PART 1

3.9K 181 36
                                        


Absen dulu sebelum baca 😆
Aku yakin kalian tahu gimana menghargai penulis.


Kebahagiaan yang meluap di segala penjuru gedung ini tak mampu menyelinap dalam sanubari. Kuembuskan napas panjang, berusaha untuk meredam segala gejolak dalam dada. Dengan tangan yang mulai berkeringat karena menahan penat, kukeluarkan benda pipih warna rose dari tas pesta. Sedikit gemetar merasai amarah dan sumpah serapah yang siap tumpah.

[Melihat mereka di pelaminan, hatiku sakit, Sa!]

Pesan terkirim pada Nafisa. Tertera dilayar tentang keadaan sahabatku itu tengah mengetik balasan. Selama menunggu, aku berusaha untuk tetap tenang. mengambil jamuan makanan bersama para tamu yang datang. Berusaha menikmati kemeriahan pesta yang begitu indah nan megah. Meski hati menjerit meronta menahan kidung derita, mencoba bertahan. Memosisikan diri sebaik mungkin agar mereka tak tahu seputar  jiwa yang begitu nelangsa.

[Bell, kamu baik-baik saja, ‘kan?]

Aku tersenyum getir membaca pesan dari Nafisa. Bagaimana bisa menyatakan baik sedangkan belahan jiwa tengah bersanding mesra di pelaminan sana? Ingin rasanya mengatakan kalau sebenarnya diri ini begitu terluka. Namun, kuurungkan. Seribu alasan menyertai kehadiranku di pesta ini. Pun dengan segenap konsekunsinya.

[Aku baik kok, Sa. Hanya saja ....]

[Hanya saja kenapa? Aku segera menyusulmu. Tunggu di situ, jangan ke mana-mana!]

Perlahan, perasaan entah mulai merajai pikiranku. Setiap debar kecewa telah dileburkan dalam titik pasrah. Mencoba melupakan. Namun, bayangan lelaki itu enggan berlalu dari kalbu. Terus menyusup ke relung jiwa. Mengingatkan beragam memori indah yang pernah dilewati bersama.

Cinta telah mengakar begitu kuat. Namanya cukup lama bertakhta di hati. Sekian lama merindu, menunggu, dan menginginkan lelaki itu halal untukku. Namun, apa yang dia perbuat  telah menyisakan sembilu. Hancur tanpa harap untuk kembali bersatu. Di saat fondasi cinta dibangun kokoh hanya untuknya, pernikahan itu telah meruntuhkan segalanya.

[Jangan menangis! Aku segera datang. Kebodohan terbesarmu hari ini karena kau berani hadir ke acara itu.]

Aku mengusap bulir bening yang hampir saja membobol pertahanan kelopak mata. Dari mana Nafisa tahu tentang kaca-kaca di kedua netra ini?

Dia begitu siap sedia dan sigap. Akan ada kapan pun dan dimanapun saat aku membutuhkan bala bantuan. Seperti relawan yang terus berusaha memperjuangkan kemaslahatan. Tulus tanpa pamrih. Itu yang membuat kami akrab meski kini dia sudah berkeluarga. Walaupun beda tempat bekerja dia tetap sering mengunjungiku. Aku jadi teringat akan kalimat pamungkasnya, “Kau tidak hanya sahabat, tapi  juga saudaraku.”

Lamunan kembali teringat pada kejadian awal sebuah kehancuran. Di sabtu pagi yang cerah seorang remaja mengantarkan sebuah undangan bersampul merah jambu ke rumah. Kuperhatikan dengan saksama. Netra membulat sempurna ketika mengamati foto yang terpampang di sana. Mendadak, seluruh tulang belulang terasa kaku tak mampu untuk sekedar menopang tubuh. Aku tersungkur di depan pintu seraya meremas kertas dalam genggaman. Lemas. Tangan gemetar, jantung berdetak tak karuan. Air mata terus berderai dengan derasnya.

Sepucuk undangan atas nama Amran Wijaya dan Nia Anastasia, hendak menikah pada hari minggu depan. Aku menggeleng tak percaya. Semua orang tahu kalau Mas Amran--kekasihku. Terlebih …, Nia! Dia adalah sahabat yang menjadi keluarga. Mustahil ia melakukan semua ini.

Aku, Nafisa dan Nia adalah sahabat sejak sekolah dasar. Tali temali ikatan batin kita terjalin begitu erat. Tiga serangkai orang menyebutnya. Dalam hal dan bidang apa pun, kami selalu kompak. Ternyata, pernikahan itu yang membuat Nia akhir-akhir ini jarang berkumpul bersama. Banyak hal yang dia sembunyikan dariku dan Nafisa. Ia menikung dari belakang.

Kala itu, aku rapuh dalam gelimang lara yang menancap tepat menghunjam raga. Remuk seluruh jiwa. Pupus sudah harapan untuk membina mahligai indah bersama sang kekasih pujaan. Satu-satunya petunjuk dengan menghadiri pesta undangan. Semoga semua hanya mimpi atau lelucon belaka. Aku tak berharap banyak, hanya perlu meyakinkan diri kalau semua ini benar adanya.

[Tenanglah, aku segera datang.  Aku tahu kamu, Bell. Aku percaya kau tak akan berbuat macam-macam.]

Pesan dari Nafisa membuyarkan lamunan. Aku tersenyum miris. Betapa bodohnya diri ini karena tak sedikit pun curiga tentang hubungan keduanya?

[Naif. Aku bukan malaikat, Sa! Seharusnya aku yang berada di pelaminan itu, bukan Nia!]

Ritme jantung semakin berdetak tak karuan. Napas tersengal menahan gejolak cemburu yang kian menderu. Darah mendidih mengiringi resah dan gelisah yang mulai tak tahu arah. Kutahan air  mata agar tak jatuh berderai, membiarkan keramaian menghapuskannya.

Di panggung megah itu, mereka bersanding bak seorang ratu dan raja. Gaun pengantin berwarna biru melekat sempurna di tubuh Nia. Ia tampak begitu memesona. Pun dengan seseorang di sampingnya. Lelaki tinggi tegap berhidung mancung itu tampak sangat menawan. Akan tetapi, sinar cinta tak kutemukan di beranda netranya. Seharusnya, ia bahagia di singgasana itu. Namun, aku merasakan sesosok Mas Amran yang berbeda. Ada apa dengannya?

Aku semakin tak mengerti. Ketika dua insan sedang dimabuk asmara, mengapa orang yang disebut sahabat datang untuk menodainya? Apakah itu yang dinamakan sahabat? Mencuri kekasih sahabatnya sendiri tanpa ijin, lalu mengundangku ke acara pelaminannya? Entah untuk menyemaikan luka atau menunjukkan akan arti sebuah kemenangan.
Lamunan kembali terhenti saat seorang pramusaji menyajikan es buah tepat di hadapan. Aku hanya memandang gelas dengan tatapan nanar. Tak ada selera sedikit pun. Rasanya semua makanan hambar di lidah.

“Bella Ayuningtyas--sahabat spesial dari kedua mempelai--dimohon untuk naik ke pelaminan memberikan ucapan selamat atas pernikahan Amran Wijaya putra dari Bapak Djadmiko dan Ibu Sriningsih dengan Nia Anastasya putri dari Bapak Ahmad Fauzi dan Ibu Sarmini. Semoga pernikahan mereka berjalan lancar, menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah. Kemudian, nantinya mendapatkan anak yang saleh dan salehah. Silakan untuk tim kameramen agar mengabadikan momen spesial mereka.” Seorang MC memanggil namaku dengan pengeras suara.

Aku tersentak kaget. Berpasaang-pasang mata mengedarkan pandangan ke arahku. Mungkin, mereka merasa akulah tamu terspesial. Padahal, Nia telah bermain cantik di belakang. Rajaman luka mengarah tepat di dada. Aku tak mampu berkutik, pasrah. Membiarkan sayatan lain mengiris batin. Menahan tangis dengan suguhan senyuman, meski itu penuh kepalsuan.

Alunan musik khas adat Jawa yang selalu di putar ketika pengantin berdiri di pelaminan kian menemani ketegangan ini. Debar jantung semakin tak beraturan. Keringat dingin mengucur dengan derasnya. Mendadak kering kerontang menyapu tenggorokan. Kutelan saliva untuk menghapus perasaan resah dan gelisah. Di hadapan banyak orang, aku harus tampil paripurna. Pantang air mata mencuat di keramaian.

Dengan langkah pelan aku berjalan menuju pelaminan. Gaun satin berwana merah dipadu dengan tas berwarna senada turut melengkapi penampilanku. Grogi datang menjelma. Rasa yang pernah ada kembali menorehkan kenangan menyakitkan. Semua kejadian antara aku dengannya terputar seperti film layar lebar, silih berganti dari adegan satu menuju lainnya.

‘Mas Amran ... mengapa kau setega itu?’
Aku berusaha untuk baik-baik saja. Namun, justru hati semakin terluka.

Langkah terus maju menuju pelaminan hingga kini jarak antara kami begitu dekat. Mas Amran menatapku dengan tatapan entah. Jantung berdegup semakin kencang seperti genderang yang mau perang. Debar membahagiakan yang dulu kurasakan saat dekat dengannya berganti menjadi rangkaian derita.

‘Bella, kamu harus kuat. Kumohon ... kuatlah!’

Aroma melati menguar menusuk ke indera penciuman. Satu persatu anak tangga dinaiki. Nia tersenyum puas. Merayakan kemenangannya atas kekasihku. Aku berjalan mendekat. Menatapnya dengan tatapan tajam penuh makna. “Selamat untuk pernikahan kalian,”  ucapku ramah berusaha tersenyum semaksimal mungkin.

Mas Amran yang sedari tadi menunduk kini mendongak tak percaya. Dia menyaksikan aku yang menjabat erat tangan Nia. Matanya tampak berkaca-kaca.

‘Masih adakah rasa cinta di hatinya untukku?’

Persetan dengan semua itu. Kutepis kemungkinan-kemungkinan yang hadir bersama sekelumit angan. Hari ini, dia telah menghancurkan segalanya. Mimpi yang kita bina, cinta yang dibangun sudah lima tahun lamanya, kandas di pelaminan ini. Bukan pelaminan kami, melainkan ada Nia di singgasananya.

“Terima kasih, Bella. Kuharap, kamu segera menyusul kami,” bisik Nia di telingaku.

Nia menggenggam erat tangan Mas Amran, memeluk mantan kekasihku dengan mesranya, kemudian menyuruh kameramen untuk mengabadikan momen itu. Aku tepat berada di samping mereka, bak patung lilin yang siap meleleh demi menerangi sang pemilik rumah. Hampir saja air mata tumpah. Namun, ini sudah kepalang tanggung. Kubiarkan bulir bening itu membeku. Tak boleh meleleh di hadapan banyak tamu.

“Sayang, fotonya gantian, yuk! Kamu yang di sebelah kanan, aku di sebelah kiri.”

Mas Amran menurut saja. Aku bergeming berusaha mengawal luka menjadi ikhlas menerima. Matahari telah membakar rinduku. Meleleh dalam lahar kecewa. Tiada lagi harap seperti yang diinginkan. Semua sudah jelas. Kumengalah. Berlalu, pergi menjauhi keramaian.
***
“Apa kamu pernah membayangkan menjadi diriku, Sa?”

Sesampainya di rumah, aku merebahkan diri di bibir ranjang. Kali ini, tangis yang sedari tadi ditahan benar-benar tumpah ke permukaan. Aku memandang wajah sendiri di cermin, begitu kacau. Rambut terlihat kusut dan acak-acakan. Benar-benar terpuruk tak mampu menyingkirkan rasa hati yang kian berkecamuk.

"Bella, tolong dengarkan aku. Aku tahu kau mencintainya. Mungkin, dia pun sama. Namun, bukannya rezeki, jodoh, hidup dan mati itu di tangan Tuhan? Sudahlah, jangan menangis. Hapus air mata itu. Amran bukan jodohmu. Akan ada jodoh yang lebih baik darinya. Percayalah ....”

Nafisa mengusap punggungku dengan lembut. Dekap hangat ketulusannya begitu menenangkan. Di tengah kesakitan yang mendera, aku bersyukur masih memiliki sahabat tulus sepertinya.

Namun, aku kembali tersenyum getir. Melupakan tak semudah yang dibayangkan. Meski berkali-kali menyatakan siap menerima kenyataan, tapi di sisi lain ada ingatan yang menyisakan kenangan. Semakin berusaha, justru kubangan luka lebih parah menganga. Entah aku mampu bertahan atau tidak. Diri ini benar-benar rapuh.

Dia adalah seorang lelaki yang mengajariku banyak hal tentang cara lebih dekat dengan Tuhan. Belajar menerima dan ikhlas berbagi. Menjadikanku manusia yang percaya diri setelah apa yang dialami.

“Sepertinya, aku memang perempuan buruk, Naf. Benar kata mereka: aku hanya anak jadah, anak pelacur, perempuan jalang. Tak pantas bersanding dengan lelaki sebaik Amran.” Aku kembali tergugu, meratapi nasib yang begitu pilu.

“Jangan lagi kau mengatakan itu, Bell. Kamu tidak seperti yang mereka kira.”

“Kenyataannya memang benar, ‘kan? Aku hanya anak seorang pelacur yang mati mengenaskan akibat penyakit terkutuk itu. Bagaimana mungkin aku menginginkan lelaki semapan Mas Amran sedangkan aku tidak pernah tau siapa ayah kandungku sendiri! Nia menang telak dariku, Naf. Dia begitu pantas mendapatkan segalanya.”

Aku terisak dalam diam. Bulir bening kembali lolos dari kelopak mata. Nafisa tak bosan menyeru untuk beristigfar, justru aku semakin tergugu. Remuk jantung selama ini menahan rindu. Setelah semuanya jelas, hanya luka dan kecewa yang didapat.

=====TBC=====

Cerita ini bakalan aku post sampe tamat ya. Setelah itu aku hapus bagian akhir.

Selamat membaca! 

Ka Ristie

DITINGGAL NIKAH (End) Where stories live. Discover now