LANGIT BIRU
PART_1
Jaya mengajakku nonton konser Noah di Stadion. Aku berada di paling depan bersamanya. Aku di depannya dan dia dibelakangku sambil melindungiku jika ada tawuran nanti.
Saat Noah menyanyikan lagu, aku dan Jaya ikut menyanyikan. Senang sekali melihat Ariel sedekat ini. Makasih Jaya, udah mau ngajakin aku nonton dan memberikan kebahagiaan ini.
Tiba-tiba entah darimana orang-orang yg notaben cowok ini saling bersenggolan dan mereka tawuran. Mampus gue, posisi tak menguntungkan ada padaku. Jaya memegang tanganku erat dan hendak membawaku pergi dari tawuran ini. Tapi malang tanganku terlepas dari kekasihku Jaya. Aku berada di tengah-tengah orang tawuran. Woy saya disini cewek biarin aku pergi. Batinku. Ketakutan ini membuatku diam tak berkutik.
Aku terdorong kesana kemari dan lenganku kena bogem entah oleh siapa. Sakit sekali. Aku juga tak tahu bahwa mereka ada yg membawa benda tajam entah apa itu. Salah satu orang cowok terjerambab jatuh,pisau lipat tajamnya mengenai rok hitam miniku,
Sobeklah rok mini hitamku. Tak hanya merobek rokku tapi juga merobek paha kananku. Awalnya tak terasa apa-apa, tapi lama-lama perih, entah sedalam apa pisau itu menancap darah terus mengucur dari pahaku. Ya Tuhan tak tahan aku melihat paha putihku sobek seperti daging sapi yg di sayat.
Aku hampir terjatuh karena tak tahan menahan sakit tapi tak jadi terjatuh karena org dibelakangku menopangku. Pasti Jaya, ternyata bukan, entah siapa cowok ini dia memelukku dari belakang karena berusaha menopangku agar tak jatuh.
Aku melihatnya, dia tampan lengannya kuat. Badannya wangi, rambutnya jabrik.
Dia membopongku di bahunya. Tak berkata apa-apa dan langsung membawaku menjauhi area tawuran.
Cowok ini sama sekali tak berkata apa-apa. dia mendudukkan ku di rerumputan, gelap sekali sedangkan pahaku yg robek terus menerus mengeluarkan darah banyak, dia melepas kemeja yg dipakainya, mencabut pisau yang masih menancap dalam di pahaku laku mengikat luka dipahaku dengan kemejanya begitu erat. Sekarang dia hanga memakai kaos hitam.
"Masih kuat duduk?" Tanyanya.
Aku mengangguk sambil meringis kesakitan. Cowok ini lalu membopongku lagi di bahunya lalu membawaku entah kemana.
Ternyata dia membawaku ke parkiran. Dia mendudukkanku di motor satrianya.
"Pegangan" perintahnya.
Aku berpegangan padanya. Pahaku nyut-nyutan. Pusing kepalaku. Kusandakan kepalaku di punggungnya.
Rasanya seperti terbang, dia melajukan motornya seperti angin. Cepat sekali.
Sesampainya di depan igd rumah sakit para medis menjemputku dengan bed pasien. Luka di pahaku ini mulai terasa sangat nyeri. Kemeja cowok yg menolongku jadi penuh darah.
Terbaring di rumah sakit ini sangat tak nyaman, salah seorang perawat mengambil tas selempang kecilku dan membuka ikatan di pahaku. Petugas wanita yg lain memasangkan selang oksigen padaku.
Entah apa yg mereka kerjakan aq capek dan ingin tidur dan kemana cowok yg tadi membawaku ke sini.
"Mas mas daftar dulu ya" oh ternyata dia ada disana, aku mendengar seorang perawat berbicara pada cowok yang membawaku tadi.
Tanpa berkata apa-apa dia mengambil tasku yg berada di sampingku dan pergi ke pendaftaran.
"Dek, ini pahamu sobek, jadi sekarang harus dijahit biar gak pendarahan terus. Saya suntik ya" maz perawat yg tampan itu menyuntikku.
"Terserah mas yang penting aku sembuh" terbaring di atas bed yg dingin, bersamaan dengan dinginnya AC semakin membuatku menggigil.
"Maz, aq dingin, pahaku sakit banget" kataku.
Kemudian dokter memeriksaku dan menginstruksikan agar aku diinfus saja.
Entah obat apa saja yg mereka suntikkan. Mungkin juga anti nyeri karena rasa sakitnya berkurang.
Cowok itu kembali lagi padaku dan meminta hapeku untuk menelpon keluargaku.
Aq meminta tolong padanya agar ia mengambil handphoneku di saku rok miniku dan dihubungilah keluargaku.
Dia sama sekali tak berbicara apa-apa padaku. Yang dia lakukan hanya menggenggam tanganku seolah-olah menyalurkan kekuatan padaku. Menggenggamku sampai aku tertidur.
Setelah aku terbangun Mom dan daddy sudah di sampingku. Entah berapa lama aku tertidur aku sudah berada di ruangan rawat inap.
"Nak, dimana Jaya? Kenapa dia meninggalkanmu sendiri?" Tanya Dad.
Butuh beberapa detik saat aku mencerna pertanyaan Dad. Pasti Daddy marah pada Jaya karena Jaya yang mengajakku nonton konser dan dia berpamitan pada kedua org tuaku.
"No Dad, ini hanya ketidak sengajaan. Kami tak sengaja terpisah karena ada tawuran dan ada cowok gila bawa benda tajam dan terjatuh sama Biru, Dad" kataku.
"Lebih baik kamu stop berhubungan dengan Jaya, karena dia sama sekali gak baik" Dad melarangku untuk berhubungan dengan Jaya, sedangkan Jaya adalah pcarku. Daddy apa-apaan ini.
"Tapi Dad...." kataku.
"Sudah, istirahat saja. Jika memang pacarmu itu menyayangimu kenapa sampai sekarang dia tak kemari. Bahkan menelponmu saja tidak" Dad juga menunjukkan ponselku dan memang Jaya sama sekali tak menghubungiku. Sangat kecewa.
"Dad, kakak laki-laki yang tadi menolong biru, dimana dia?" Tanyaku.
"Oh dia sudah berpamitan pulang" kata Dad.
"Daddy tahu siapa namanya? Apa Dad sudah berterima kasih?" Tanyaku.
"Tentu saja Dad sudah berterima kasih. Sampai lupa tak bertanya namanya" kata Dad.
By the way semakin penasaran saja aku padanya. Pendiam, tak banyak bicara dan cakep, macho, strong. Ah apa-apaan aku ini.
"Mom, haus" pintaku.
"Mau minum apa sayang?" Tanya Mom.
"air mom" jawabku.
♡♡♡♡♡
Aku sudah sehat kembali setelah beberapa hari berjalan dengan kurk. Dan semua jahitan juga sudah Terlepas.
Aku dan Jaya masih berhubungan dan dia menjelaskan semua. Aku masih percaya saja padanya.
Sepulang kuliah aku menemani Jaya latihan di studio musik disamping kampus. Ya Jaya adalah drummer,itu salah satunya yg membuatku menyukainya.
Bersama teman-temannya yg lain. Bukan aku satu-satunya cewek yg menemani mereka bermain musik tapi juga ada Melisa, pacar Arya sang basist.
Aku juga mengenal mereka semua, posisi Melody ada steve, dan gitar 2 ada Irfan. Mereka semua gokil. Oh iya steve merangkap menjadi Vocal.
Aq merasa sangat sayang padanya, maksudku Jaya. Dia juga berjanji padaku akan melamarku setelah dia kerja dan setelah aku lulus kuliah.
"Biru, coba kamu nyanyi lagu ini, kamu kan bagus pronounciationnya" entah kenapa steve menyebut namaku bukan Melisa.
"Aku ga bisa nyanyi steve" jawabku.
"Try it" katanya.
Aku menoleh pada Jaya dan Jaya mengiyakan. Akhirnya aku mau mau saja. Aku bahkan tidak hafal liriknya tapi steve meminjamkan tabnya disana sudah muncul liriknya.
Ternyata lagunya she will be loved nya maroon 5. Ini sih sering aku dengarkan. Haha dengan mudah aku menyanyikan lagu itu.
Seusai latihan Jaya tampak buru-buru, dia pamitan pulang dulu. Lalu aku ditinggalnya. Apa maksudnya berubah begini, membuatku curiga bahwa ada yg tak beres dengannya.
Aku mencegat angkot di dipinggir jalan. Apes banget nasibku, niatnya nemenin pacar latihan malah sekarang ditinggal sama si pacar.
"Biru, bareng aku aja yuk" kata sebuah suara.
"eh, Steve" kataku kaget.
"Ayo aku antar kamu pulang" katanya.
"Tapi...Jaya...aku..." kataku bingung.
"Hahah, takut amat sama Jaya" dia meledekku.
"Bukan takut tapi aku menghargai Jaya" kataku.
"Aku ini teman Jaya, ayolah" katanya lagi setengah memaksa.
"Baiklah" kataku.
Akhirnya aku duduk manis juga di motor Steve. Steve melajukan motornya dan rok miniku berkibar-kibar tertiup kencangnya angin karena laju motornya yg cepat.
Aku jadi ingat film devil man ketika akhira dan miki naik motor di jalan dekat laut. Rok mini seragam miki berkibar-kibar sampai celana dalamnya terlihat. Tapi untungnya aku memakai hot pant. Hihihi.
Sebelum Steve pulang ia meminta nomor dan menginvite bbmku. Aneh juga sih sudah lumayan lama aku mengenal Steve tapi baru sekarang berkontak dengannya.
♡♡♡♡♡
Semakin hari Jaya semakin aneh. Dia berubah dan aku tak tahu apa ada yg salah denganku.
Sudah 3 hari ini dia tidak menghubungiku. Atau mungkin dia sudah lupa sama aku?.
STEVE-GATES: PING!!!
YOU ARE READING
Langit Biru
Teen Fictionmengisahkan seorang gadis bernama biru yg jatuh cinta pada seorang pemuda bernama Langit, dan begitu banyak perjuangan yg harus mereka hadapi.
