Rintikan hujan sore hari ini membuat gadis kecil dalam rumah kecil itu menampilkan senyum manisnya, ia ingin bermain dengan air yang mengalir dari atas langit itu, menari dibawah rintikan hujan sambil merentangkan tangannya dan membiarkan wajahnya basah oleh percikan hujan itu.
Membayangkannya saja sudah membuat ia tak sabar untuk keluar rumah. Ia hanya bisa melihat lewat kaca jendelanya karena pintu rumahnya terkunci rapat.bisa saja dia mengambil kunci di nakas dan membukanya.namun dia takut hal itu akan memancing emosi ayahnya.
Dia hanya mendengus pelan dan mulai beranjak pergi ke kamarnya.ia tidak ingin berharap terlalu banyak untuk pergi keluar dan diizinkan oleh ayahnya.
Baru lima langkah ia beranjak dari tempatnya, tangisan ibunya membuat ia berhenti dan mulai mencari asal suara itu.tangisan itu diselingi dengan teriakan ayahnya yang membuat ia ragu untuk mencari asal suara itu. Namun karena ia cemas dengan keadaan ibunya, akhirnya dengan segala tekad yang ia punya ia mulai pergi ke arah belakang rumahnya.disana ia menemukan ibunya yang terkapar dilantai dengan rambut yang berantakan seakan habis di aniaya oleh seseorang.disamping ibunya ia menemukan ayahnya dengan gunting yang ada di tangannya.
Gadis kecil itu bersembunyi dibelakang lemari dengan tangan gemetar.ia melihat hal yang seharusnya tidak boleh ia lihat untuk anak seumurnya.
Ayahnya mulai menggunting rambut ibunya dengan menarik paksa rambut ibunya itu.ibunya yang hanya diam seakan menerima semua perbuatan ayahnya.ia tau ibunya ingin sekali pergi dari rumah ini sejak dulu, namun karena ia tidak tega melihat dirinya kehilangan sosok ayah, akhirnya ia ikhlas menerima perilaku ayahnya itu.
"kau wanita murahan, berani sekali selingkuh dibelakangku iya?! Apa dengan alasan hanya mengantar makanan ke tetangga sebelah membuat aku percaya kepadamu? Tidak brengsek, kau tetap wanita murahan yang aku kenal sejak 5 tahun yang lalu" teriak ayahnya diselingi dengan tamparan dan menarik kasar rambut ibunya serta mulai memotongnya lagi.
ibunya hanya membalas dengan tangisan yang membuatnya sakit untuk mendengarnya. Ingin sekali ia keluar dari tempat persembunyiannya dan mendorong ayahnya untuk tidak melakukan hal keji itu lagi, tapi takut yang menguasainya lebih besar dari kecemasan kepada ibunya itu.
Suara pecahan gelas dan piring yang ternyata dilakukan oleh ayahnya itu membuat ia semakin takut dan menutup kupingnya erat.air mata yang ia tahan di pelupuk matanya akhirnya keluar juga.
"cukup ayah!! Jangan sakiti ibu lagi" entah dapat keberanian dari mana akhirnya ia keluar dari tempat persembunyiannya dan meneriaki ayahnya itu.
"wah ada pahlawan kecil rupanya, ingin menyelamatkan ibumu hm?" ayahnya mulai melepas tarikan rambut ibunya itu dan beranjak ke arah gadis kecil sambil membawa pisau di tangannya.
"tidak tom jangan sakiti anakku!!" ucap ibunya yang mencoba berdiri tapi tidak sanggup karena luka di kakinya karena pecahan gelas tadi.
Ayahnya yang berjalan sempoyongan karena pengaruh alkohol itu mendekatkan wajahnya dan menarik paksa dagu gadis kecil yang mulai memejamkan matanya ketakutan.
"ck, kenapa kau sangat mirip dengan wanita murahan itu, cantik tapi tak berdaya.kalau ku poleskan wajah mulusmu ini dengan alat yang ada di tanganku pasti rupamu akan seperti diriku" tawa ayahnya membuat gadis kecil itu gemetar ketakutan dan air matanya semakin mengalir deras.
"jangan nangis bodoh, itu bisa membuatku ingin segera memberi tanda di pipimu itu dengan alat ini" pisau yang dipegangnya sudah berada di pipi gadis kecil itu. Sekali saja ia menancapkan ujung pisau itu maka cairan merah itu mulai mengalir disana.
Hingga tangan ibunya yang merampas pisau itu membuat pria berkepala tiga itu geram dan menampar wajah ibunya.
"jangan sekali kali kau ikut campur urusanku brengsek" tamparan itu ia lakukan berkali kali hingga sudut bibir ibunya mengeluarkan darah.
"dia anakku, sudah seharusnya aku ikut campur" balas ibunya.
"kau!!" ayahnya menarik paksa rambut ibunya dan mulai beranjak keluar rumah tanpa melepaskan tarikannya itu.
Gadis kecil itu berlari menyamai jejak ayahnya untuk pergi keluar. Sekali lagi ia melihat hal yang seharusnya tidak ia lihat.deras hujan yang mengguyur kedua orang tuanya tidak membuat kegiatan keji itu kandas.
Mulai dari tamparan, pukulan, hingga tarikan paksa rambut ibunya ia lihat dengan kedua matanya sendiri.
Sorot mata ibunya seakan baik baik saja dan menyuruhnya untuk pergi dari sini.
Pergi dari sini meninggalkan ibunya sendiri.
ya! ia mulai beranjak pergi dari rumah itu.bukan karena ia ingin meninggalkan ibunya, tapi ia ingin mencari pertolongan kepada warga sekitar. Ia berlari sekencang mungkin, petir dan derasnya hujan ia lalui begitu saja.hingga ia temui sekumpulan warga di warung kopi, ia memanggil mereka dan menyuruh pergi ke rumahnya untuk menolong ibunya itu.
namun kesialan menimpanya, ia melihat ibunya terkapar di aspal jalanan dengan darah yang mengalir deras di kepala dan perut ibunya.ia tidak melihat ayahnya disana.namun dia yakin pelaku ini semua adalah ayahnya.ayah kandungnya sendiri.
ia berlari untuk menemui ibunya, tidak ada yang bisa ia lakukan selain memanggil nama ibunya dan menangis.tidak ada satupun gerakan yang dilakukan oleh ibunya.
"tidak ibu jangan tinggalin varissa bu, varissa janji ga nakal lagi, varissa janji ga akan main hujan hujan an seperti apa yang ibu bilang" tangisan gadis kecil itu seakan menggambarkan suasana langit saat ini.seolah olah langit mengerti apa yang ia rasakan saat ini.
Dan dapat ia simpulkan mulai hari ini hal yang sangat ia benci adalah hujan. Suara hujan.
Hai readers ini cerita pertamaku, jadi kalo ada kesalahan mohon dimaklumi ya :)
3 januari 2019
YOU ARE READING
rain sound
Teen FictionSemua orang mengagumi hujan dengan jutaan alasan, entah itu hujan sangat menyejukkan, sumber pendapatan bagi petani, bau hujan yang hampir disukai kalangan muda,pelangi yang akan hadir setelah hujan reda,atau banyak remaja yang menyebut hujan adalah...
