"Arrggh... Aku mau beli buku ini!" pekik gadis berparas cantik yang tengah memasukkan buku dengan brutal ke keranjang belanjaan.
Sorot mata pengunjung toko buku langsung tertuju pada gadis tersebut, melihatnya seperti orang tak waras berjalan kesana-kemari dengan sorot matanya yang berbinar. Gadis lain yang berada disampingnya menggeleng pasrah melihat kelakuan sahabatnya itu, padahal tidak sekali dua kali mereka pergi ke toko buku, kelakuan gadis cantik itu tetap sama seperti pertama kali datang.
"Kiya bisa gak sih gak usah teriak," omel Rina karena malu menjadi pusat perhatian.
Kiya langsung menghentikan langkahnya dan menatap kearah Rina. "Rina biarin Kiya berburu buku dulu ya."
"Tapi Kiya_" Belum sempat Rina melanjutkan perkataannya Kiya sudah berlari kearah rak buku best seller.
"Ya ampun, inikan novel yang Kiya pingin baca," ucap Kiya tanpa memperdulikan Rina. Ia langsung menyabet dan memasukkannya kedalam keranjang.
Rina mendengus kesal ia tak mau kejadian dulu menimpanya lagi, kejadian saat mereka diusir dari toko buku karena Kiya yang membuat keributan.
Saat itu keduanya pergi ke toko buku karena harus membeli beberapa buku paket untuk tambahan materi. Namun saat sampai di sana Kiya menemukan sebuah novel sastra dan ingin membelinya akan tetapi, seseorang sudah mengambilnya duluan.
Kiya tidak terima dan beradu mulut dengan orang itu hingga membuat keributan, Rina yang melihat langsung menghampiri Kiya dan berniat melerai mereka, akan tetapi bukannya berdamai orang itu malah memanggil security dan mengusir mereka berdua.
Sungguh memalukan, Rina harus bergerak cepat jika tidak entah apa yang akan terjadi. Ia tak mau mendapatkan masalah. Rina berjalan kearah Kiya dan meraih tangannya.
"Rina, Kiya belum selesai," rengeknya yang tidak dihiraukan oleh Rina.
Rina lalu membawa Kiya ke kasir lebih tepatnya menyeret.
"Udah Kiya, sekarang bayar bukunya terus kita pulang, gue gak mau diomelin karena pulang telat," ucap Rina dengan tegas.
"Tapi Kiya kan masih_"
"Apa! Lo masih mau apalagi sih Kiya emangnya lo mau bayar pake' apa!" Rina menunjuk buku yang tengah Kiya tenteng. "Pake' amal perbuatan lo?!" lanjutnya seraya mengelus dada sabar.
"Emang bisa Rina?" tanya Kiya polos.
Rina langsung tertawa kencang. "Kalau bisa udah jadi kaya lah gue Kiya!"
"Emangnya Rina pernah beramal?" tanyanya lagi yang semakin membuat darah Rina naik ke ubun-ubun.
Sepupu sekaligus sahabatnya ini memang menguji kesabarannya.
"Cepet bayar atau lo gue tinggal!" final Rina lelah.
"Tapi Kiya kan mau beli semuanya,"
"Kapan-kapan aja udah bayar udah sore nih," ucap Rina tak sabar.
Kiya menghembuskan napas pasrah, tak mungkin ia bisa membujuk hati keras Rina lebih baik ia menuruti saja, daripada harus berdebat yang pasti gak bakal kelar sampai Upin Ipin lulus TK.
"Duh yang mana nih?" tanyanya pada diri sendiri
Kiya mengambil salah satu novel lalu mengembalikannya lagi, semuanya terjadi berulang-ulang ambil letak, ambil letak.
Rina mendengus kesal, lalu dengan segera mengambil salah satu dan membayarnya di kasir.
"Maafin ya novel, suatu saat nanti Kiya bakal beli kalian semua kalau perlu sama Mas Kasirnya juga," tukas Kiya yang langsung dihadiahi sorotan tajam petugas kasir.
YOU ARE READING
Maniac Book
Teen FictionElsa Lakiya Inggrita seorang gadis SMA hiperaktif yang kecanduan terhadap buku. Dimanapun dan kapanpun membaca buku adalah hal wajib yang harus ia lakukan. Kebiasaan yang terlalu berlebihan itu membuat banyak orang kerepotan hingga pada suatu saat...
