5. Khawatir

2.9K 258 12
                                    

Bismillahirrahmanirrahim

***

Segala hal bisa diselesaikan secara baik-baik. Tak ada keributan yang dapat menyelesaikan masalah justru hanya akan menambah masalah.

~Tak Terucap~
Rani Septiani

~Tak Terucap~Rani Septiani

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***

Ketika aku sedang asyik membaca buku, aku dikejutkan dengan suara baku hantam di depan kelas. Aku saling pandang dengan Alya yang duduk tepat disamping kiriku. Lalu saat aku melirik ke kursi belakangku, yaitu kursi Hisyam ternyata dia sudah bangkit dan berlari ke depan kelas. Aku yang merasa penasaran pun akhirnya ikut bangkit dan berlari kecil menuju luar kelas diikuti Alya.

Bugh

Tepat saat aku sampai di pintu kelas suara pukulan itu melayang dari salah seorang siswa ke siswa yang lainnya.

"Kalo lo ngerasa udah jadi bos. Gak usah sekolah, sana lo kerja aja di kantor." ucap siswa itu

"Apa urusan lo hah?! Anak baru gak usah ikut campur. Berani lo sama gue?" tantang orang yang dipukul tadi,

Aku tak mengetahui siapa yang berkelahi karena siswa siswi lainnya ikut menonton bukannya seharusnya mereka memisahkan orang yang sedang berkelahi ini malah berkubu dan mulai bersorak mendukung. Tak mungkinkan jika aku yang melerai mereka?

"Jangan mentang-mentang lo kakak kelas terus lo bersikap seenak jidat lo ke ad. Emang lo siapa? Kenapa gue harus takut sama lo?"

Aku merasa suasana semakin memanas. Akhirnya aku berlari menuju ruang guru yang lumayan jauh.

"Assalamualaikum," ucapku sembari berusaha menarik napas mengumpulkan pasokan oksigen saat sampai kebetulan pintu ruang guru sedang dibuka.

"Waalaikumussalam. Ada apa Salsabila?" tanya salah seorang guru laki-laki yang belum aku ketahui namanya.

Guru ini mengetahui namaku karena name tag akrilik peniti yang tertempel di hijabku.

"Begini pak, di depan ruang kelas sepuluh MIA 2 ada yang sedang berkelahi,"

"Iya bapak segera ke sana. Terima kasih informasinya Salsabila."

"Iya sama-sama pak."

Aku berjalan gontai menuju ruang kelas karena tenagaku terkuras untuk berlari. Maklum, aku bukan tipe orang yang menyukai olahraga sehingga baru berlari seperti ini saja sudah merasa berlari jarak seribu meter. Saat aku sampai mereka sudah bubar sepertinya bapak guru sudah berhasil melerai mereka.

"Lo dari mana aja?" tanya Alya, "Seru banget tau gak tadi. Gue berasa nonton pertandingan tinju," lanjut Alya seraya bergaya petinju yang sedang beraksi di atas ring tinju.

Tak Terucap [TAMAT] | TERBITTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang