Chapter 6

21 5 2
                                    

Terjadi keheningan diantara empat orang yang sedang berkumpul sekarang, Faki yang terlihat melamun, Galang dan Fanda begitu fokus makan dan Stella memainkan ponsel.

"Stell, kalo makan jangan main hp!" Tegur Galang yang tiba-tiba mengamatinya.

"Aku udah selesai makan." Jawab Stella.

"Stell, bosen makan ayam bilang dong!" Gerutu Galang sembari mengambil ayam goreng yang ada di nasi box milik Stella.

"Halah, rakus lu. Emang ga bosen tiap hari bau ayam lu Lang," ejek Fanda.

Galang bekerja di restoran cepat saji yang terkenal dengan ayam crispy terenak. Pekerjaannya pasti tak jauh-jauh dari memasak ayam. Tapi Galang bukan orang yang menolak makanan, apapun dia makan. Selain laperan, dia juga rakus. Terbukti, Fanda yang sering melihat Galang membawa banyak ayam goreng dari tempat kerjanya, apalagi kalo bukan atas kecurangannya. Galang membeli makanan dari restorannya sendiri kan sebuah ketidakmungkinan.

"Fak, lu jangan ngalamun. Kesambet tante garang ntar." Celetuk Fanda menggoda. Gestur Fanda kini sudah tak malu-malu lagi menampakkan rasa sukanya terhadap Faki.

"Ouya, kenpa ga makan Ki?" Tanya Stella lembut.

"Udah, pasti ada jalan bro!" Ujar Galang sambil menepuk pundak Faki.

Faki hanya tertunduk, tatapannya kini ke jalan raya.

"Kenapa,Ki?" Tanya Stella polos. Tiba-tiba Stella mulai bertanya Faki.

"Dia nganggur sekarang." Jawab Galang tanpa diminta.

"Kerjaan lu kemarin kenapa?" Tanya Fanda penuh selidik.

"Gulung tikar." Jawab Faki malas.

"Nah, ini markas ada bengkel juga kan kalian bisa dapat penghasilan." Ujar Stella sambil mengamati tempat yang dijadikan markas itu.

"Lu ga tau si Stell," ucap Galang dengan muka seriusnya.

"Kenpa?" Tanya Stella penasaran.

"Bengkel ini ga ada yang mau langganan, tiap anak disini punya satu keahlian masing-masing. Ya bukan ahli tapi cuma bisa-bisaan doang. Aryo tuh yang gendut tadi dia bisa nambal ban, kalo Faki bisa perbaiki mesin dalam, kalo aku si cuma bisa mompa ban kempes...hahahhaha" tawa Galang yang berhasil meledek Stella.

"Aku pikir serius apaan, garing banget." Stella mulai badmood.

"Kalaupun bengkel ini ada langgaman juga belum tentu cukup Stell, buat memenuhi kebutuhan hidup kita." Ujar Faki.

"Orang kaya ga tau masalah ginian Fak," celetuk Fanda sambil mengelus rambut curly-nya.

"Kalau kalian cerita aku bisa mengerti." Ucap Stella menatap tajam ketiga temannya yang duduk bersebelahan.

Drtttt..

Ponsel Stella berdering, menyelamatkan Fanda yang sebenarnya akan diterkam Stella. Fanda terlihat bernafas lega.

Stella meraih ponselnya dan membaca nama penelpon.

"Halo, Aunty."

"Stella, ke Rumah sakit sekarang!"

"Kenapa?"

"Oma drop."

"Oma..."

"Iya Aunty kirim lokasinya di whatsapp."

"Iya."

Seketika badan Stella melemas, pantas saja dia tak nafsu makan.

"Kenapa, Stell?" Tanya Faki yang sedari tadi memperhatikan raut Stella  mulai pucat.

"Stell, ada apa sama Oma?" Ucap Fanda ikut panik.

"Oma di Rumah sakit, aku harus kesana sekarang." Jawab Stella lemas.

"Oke, gue anter." Ucap Faki yang sontak membuat Fanda melongo.

"Pake motor lu?" Tanya Fanda meremehkan.

"Lah, kenpa emang?" Tanya Galang sewot atas ucapan Fanda.

"Gapapa, ayo Ki. Yang penting bisa cepat sampai kesana. Oma butuh aku sekarang." Ucap Stella, dengan matanya yang sudah berair.

"Stell, gue pesenin taxi online. Lu tenang dulu." Tawar Fanda meyakinkan.

"Udah buru, Ayo!" Ajak Faki yang sudah berada di motornya lengkap dengan helm.

Stella berjalan ke motor Faki dan meraih helm yang ada di jok belakang.

"Fan, Lang, kita pergi dulu ya." Pamit Stella yang langsung berlalu dibawa Faki naik motor.

"Stell.. lu jangan .."

"Aih, lu jangan lebai deh!" Ketus Galang yang melihat reaksi Fanda berlebihan.

"Lu ga ngerti Lang!" Bentak Fanda yang terlihat ingin menangis.

"Ga ngerti apa? Apa masalahnya naik motor?" Ucap Galang santai.

"Stella ga pernah naik motor seumur hidup!" Bentak Fanda.


___________






Rest BrokenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang