11. Orang Baik?

2.1K 188 8
                                    

Bismillahirrahmanirrahim

***


~Tak Terucap~
Rani Septiani

***

"AAAA," ucapku terkejut saat seseorang hendak menarik tasku.

"Aaaa lepasin. Ngapain narik-narik tas aku..."

"LEPAS TAS LO! Kalo lo mau selamat.." ucapnya membuat nyaliku semakin ciut.

"Ini tas aku. Lepasin.." ucapku masih bersikukuh mempertahankan tasku.

"Aw... Astaghfirullah.." pekikku terkejut saat tubuhku tersungkur ke aspal dan ternyata tasku sudah berada di tangan dua orang laki-laki bertubuh besar itu.

Seketika aku berkeringat dingin, jantungku berdegup kencang. Aku terus merapalkan do'a di dalam hati. Mereka mendekat dan aku menangis dalam diam. Tubuhku bergetar hebat. Ingin rasanya berlari tetapi kakiku terasa begitu lemas.

Bugh bugh bugh

Aku mendongak penasaran siapa yang telah datang.

"BANCI LO SEMUA... Ngapain gangguin cewek?" ucap seorang lelaki membelakangiku. Dia menggunakan seragam sekolah yang sama sepertiku.

"APA LO?" tanya salah seorang preman.

"GAK USAH IKUT CAMPUR!" tambah teman preman itu.

Bugh bugh

Terjadi perkelahian diantara mereka dan aku hanya meringis saat tonjokan dari lelaki yang menolongku itu mengenai wajah dan perut preman-preman itu. Aku mengucap syukur saat lelaki ini berhasil mengalahkan preman itu. Lalu dia mengambil tasku yang dilempar preman itu sebelum kabur. Dia berbalik.

Deg

"Vino?" gumamku.

"Santai aja kali muka lo nggak usah gitu. Gue bukan orang jahat. Nih tas lo." ucapnya sambil berdiri di depanku lalu menyerahkan tasku.

"M..makasih.." ucapku terbata.

"Lo pucet banget. Pasti syok. Gue beliin minum bentar," ucapnya lalu berbalik.

"Nggak usah.. Lo jangan pergi.." ucapku sambil memilin ujung hijab yang aku kenakan.

"Kenapa?" tanyanya sambil berbalik dan menatapku.

Aku menunduk, "Gue...takut." ucapku lirih.

"Oke gue nggak jadi beli minum.." dia berjongkok di depanku, "Mau sampai kapan lo duduk di aspal?"

Aku tersadar bahwa masih duduk di aspal. Lalu aku berusaha bangkit, "Aw..." ucapku lalu kembali terduduk.

"Itu rok deket lutut lo berdarah kayaknya luka. Bisa bangun nggak?"

Ingin rasanya aku memarahinya jelas-jelas tadi aku kesakitan saat akan berdiri dan sekarang dia bertanya aku bisa bangun atau tidak? Oke sabar Difa. Dia udah nolongin kamu.

"Bisa." jawabku

"Ya udah berdiri." ucapnya dingin. Sungguh menyebalkan. Ucapku dalam hati.

"Aw.." lirihku untuk yang kedua kalinya.

Lalu Vino melepas dasi yang digunakannya membuat aku mengerutkan kening.

"Nih. Lo pegang dasinya nanti gue tarik. Gue bantu lo berdiri."

Aku mengikuti perintahnya dan berhasil berdiri. Lalu dia mengambil alih tasku dan membawanya.

"Gue anter lo pulang. Tapi gue nggak bawa kendaraan. Mau pesen ojek online tapi gue lupa bawa hp. Jangan kegeeran, gue cuma nolong doang." jelasnya

"Gue jalan kaki aja."

Aku berjalan di depannya dengan tertatih sesekali memegangi lutut saat merasa perih lalu berhenti sejenak. Sedangkan Vino berjalan di belakangku dengan jarak dua meter di belakangku sembari menenteng tasku.

"Lo? Siapa nama lo?" tanyanya saat aku berhenti sejenak.

"Gue Difa." jawabku singkat

"Oh. Gue nggak perlu ngasih tahu nama karena gue yakin lo tahu nama gue secara gue populer di sekolah,"


***

Sebagian part sudah dihapus untuk kepentingan penerbitan. ❤🙏

***

Jangan lupa vote dan komen temen-temen. Syukron.

Tag me on instagram @ranisseptt_ if you share quotes from this story.

Jadikan Al-Qur'an sebagai bacaan yang utama.

Tak Terucap [TAMAT] | TERBITTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang