kita dan usai

30 1 0
                                        

"Tring"
Suara notifikasi pesan masuk dari handphone Kiara. Kiara membuka layar kuncinya lalu membuka aplikasi whatsapp.
"P"
"P"
Pesan dari nomor yang tidak dia kenal. Dibukanya profil orang tersebut. Tetapi tidak ada foto namanya pun hanya "." saja. Menganehkan.
"Ini siapa?" Balas Kiara.
Tidak butuh waktu lama, orang tersebut membalas pesan dari Kiara.
"Gua yang tadi siang lari-larian sama lu sama Caca."
Kiara mengingat-ngingat kembali kejadian siang tadi.
"Rian atau Juna?" Tanya Kiara menerka-nerka.
"Coba tebak hahaha"
Kiara menyeringitkan dahinya. "Dih apa banget sih orang ini" Gumam Kiara dalam hati. Kiara menghiraukan pesan dari orang tadi dan melanjutkan kegiatannya yaitu membaca novel.
"Tring... Tring.."
"Duh siapa sih ini orang ganggu amat." Ucap Kiara sebal.
"Dih parah gadibales lagi haha"
"Gua Juna."
"Save back makanya biar keliatan foto profil gua."
Kiara membaca rentetan pesan masuk tadi. Ternyata pesan itu dari Juna. Padahal yang diharapkan Kiara adalah Rian bukan Juna.
"Kok bisa dapet nomor gua?" Tanya Kiara kepada Juna.
"Minta Caca tadi. Gua mau nyomblangin lu sama si Rian. Lu mau kan?"
Kiara hanya diam membaca pesan masuk tersebut. Kiara mulai panik apakah dia ketahuan kalau dia suka sama Rian? Kalau Rian tau bagaimana? Bisa kacau semuanya.
"Kok tiba-tiba nyomblangin gini?" Tanya Kiara pura-pura.
"Ya gua rasa kalian berdua cocok. Lagian juga Rian gapunya pacar."

Kiara langsung mengirim pesan kepada Caca. Dia yakin ada yang tidak beres jika seperti ini.
Kiara menyukai Rian. Awal mulanya hanya karena sering ledek-ledekkan dan berakhir Kiara yang baper sendiri. Tetapi Kiara tidak ingin jika ada yang mengetahui perasaannya kepada Rian. Selain sahabat-sahabatnya.
Siang tadi sepulang sekolah, Tidak tau apa yang membuat Kiara dan Rian main kejar-kejaran. Dibawah langit yang meneteskan airnya sedikit demi sedikit, Rian dan Kiara berlari menuju parkiran.
Tidak hanya berdua, Kiara ditemani oleh Caca dan juga Rian ditemani oleh Juna. Mereka ber 4 berlari tanpa tau alasan mengapa mereka saling berkejaran.
"Ca.."
"Woi Caca"
Kiara mengirim pesan kepada Caca. Mengingat Juna dan Caca sudah saling kenal, Kiara yakin pasti Caca yang sudah merencanakan kegiatan perjodohan ini bersama Juna.
"Kenapa?" Jawab Caca.
"Lu kan yang jodoh-jodohin gua sama Rian?" Tanya Kiara tanpa basa-basi
"Hehehe iya."
"Si Juna juga maksa banget mau bantuin lu deket sama Rian." Jawab Caca yang membuat Kiara mendengus sebal.
"Ya tapikan lu tau sendiri, gua gamau dia tau kalo gua suka sama dia. Nanti kalau dia tau terus dia ngejauh dari gua gimana Ca? Kali aja si Rian juga udah punya gebetan." Jawab Kiara panjang.
"Yelah Ra, lu mah kebiasaan. Coba dulu kenapa sih, kalo lu ga nyoba, ya mana lu tau Rian suka sama siapa, deket sama siapa. Kan kali aja Rian juga suka sama lu. Terus kalian berdua bisa pacaran." Omel Caca yang Kiara yakin mukanya sudah sangat sebal.
"Tapi gua takut Ca. Gua takut kecewa." Jawab Kiara
"Kan lu sendiri yang udah milih dia kan? Lu sendiri yang jatuh cinta ya lu harus nerima apapun nanti hasilnya. Kan kita gatau Ra bakalan baik atau malah buruk. Berdoa aja semoga hasilnya baik. Kan lu juga yang seneng. Dari pada kaya gini, cinta diem-diem. Nanti kalau dia sama yang lain lu gabisa marah. Orang lu bukan siapa-siapanya." Caca mulai menceramahi Kiara.

Kiara selalu seperti ini. Ingin jatuh hati namun terlalu takut mendekati. Kiara selalu bermain di zona nyamannya dan tidak mau keluar dari zona itu. Terlalu banyak kata tapi jika Kiara sedang jatuh hati. Merepotkan memang.
Kiara menghela nafas panjang. Dipandangnya langit-langit kamarnya. Kiara mulai masuk kedalam dunia khayalnya dan membayangkan banyak hal-hal yang sebenarnya belum tentu terjadi.

"Tring...Tring..."

Kiara meraih handphonenya dan membaca pesan masuk.
"Gimana? Mau ga ngechat Rian? Nih ya gua kasih kontaknya."
Kiara menekan kontak yang dikirim Juan tadi. Menyimpan nomor tadi dan mulai ragu. Apakah ia harus mengirim pesan duluan kepada Rian atau tunggu Rian yang mengirimnya pesan terlebih dahulu.
Kiara benar-benar ragu saat ini. Ia bingung apa yang harus dilakukan sekarang. Kiara tidak mau kalau Rian sampai tau perasaannya, apalagi Rian sangat amat nyebelin dimata Kiara. Kiara mulai mengirim pesan kepada salah satu sahabatnya selain Caca. Ashila namanya. Teman sebangku Kiara.
"Shil"
"P"
"P"
"Bales Shil."
Kiara mengirim pesan kepada Ashila banyak sekali, agar Ashila langsung menjawab pesannya.
"Kenapa?" Tanya Ashila.
"Juna ngirimin kontak Rian ke gua. Gua pc ga ya?" Kiara meminta pendapat kepada Ashila.
"Kalo kata gua gausah." Jawab Ashila dengan pendapatnya.
"Kenapa?" Tanya Kiara heran.
"Ya, gausah aja. Emangnya ngapain ngirim pesan ke Rian? Nanti kalau gadibales gimana?" Ashila membalikan pertanyaan kepada Kiara.
"Iya juga sih, tapi kalau gadicoba kan gatau Sil." Jawab Kiara.
"Yaudah terserah lu aja" Jawab Ashilla.
Kiara semakin dibuat bingung oleh kedua pilihan tersebut. Kiara menimang-nimang pilihannya dan membayangkan kejadian-kejadian yang bakal terjadi jika ia mengirim pesan kepada Rian dan jika ia tidak mengirim pesan kepada Rian.
Dan pada akhirnya Kiara memilih untuk tidak mengirim pesan kepada Rian. Bukan hanya karena takut pesannya tidak dibalas, tapi dia juga memikirkan pesan yang dikirim Ashilla.
P

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Oct 22, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Melangkah untuk Merelakan [Complated]Stories to obsess over. Discover now