18. Rasa Penasaran

2.1K 179 14
                                    

Di sepanjang perjalanan menuju ruang guru aku semakin dibuat bingung dengan siswi siswi yang melihatku dengan tatapan sinisnya. Sebenarnya ada apa dengan mereka?


"Gak usah sok kecantikan deh lo jadi cewek!" kata seorang siswi berambut panjang sembari mengenggol bahuku.

Aku beristighfar di dalam hati karena tidak ingin terpancing emosi yang nanti malah berujung perkelahian yang akan sangat merugikan terlebih karena aku tidak ingin mencari masalah dengan siapa pun.

"Maaf..gue nggak ngerti maksud lo apa," kataku saat segerombolan siswi itu menghalangi jalanku.

"Gak usah sok polos deh lo!" ucap salah satu dari mereka dengan ketus.

"Gue--" belum lagi aku menyelesikan perkataanku, seseorang sudah lebih dulu memotongnya.

"Kalo ada masalah selesaikan baik-baik, jangan main keroyokan. Kalian itu orang berpendidikan, jangan main fisik..nggak malu sama seragam yang kalian pake?" tanyanya sinis diakhir kalimat.

Aku menengok ke belakang ternyata Vino. Aku ingin mengucap terima kasih namun urung karena tatapan dari segerombolan siswi ini yang semakin sinis padaku.

"Kalian bubar sekarang atau mau gue panggil guru BK?" tanyanya lagi dengan suara yang begitu dingin.

Akhirnya segerombolan siswi ini bubar, "Gak usah kepedean. Gue cuma nggak suka kalo mereka menindas orang yang nggak bersalah." kata Vino. Dasar ya laki-laki ini, baru saja aku mau mengucap terima kasih. Tetapi sikap menyebalkannya sudah muncul saja.

***

"Iya Bapak memanggil kamu. Terima kasih ya Difa karena kamu sudah mau mengajari Arvino. Bapak tadi mendapat laporan dari Ibu Sarah kalau Arvino mendapatkan nilai ulangan matematika delapan puluh. Ini suatu kemajuan yang sangat bagus. Bapak harap kamu bisa rutin mengajak Arvino untuk belajar bersama," jelas Pak Bagas panjang lebar. Aku heran kenapa Pak Bagas sangat perhatian terhadap Vino? Sedetik kemudian aku teringat kalau Pak Bagas ini adalah wali kelas Vino.


"Iya sama-sama, Pak. Saya senang bisa membantu, menurut pengamatan saya Arvino itu termasuk murid yang cerdas, Pak. Karena saat sedang belajar bersama, Arvino bisa membuat rumus matematika yang lebih sederhana dan mudah untuk dipahami."

"Ya..kamu benar. Arvino itu sebenarnya anak yang cerdas. Namun karena..." Pak Bagas tampak menerawang ke masa lalu. Aku ingin bertanya tetapi takut dikira tidak sopan. Tapi aku sangat penasaran dengan kelanjutan cerita Pak Bagas. Berharap Pak Bagas melanjutkan ucapannya. Aku menarik napas, mungkin belum saatnya aku mengetahui ada apa sebenarnya.

"Ya sudah kalau begitu kamu boleh kembali, mau shalat dhuha kan?" tanya Pak Bagas membuat aku bingung dari mana Pak Bagas tahu.

***

Mohon maaf sebagian part ini dihapus untuk kepentingan penerbitan. ❤🙏

 ❤🙏

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tak Terucap [TAMAT] | TERBITTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang