Orang orang berlalu lalang dan suara bising kendaraan bercampur bau asap menandakan hari yang sibuk di mulai setelah libur yang menyenangkan. Termasuk aku yang dipaksa kembali pada kenyataan bahwa hari hari beratku pun di mulai.
Namaku Kurnia lengkapnya Kurnia Ningrum terdengar tidak asing jika kalian menonton iklan yang tayang setiap mendekati bulan puasa pasti kalian akan tau bahwa namaku sama dengan nama salah satu iklan sirup apa lagi kalau bukan sirup Kurnia. Oke lupakan tentang sirup , saat ini aku tengah menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi negeri di kotaku, semester tiga bisa dikatakan mahasiwa menjelang tua. di mana baru merasakan hawa hawa menjadi kaka tingkat mencari perhatian mahasiwa baru.
Jika kalian berpikir bahwa menjadi mahasiswa itu seperti sinetron sinetron yang kalian tonton di televisi atau menajdi mahasiwa itu lebih menyenangkan dari pada menjadi siswa, maka selamat kalian masuk dalam pembohongan publik yang luar biasa. Faktanya menjadi mahasiswa itu berat tugas akan selalu datang silih berganti dan menjadi teman yang paling setia. resuman, makalah, artikel, dan masih banyak tugas yang tak bisa kalian bayangkan saat menjadi siswa terutama skripsi yang menjadi hantu bergentayangan bagi setiap mahasiwa, tidur diatas jam dua belas sudah menjadi hal yang biasa di kalangan mahasiwa apalagi saat deadline tugas yang diberikan dosen sudah dekat di tambah tingkah laku dosen yang terkadang membuat mahasiwa mengelus dada karena harus bersabar.
Jangan harap perpustakaan akan sesepi perpustakaan sekolah. Bahkan pasar pun akan kalah ramai di bandingkan pepustakaan yang ada di kampus. Mau tidak mau suka tidak suka buku wajib di baca walau hanya saat mencari bahan untuk tugas.
Tidak ada cerita dosen akan memberikan keringanan bagi kalian yang tidak mengumpulkan tugas, ketika dosen sudah menentukan tanggal maka tugas wajib dikumpulkan jika belum maka selamat tinggal dan bersiap mengulang semester berikutnya. Terkadang ada saat di mana rasanya ingin berhenti, salah jurusan bahkan samapai merasa salah kampus seperti yang ku alami saat ini, dilema yang tak berkesudahan, hanya berusaha menyemangati diri sendiri bahwa sudah jalan sejauh ini dan bersyukur punya kesempatan mengenyam pendidikan lebih tinggi dari teman teman yang kurang beruntung.
Menjadi mahasiwa itu ada sisi menyenangkan dimana pakaian tidak di tentukan jam kuliah yang relatif lebih sedikit saat dosen tidak masuk maka kuliah di liburkan, banyak menemukan hal hal baru lebih mandiri terutama bagi anak perantauan diangagap lebih dewasa dan jangan lupakan tanggung jawab yang lebih pula.
"woi kur !" suara yang amat sangat kuhapal memanggilku siapa lagi kalau bukan toa masjid si gendut Yoga.
"opo se bambang, itu suara kalo manggil ya mbo di kira kira kali. Ini tu bukan hutan, gak usah pake triak triak segala malu maluin".
"halah gaya mu, so nasehatin aku kau lebih parah dari aku kalo ngomong ayam yang mau bertelur pun kalah sama suara kau"
"dua manusia bar bar kalau ketemu ya gini yang satu toa yang satu ayam mau bertelur. Udah cocok tuh jadi jodoh kan sama sama jomblo"
"kampret kau Tia mulut mu lebih pedas dari seblak level 5, amit amit aku sama dia kaya gak ada cowo lain aja"
"astafirullah maafkan kekasaran teman hamba ya Allah hamba tak sanggup berada diantara mereka, maka keluarkanlah setan setan di tubuh mereka ya Allah"
"kau yang setan" ucap kami bersamaan membalas ucapan si bancis Reno atau yang biasa di panggil inces jadi jadian.
"ugh gitu ya kalian sama inces" dengan wajah manyunnya yang menurutku itu mengerikan.
"sekali lagi kau manyun ku tabok mukamu pake sepatuku" melihat kelakuan Reno yang tak sesuai dengan tampang dan namanya.
"syutt" ucap Yoga sambil menaruh jari teluknya di jidatku dasar teman laknat.
"apaan sih"
"Itu dosen udh masuk tayang akuh" balas yoga sambil senyum senyum tak jelas.
Malas meladeni yoga dengan tingkah menjijikannya maka ku fokuskan pandanganku pada dosen di depanku.
YOU ARE READING
Lika Liku Mahasiwa
Teen FictionKurnia perempuan cantik dengan kelakuan yang dianggap teman terdekatnya bar bar dengan gaya bicaranya selalu ngegas nyablak apa danya. Ditambah dengan kemesuman dengan taraf mengkhawtirkan. Namun akan betingkah anggun bak putri keraton jika sudah be...
