yang spesial buat gue, mending sekarang lo jalan ngelewatin pintu keluar." tunjuknya ke pintu di belakangku.
Sakit.
Itulah yang aku rasakan ketika dia semakin tidak menghargaiku. Perlahan, aku merasakan sengatan hawa dingin menjalar di sekujur tubuhku. Tanganku pun mulai menyerah, menarik kembali hadiah spesial untuk dia.
Sejujurnya, Rayner sudah menolakku puluhan kali tetapi tidak pernah sekasar dan seperih ini. Bagai gadis bodoh yang melihat seorang pangeran, entah kenapa hatiku tetap menyukainya. Hingga beberapa menit yang lalu, aku masih bertekad untuk tidak menyerah mengejar lelaki itu walaupun genangan air mata di kedua mataku tidak dapat membohongi perasaanku yang sebenarnya.
"Mungkin kamu lagi capek, Ray. Aku kasih hadiahnya besok aja." balasku, mencoba tetap sumringah.
"Lo ini goblok atau bego, sih?!" Rayner mengambil langkah maju, mendekatiku.
Dekatnya jarak diantara kami membuatku dapat melihat kekesalan yang terpampang jelas di wajahnya. "Ngomong sama cewek kayak lo itu emang susah. Apa gue mesti ngomong pake bahasa ilmiah biar lo ngerti?!”
“Bukan gitu, Ray. Aku beneran cuman mau kasih kado kesini.” sekali lagi aku mengacungkan kotak hadiah itu.
“Gue juga beneran gak mau terima hadiah dari lo!”
Gusar, Rayner mengambil kotak itu lalu berjalan ke salah satu meja di tengah ruangan dan menghampiri seorang pemuda berkemeja hijau kotak-kotak. Dito, sapaan pemuda bergaya rambut tahun 90-an, adalah ketua klub matematika di sekolah. Tingkahnya yang polos sering membuat dia menjadi target keisengan anak-anak sekolah.
"Nih, buat lo. Tanda sayang dari Lily." kata Rayner sembari meletakkan kado di depan Dito.
"Makasih ya, Lilian." senyum polos merekah di bibir cowok genius itu.
Kok malah dikasih ke Dito?! Semakin lemas diriku melihat hadiah yang sudah aku persiapkan dengan susah payah jatuh begitu saja ke tangan orang lain.
Melangkah tegas ke meja Dito, aku merebut kembali kotak itu dan menyerahkan kepada pemilik original. "Bukan buat lo! Gue kasihnya ke Rayner!"
"Terima dong, Ray… Isinya lebih spesial dari kado aku yang lain." pintaku tetapi Rayner mengalihkan pandangan berlawanan dariku.
YOU ARE READING
Dear, Karma
Romance"Suatu saat , lo akan ada di posisi gue! Ngerasain betapa melelahkan mengejar orang seperti lo." "Berani taruhan? Cowok kayak gue gak akan ngemis ngemis cinta semiris lo!" ♤♤♤ Lilian Wiryatama, gadis lugu dan genius...
