1. Frozen

25 2 0
                                        

Kapan awal kau sadar bahwa kau hidup di dunia ini?

-Question 1-

-•••-

Aku mendengar desir angin berlalu lalang menimpa wajahku. Namun, kali ini ia tak membawa debu.

Ada apa gerangan?

Langit yang kulihat putih. Tidak ada warna biru disana. Hamparan tanah ditimbun dengan dedaunan menguning keemasan. Gambaran matahari tidak se-terik seperti ekspektasi ku.

Dimana?

Aku yakin menatap kedepan dimana ada tujuan yang ingin kucapai. Tapi aku bertanya-tanya sendiri seperti sebuah lelucon payah.

"Kemana aku ingin pergi?"

Ada suara bisik disana. Tak menentu arahnya dimana. Suaranya menepi sampai di telingaku. Berbisik lembut berkata,

Kenapa tidak melihat langkah kakimu?

Rimbun nya pepohonan seakan mempersilahkan ku untuk berlari. Sekelilingku tidak ada seseorang untukku disana. Pandanganku mencari-cari jalan lain seakan masih ragu untuk pergi ke depan. Namun aku ragu sampai mencoba mengubur dalam-dalam rasa raguku. Tapi kenapa ...

Kenapa aku tak baik-baik saja?

Kenapa pertanyaan itu semaunya berbisik. Menuntutku, memintaku bahkan memaksa ku untuk mengakui. Kemana aku harus mencari-cari untuk siapa gerangan?

Bisikan itu lagi-lagi menepi ke daun telingaku.

Aku tepat dibelakang mu...

Sulit bagiku mengerti. Kenapa aku menengok kebelakang. Setengah sadar melekukkan senyuman ku sendiri. Bahwa aku sadar, aku bermimpi seolah aku tidak sendirian disini.

-- 05.00 --

"PIP-PIP-PI...!!!"

Klak!

Tanganku meraih tombol off . Bunyinya yang begitu bising memaksa ragaku untuk terbangun dari alam tidur yang terasa begitu panjang. Benar-benar melelahkan.

Ada banyak pertanyaan yang melekat dalam pikiranku. Setidaknya ini tidak terlalu buruk. Aku tidak mau mengakui kegilaan ini. Bertanya-tanya di setiap bangun tidur bahwa memimpi kan hal yang sama berulang-ulang kali tergambar begitu nyata membuatku merasa bodoh sendiri. Aku menggaruk kasar rambutku frustasi sendiri, mengucek sepasang mataku terasa berat menyambut pagi.

Kenapa aku merasa takut sendirian?

Entah sudah berapa lama aku menyadari suatu hal yang tidak bisa ku pahami. Dimana aku bertanya-tanya dalam hati dengan timbal balik adalah jawaban itu tidak akan kutemukan. Saking menjengkelkannya, aku merasa sinting setiap bangun harus mencari-cari tahu padahal jawabannya akan berhasilkan angka Nol.

Lagi-lagi aku mengusap keningku seraya mengutuk diriku sendiri,

"Benar saja. Aku ini sudah benar-benar sinting."

-•••-

Lupakan tentang kejadian pagi yang masih membekas rasa jengkel dari balik benak ku sendiri. Mungkin satu-satunya sekarang hal terbaik adalah tak perlu bersusah payah untuk mencari tahu sampai mana. Masih dengan prinsip yang sama. Selagi tidak ada yang menganggu melebih batas kewajaran, cukup poker face dan lupakan.

Loket antrian seperti biasa diawali dengan antrian panjang dimabuk kesibukan kota metropolitan. Penyesalan kecil ku pun keluar begitu saja dari bibirku.

In The Days Of Yore...Stories to obsess over. Discover now