Promise is made just to make someone expect and get hurt in the end.
-------
Tidak mengalir jelas adalah jalan pipa rucika ku, mohon untuk di maklumi.
Baca pelan pelan dan happy reading!
••••
"Jadi?"
Gadis itu menghela napas untuk yang ke-sekian kali nya. Sedangkan Laki-laki yang duduk didepannya hanya menatap nya tanpa berkedip.
"Kalau semua nya bisa diulang, apa bisa kita kembali seperti dulu?"
Ah, akhirnya membuka suara juga.
Mungkin bisa saja gadis itu menjawab, 'Kalau sudah tau kenapa harus Bertanya?!' Tapi tidak ia lakukan, setidak nya ia masih punya sedikit nurani untuk tidak menjawab sekasar itu.
Laki-laki tadi, masih saja menatap kosong pada gadis didepannya. Entahlah, kesalahan apa yang ia perbuat sehingga terlihat begitu, menyesal mungkin?
"Ya mungkin."
Hanya itu, memang jawaban seperti apa yang laki-laki itu harapkan? Memaafkan? Sudah ia lakukan. Tapi, untuk memintanya kembali, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.
Luka yang ia toreh, menimbulkan lara yang membekas. Butuh banyak waktu untuk menyembuhkannya.
"Ada pertanyaan lain?"
"Sebesar apa rasa benci kamu terhadap saya?"
Gadis itu menipiskan bibir nya, "Yang pasti, tidak sebesar seperti kamu yang dengan gampang nya menyingkirkan saya dari hidup kamu."
Laki-laki itu mengangguk dengan tertawa lirih. "Apa sefatal itu kesalahan saya? Tidakkah kamu memberi saya kesempatan lagi?"
Gadis itu menyunggingkan bibir nya sinis, sejenak menatap pria yang memberi begitu banyak warna dihidupnya. Tapi, itu dulu, sudah lama terlewat.
"Ya. Sefatal itu. Seperi kaca yang dipecahkan, seberapa keras kamu menyatukan pecahan kaca tersebut, tetap saja tidak bisa utuh seperti sedia kala." Jedanya.
"Sama seperti perasaan saya yang kamu hancurkan begitu saja waktu itu. Dan dengan bodohnya saya memaafkan kamu begitu saja."
Laki-laki itu mengalihkan pandangan mata nya saat melihat gadis yang begitu ia cintai menatap nya penuh kesakitan.
Ya tuhan, apakah dia masih bisa dimaafkan setelah banyak melakukan kesalahan di masa lalu?
"Saya janji, suatu saat nanti, jika takdir menyatukan kita kembali, saya akan membahagiakan kamu sepenuhnya." Ia mengucapkan dengan nada sangat serius dan meyakinkan. Seolah sedang berjanji pada tuhan bahwa ia tak lagi menyia-nyiakan gadis bersurai indah dihadapannya.
"Tidak perlu berjanji, jika pada akhirnya kamu sendiri yang mengingkari."
Laki-laki itu merasa tertohok. Gadis itu sedang menyadarkannya dari kesalahan masa lalu, setidak nya itu yang ia tangkap dari percakapan barusan.
Seperti dulu ia yang menjanjikan kebahagiaan padanya, yang kemudian ia rusak dengan sengaja.
Bahkan kebahagiaan itu baru saja dimulai.
Laki-laki itu mengangguk pasrah. Tidak perlu mengelak lagi, karena fakta nya ia yang memulai semua kekacauan yang terjadi.
Ia bertanya dengan ragu. "Eum, masih bisakah kita menjadi .... Teman,?"
Dengan bingung gadis itu menjawab dengan tegas. "Menjadi teman katamu? Bahkan untuk berhadapan dengan kamu seperti sekarang mampu membuat saya membuka luka lama yang belum kering. Entah kenapa saat melihat wajah kamu, saya selalu teringat dengan kejadian dimana kamu mengakhiri kata kita diantara kamu dan saya. Bagaimana mungkin saya bisa menjadi teman? Teman tidak akan menyakiti teman nya sendiri. Dan kamu tidak pantas untuk di sebut sebagai teman."
Dengan acuh gadis itu berdiri dan mengambil tas nya yang tergeletak diatas meja makan caffe.
"Saya rasa, pertemuan kali ini cukup untuk menegaskan bahwa kita tak bisa lagi untuk bersama."
Saat hendak berjalan, tangannya dicekal. Pandangan laki-laki itu terlihat tak biasa. Seperti banyak diksi yang ingin disampaikan tamun tidak sampai untuk diucap.
"Bahagia ya. Suatu saat nanti, saya akan jadi sosok yang selalu ada disaat kamu butuh pundak untuk bersandar. Saya tidak janji, tapi saya akan usahakan semua nya sebisa mungkin."
Ia hanya mengangkat bahu nya acuh merespon bualan laki-laki tersebut.
"Dimasa depan, semoga kita dipertemukan kembali dan di satukan oleh takdir baik yang mengikuti."
Gadi itu mengangguk asal mengiyakan.
"Yasudah, saya pergi dulu, dipertemuan yang akan datang, semoga kita tak lagi secanggung ini."
Laki laki tadi mengikuti gadis itu sampai keparkiran, sebelum akhirnya mengucapkan sesuatu yang membuat hatinya berdesir hebat.
"I still love you, Aqila adelyn! And see you again."
Kalimat itu seolah menjadi kalimat perpisahan yang sangat menyakitkan untuk di dengar.
"See you again, Syahdad manuela kranela."
Mereka sama-sama tersenyum tulus.
Ini keputusan yang terbaik, dari pada terus saling menyakiti, lebih baik dikhiri.
Karena pada dasar nya, entah Aqila atau Syahdad sama-sama saling menyakiti.
Mungkin untuk saat ini, perpisahan adalah pilihan terbaik.
ESTÁS LEYENDO
Remove
Novela Juvenil"You will never know how strong you are untill being strong is the only choice you have"
