"Kamu sudah bertemu Tanala?"
"Sudah."
"Bagaimana? Cantik seperti yang Ibu bilang, kan?"
"Iya."
"Kamu pasti suka. Tanala gadis yang baik."
"Iya. Saya permisi dulu."
Bangkit dari kursi makan, Raska berjalan menuju kamarnya. Laki-laki itu langsung menjatuhkan dirinya di atas ranjang kemudian menatap langit-langit kamarnya. Ingatannya kembali pada pertemuan dengan gadis yang ibunya pilihkan itu di kantin kampus. Gadis yang cantik dan baik. Setidaknya itulah yang ibunya katakan.
Srinita D. Tanala.
Apa memang harus gadis itu orangnya?
*__*
"Tana, Mama dan Papa tidak akan memaksa. Kebahagiaan kamu yang terpenting untuk kami."
Srinita D. Tanala menatap kedua orang tuanya dengan gamang. Mama dan Papanya berkata bahwa kebahagiannya lah yang terpenting. Namun bagi Tanala, kebahagian orang tuanya lah yang terpenting. Tanala akan bahagia jika kedua orang yang paling ia kasihi bahagia.
"Raska pria yang baik. Papa sudah mengenal orangnya. Keluargnya pun baik. Dia banyak membantu Papa ketika dalam masa sulit. Membatu keluarga kita juga."
Tanala tahu apa yang dimaksud membatu Papa tirinya dalam masa sulit. Tanala tahu apa yang dimaksud membantu keluarga mereka. Perusahaan sang Papa yang hampir gulung tikar itu diselamatkan oleh keluarga Raska. Kejadian tiga tahun lalu yang bahkan membuat Tanala menunda kuliahnya agar bisa membatu perekonomian keluarga.
"Raska dosen kamu, kan? Kamu pasti sudah kenal Raska seperti apa. Mama yakin dia baik untuk kamu."
"Papa tidak memaksa, Tana. Kebahagian kamu yang terpenting. Hanya saja, coba kamu pertimbangkan kembali."
"Kalian tidak langsung menikah, sayang. Kamu masih punya waktu untuk berkenalan dengan Raska."
Tanala tahu, apa yang harus dilakukannya. Wajah mengharap Mama dan Papanya adalah jawaban yang sempurna untuk Tanala. Dia tidak bisa menolak.
.
.
.
YOU ARE READING
On The Way To You
Romance[Nagara Univers ~ 2] "Pak, tau gak, LDR apa yang paling menyakitkan?" Tanala memulai. "Beda keyakinan. Sayanya yakin, bapaknya enggak." ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ Sorak sorai juga tempeleng di kepalanya Tanala dapatkan dari teman-temannya. Namun mendadak semuanya diam...
