Seorang gadis menangisi Ayahnya
yang telah meninggal beberapa jam
lalu, dia terus menangis di pelukan
suaminya. Ya gadis itu adalah Naya,
Ayahnya baru saja dimakamkan
dan kini Naya dan suaminya yang
bernama Aryan sedang berada
dikamar mereka.
"Yang ikhlas sayang, Abang juga
sedih tapi kita harus bisa ikhlas agar
Ayah tenang disana." ucap Aryan
mengecup puncak kepala istrinya.
Aryan memeluk tubuh mungil
istrinya dan dibiarkannya Naya
terus menangis dalam dekapannya.
"Naya..udah gak punya siapa-siapa
lagi bang.. hiks.." isak Naya menangis
tersedu-sedu, airmatanya membasahi
kemeja Aryan tapi bukannya risih
Aryan malah mengeratkan
pelukannya.
"Kamu masih punya Abang, Abang
suamimu, dan Kamu istri abang.
Jadi jangan berpikir kamu gak punya
siapa-siapa. Abang sangat sayang
sama kamu, Naya, Abang janji akan
jaga Naya dan bahagia in Naya."
kata Aryan lembut sambil mengelus
rambut panjang Naya, dan istrinya itu
hanya mengangguk dalam pelukan
hangatnya.
"Sekarang Naya harus bisa ikhlas
ya, biar Ayah tenang di sana." kata
Aryan lagi masih menenangkan
istrinya.
Naya melonggarkan pelukannya
dan mendongakkan wajahnya,
kedua tangannya masih melingkar
di pinggang Aryan. Dengan lembut
Aryan menghapus sisa tetesan
airmata Naya, diciumnya kening
istrinya cukup lama. Naya tanpa
sadar memejamkan matanya
menikmati bibir suaminya.
Aryan melepaskan bibirnya
di kening Naya dan beralih mencium
pipi kanan istrinya dengan lembut
seketika wajah Naya tersipu malu.
Air matanya pun sudah tidak
keluar lagi.
"Nah kalau gini kan jadi terlihat
cantik istri abang, abang sangat suka
wajah kamu kalau sedang tersipu
malu seperti ini membuat abang
gemas saja. Rasanya pengen abang
cium terus." goda Aryan sekali lagi
mengecup pipi istrinya kiri kanan,
wajah Naya semakin merah saja.
Naya kembali menjatuhkan
kepalanya di dada suaminya dan
memeluknya erat. Aryan membalas
pelukan istrinya tak kalah erat,
dikecupnya penuh cinta puncak
kepala sang istri.
"Terima kasih ya bang, untung ada
abang yang hibur Naya disaat Naya
lagi sedih kehilangan Ayah yang
sangat Naya sayangi."
"Tidak perlu berterima kasih,
sayang. Kamu istri abang jadi udah
seharusnya abang hibur Naya saat
lagi bersedih seperti sekarang ini.
Abang akan berusaha bahagia in
Naya, abang sangat mencintaimu
sayang." ucap Aryan dengan tulus.
Naya tersenyum, sejujurnya ia juga
mencintai Aryan hanya saja dirinya
malu mengungkapkan perasaan
cintanya. Sedangkan Aryan berpikir
tak masalah jika Naya tak membalas
ungkapan cintanya karena tanpa
Naya membalasnya Aryan dapat
merasakan istri mungilnya ini juga
memiliki perasaan yang sama
terhadap dirinya.
***
Pagi ini Aryan akan mulai
menjalankan perusahaan milik
almarhum Ayah mertuanya karena
Naya adalah anak tunggal, sebagai
suami Naya, jadi dirinya lah yang
menggantikan almarhum Ayah
Naya untuk mengelola perusahaan.
"Bi, istriku mana? Dikamar tidak
ada?" tanya Aryan pada bi Inah.
"Nyonya, di dapur Tuan."
"Dapur? Ngapain dia di dapur,
Bi?" tanya Aryan heran.
"Anu, katanya Nyonya Naya mau
masakin makanan kesukaan Tuan."
jawab Bi Inah gugup, takut dimarahi
Aryan karena membiarkan istrinya
memasak sendirian di dapur.
Aryan tersenyum, istrinya mulai
dewasa ternyata.
"Anda tidak marah pada saya
Tuan?"
"Kenapa saya harus marah
sama Bi Inah?"
YOU ARE READING
Segalanya Untukmu
FanfictionLangsung baca aja jika penasaran. Karakter Aryan Ibrahim (Aryan) Anaya Putri Sanjaya (Naya)
