Rachal Romaesa, sebuah nama yang dituliskan di sebuah kartu nama mahasiswa-mahasiswi baru itu menempel dibaju salah satu siswi berambut hitam pekat dan berkulit kuning langsat. Matanya sedari tadi melihat-lihat ke arah belakang, mencari seseorang yang merupakan mantannya ketika SMP, yang katanya juga mendaftar di universitas dan fakultas yang sama.
Bisa dibilang Rachal ini adalah anak yang cukup aktif, ia juga memiliki tingkat kepercayaan diri yang cukup tinggi dan otak yang cukup pintar, terbukti dari ia menduduki bangku tingkat dasar yang selalu mendapat nilai tinggi.
Ia juga sopan dengan orang yang lebih tua, dan sangat ramah kepada semua orang. Ia anak perempuan pertama di keluarganya yang serba berkecukupan, membentuknya menjadi anak manja dan sedikit egois. Tetapi sifat manja dan egois yang ada dalam dirinya tidak membuat penggemarnya hilang, justru semakin bertambah seiring berjalannya waktu, benar-benar boys magnet.
Seseorang menepuk pundaknya dari belakang, yang ditepuk pun menoleh kearah belakang. "Hai, boleh kenalan ga?" tanyanya pelan. Wajahnya terlihat polos tanpa bedak, tetapi bisa dilihat dari wajahnya jika ia anak yang cukup pintar.
Yang diajak berkenalan pun tersenyum manis, "Boleh," ia menjulurkan tangannya, mengajak berjabat tangan. "Rachal Romaesa, anak kelahiran dua ribu dua. Panggil aja Acha, kalau kamu?"
"Nadia Mahestira. Panggilannya Nadia, anak tahun kelahiran dua ribu dua juga. Salam kenal ya!" Nadia menjabat tangan Acha, lalu duduk berpindah disamping Acha. "Disini ga ada orang kan?" tanyanya baik-baik.
Acha mengangguk, "Gapapa, duduk aja. Aku ga kenal siapa-siapa disini buah dijagain tempat duduknya," jawab Acha sambil tertawa.
"Yeah, until you know me, right?" sahutnya dengan tertawa. Lalu mereka berbincang-bincang tentang tes-tes yang telah mereka lalui sejauh ini hingga akhirnya mereka diterima di Universitas Indonesia, tepatnya di fakultas kedokteran. Pasti perjalanan yang tak panjang bukan?
"Perhatian semuanya,"
Sebuah suara dari arah depan terdengar hingga kebelakang menggunakan speaker. Seluruh mahasiswa baru yang duduk di kursi-kursi yang disediakan langsung terdiam. Semua mata tertuju kepada seorang laki-laki berbadan sedang, tidak tinggi ataupun rendah, tidak gemuk ataupun kurus. Sepertinya ia salah satu panitia ospek.
"Baiklah teman-teman semuanya, saya Gemi. Terima kasih atas perhatian-perhatian yang teman-teman semua. Dikarenakan sebentar lagi akan dimulai acara pembukaan, diharapkan saat acara pembukaan tidak ada yang izin ke toilet atau keluar dari ruangan. Maka dari itu kalian semua dipersilahkan untuk pergi ke toilet sekarang agar pada saat acara tidak ada yang kebelet atau lupa membuang sampah permen maupun kue. Dimulai dari sekarang sampai jam delapan lewat sepuluh menit, jam delapan lewat sepuluh semuanya harus sudah kembali ke aula ini. Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih." Laki-laki itu langsung kembali ke meja sudut yang berisikan panitia-panitia ospek hari ini, meletakkan mic-nya diatas meja.
Acha sedari tadi menatap kosong ke arah depan, ia mengenali sosok itu. Gemi, yang menjadi salah satu panitia ospeknya selama seminggu ini. Hingga akhirnya mata mereka bertemu, menimbulkan hawa dingin bercampur amarah didalam dada.
YOU ARE READING
My Unknown Senior
Teen FictionWaktu berlalu dengan cepat, mulai menyembuhkan luka lama yang dirasakan oleh Rachal Romeesa Malaudy, seorang anak manja yang mulai mengenal cinta yang benar-benar tulus di bangku sekolah menengah atas. Kini ia sudah dewasa, menjadi pribadi yang lebi...
