1

122 6 1
                                        

Apa yang lebih penting dari sebuah hidup jika bukan sehat?. Apa yang lebih penting dari orang sekarat jika bukan sebuah mukjizat. Sehat ataupun sakit, hidup ataupun mati, miskin ataupun kaya. Semuanya sama, ingin hidup dan tetap sehat. Salah satu hal di dunia yang semua orang inginkan. Dan tak satupun bisa menolak.
Hari ini, jum'at menjelang sore, IGD sama saja seperti biasanya.


"Tolong siapkan ruangan, sebentar lagi ada pasien rujukan datang". Ucap salah seorang dokter.


"IGD Siap, Dok". Sahut salah satu perawat yang saat itu bertugas. Tidak lebih dari setengah Jam, pasien yang dimaksud sudah datang. Seorang anak kecil berusia sekitar 2-3 tahun yang mengalami pendarahan akibat terjatuh dari mainan yang dipakainya.


Memasuki ruang operasi, jubah hijau khas rumah sakit sudah dikenakan oleh para medis yang hendak melakukan tindakan, sorot lampu operasi sudah bersinar silau. "SIAP?"


"Mari berdo'a agar tugas kita diberi kemudahan dan pasien bisa terselamatkan". Perintah dokter muda yang memimpin jalannya operasi


Terdengar suara 'Amin' menggema didalam ruangan operasi tersebut.


"MULAI!"

Begitulah awal operasi hari itu dimulai.
Selang beberapa waktu berlalu, operasi pada anak kecil sebelumnya juga berjalan lancar dan kini ia dipindahkan pada ruangan perawatan selajutnya.


"Lancar?". Tanya seorang Dokter laki-laki yang kini memasuki ruangan 4x5 milik dokter umum tersebut. "Alhamdulillah"


"Kamu udah beres?" Tanya Nadhia, dokter anak yang tadi mengoperasi pasien anak kecil. "Udah". Jawab dokter laki-laki tadi yang memberi pertanyaan pada Nadhia. Namanya Ibrahim Zakariyah,–Ibram panggilannya.


"Tungguin, 15 menit lagi pulang kok". Jelas Nadhia pada Ibram.


"Wettss ada makhluk lain nih". Salah seorang dokter yang baru datang Itu menyapa Ibram, Angga namanya. "Kayak gue setan aja". Jawab Ibram sambil memasukkan ponselnya kedalam saku celana kain yang ia kenakan.


Sudah pukul 17.32. Waktu bagi mereka yang shift pagi sudah selesai. "Caw kita pulang Bram".
Baru hendak keluar dari pintu utama rumah sakit, seorang dari arah belakang memanggil salah satu nama dari mereka. "Bram, Bram nebeng dong gue. Mobil gue dibawa sama dokter Zaid".



"Lah, ngapain dia bawa mobil lo? Katanya kaya, kok mobil aja masih minjam". -Nadhia



"Ngga tau lah gue. Udah biarin aja asal mobil gue dibalikin". Jawab Angga. "Yok Bram kita balik". Ajaknya sambil merangkul pundak sahabatnya itu.


Perjalanan pulang mereka sedikit lebih rame, karna kehadiran Angga yang lumayan bisa membuat suasana menjadi lebih hidup. "Gila Man! Gue tadi dapat pasien genit banget. Padahal udah tua."



Ibram hanya tersenyum menanggapinya, "Naksir kali sama lo". Timpal Nadhia atas pernyataan Angga. "Yakali naksir sama gue, dikira pedopil ntar dianya".



"Ya barangkali lo mau dijadiin suami dia yang ke sekian gitu". Goda Nadhia sambil tertawa. "Mulut lo, gua tabok nih!"-Angga.

"Anter Nadhia dulu yah Ngga", ajak Ibram pada sahabatnya itu. "Uuuu tayang - tanyang" Nadhia mencubit pipi Ibram. Namun Ibram buru-buru melepas jari Nadhia. Sakit lur, nyubitnya pakai tenaga :')


"PLIS YAH. NGGA PAKE MESRA-MESRA DISINI JUGA". Angga


Setelah mengantar Nadhia sampai ke rumah, kini giliran Ibram mengantar Angga ke apartemen yang ditempati temannya itu. Sebenarnya mereka satu apartemen juga, hanya saja karna besok libur jadi dia memutuskan untuk pulang kerumah keluarganya.



Sesampainya di kawasan apartemen yang ditinggali, hanya Angga saja yang turun. "Lo ga mau ke apart dulu gitu?". Tanya Angga. "Ngga deh, bosen. Gue pulang dulu bro". Jawab Ibram yang hanya dibalas kata "Yoi" oleh temannya itu.

***

Nadhia sudah selesai membersihkan dirinya. Kini ia sudah memakai baju santai. Duduk manis didepan tv. "Bu, Ayah sudah pulang?" Tanyanya.
"Ayah sama Kakak udah di Jalan dek, paling bentar lagi sampek", -Ibu.


Benar ternyata dugaan ibu Nadhia. Sekitar 10 menit setelahnya, Ayah dan Abangnyanya tiba dirumah. "Assalamualaikum". Ujar pak Jefri ketika memasuki rumah. Nadhia menyambut dengan mencium tangan ayahnya.


Berbeda dengan sang Ayah, Ardi kakak Nadhia langsung berseloroh "Weeh si Kukang ingat rumah?"


"Maap, kenal?" Jawab Nadhia.


Setelah meletakkan sepatu dan mencuci tangan, Ardi kembali lagi ke ruang tamu, ia rangkul kepala adiknya itu dari belakang. Hingga yang punya kepala meronta. "KAAAKK!"

"Lebay lo. Gini doang teriak"


"JAN USIL DONGG!", peringat Nadhia.


Setelah minum beberapa teguk air mineral, Ardi fokus pada ponselnya Sambil sesekali tertawa. "Lo tumben pulang?" Tanyanya pada sang adik.
"Kayaknya gue pulang terus deh, ngga kebalik?"


Nadhia mengambil Handphone milik abangnya itu, lalu membuka aplikasi permainan yang sering ia mainkan. "Lo ada hp sendiri, install sendiri dong di Hp lo".


"Ck, diem ah. Lagi asik". Jawab Nadhia. Gantian, kini Ardi yang memegang ponsel Nadhia. "Kata sandi lo apaan nyet?", tanyanya. "Monyet". Jawab Nadhia.


"Lah beneran?". Dia bertanya dengan wajah serius seakan tidak percaya. "Ngga percaya ya udah". Jawab Nadhia.


Karna tidak percaya akhirnya pada yang diucapkan adiknya,  Ardi kini mencoba menekan beberapa abjad huruf menulis kata sandi yang di maksud adiknya. "LAHHH! BENER CUY".

Dia berseru setelah berhasil membuka hp lewat kata sandi yang dikasih tau adiknya. "Gila lo, beneran Monyet ternyata".

"Ya lo kalau ngomong monyet jangan pake ngadep ke gue juga dong". Ujar Nadhia bersuara. Ardi tertawa mendengarnya, "Sori Cil".

Dasar kakak beradik😌

The DoctorLa tua prossima ossessione. Scoprilo ora