BAG I : Ruang Kosong

32 3 4
                                        

Badanku terasa remuk. Berapa lama aku terbaring di tempat ini. Entahlah, aku tak tahu. Perlahan kucoba membuka mata. Namun keadaan tak berubah. Semuanya tampak gelap. Gelap gulita. Tangan ini hanya mampu meraba lantai dalam ruangan yang tak ada cahaya sama sekali. Sekuat tenaga kucoba bangkit. Kaki ini mulai mencoba melangkah dengan berlahan. Tanpa tahu arah, aku terus berjalan. Kegelapan ini benar-benar menekan nyali.

"Hallo..." teriakku yang hanya menggema luas. "Apakah Adaa Orang..!!".

Sudah cukup lama kaki ini melangkah lurus dalam kegelapan yang tak berujung. Kedua tanganku terus mencari sesuatu sebagai mana fungsinya indra peraba. Namun, tak ada sudut tembok ataupun pembatas yang tersentuh olehnya. Teriakanku mulai lelah untuk mencari pertolongan. Begitu juga dengan tubuh ini.

"Huff.." Kedua lututku menjadi sasaran sepasang telapak tangan untuk berpegang menopang punggung yang semakin berat.

"Tempat apa ini," batinku terus bertanya. Bagaimana ceritanya aku bisa sampai di tempat seperti ini.

***
"Hai Dzul."

Terdengar suara memanggilku, entah darimana asalnya. Di tengah gelap ini, aku tak bisa menerka darimana sumber suara itu. Namun tiba-tiba, suara panggilan itu layaknya saklar yang menyalakan lampu-lampu taman sehingga suasana tak lagi segelap tadi.

Keadaan ini justru semakin membuatku merinding. Tempat yang tadinya gelap menjadi sedikit bercahaya. Suasana malam yang menakutkan. Aku mencari sumber suara itu berasal.

"Dzul.."

Suara itu terdengar lagi, dan semakin dekat. Mata ini terus memburu ke segala arah.

"Aku disini Dzul."

Tampak suara panggilan itu semakin dekat. Tidak salah lagi, suara itu tepat di belakangku. Kuberanikan diri untuk membalikan badan.

"Imam, kau kah itu?" tidak salah lagi. Pria yang mengenakan seragam SMA lusuh itu adalah Imam, teman SMA-ku dulu. Tapi kenapa dia ada disini? bukankah dia sudah lama mati?

"Hai Dzul Fahmi," sapa Imam dengan nada berat dan serak.

Keadaan ini semakin membuat perasaanku tak karuan. Nyali ini semakin diburu ketakutan.

KOSONGWhere stories live. Discover now