Lovebird 5

61.2K 2.7K 76
                                        

"Dr.Melati,Sp.OG, 29 tahun, single. Itu yang paling penting." Nino tersenyum senang ketika mengucapkan kata single, itu artinya peluang untuk mendapatkan hati Melati terbuka lebar.

"Yatim piatu." Ucapnya lagi, akan lebih gampang kalau tidak ada orang tua, Melati bisa memutuskan sendiri takdir hidupnya tanpa orang tua yang akan turut campur di dalamnya.

"Mahasiswa terbaik dengan IPK 3,9. Sempurna."

"Pernah menyabet gelar Dokter muda terbaik dua tahun yang lalu, hmm..."

"Pendiri panti asuhan tsuraya, panti yang hanya menampung balita." Menarik, Pikirnya. Pantas sekali dia begitu peduli dengan bayi yang dilahirkan orang yang di tabrak Fio kemarin.

Nino melanjutkan membaca data tentang Melati yang di dapatnya siang ini. Dia bolak-balik mempelajari semuanya dengan serius seolah-olah yang sedang di bacanya adalah proposal yang sangat penting dan akan menentukan masa depan perusahaannya.

Setelah cukup puas dengan berkas di depannya Nino menatap informan yang di sewanya. "Memuaskan, good job." Nino kembali merapikan kertas-kertas tersebut dan memasukkannya kedalam map dengan tersenyum puas. Semuanya akan lebih mudah kalau dia mengetahui sedikit informasi tentang Melati.

"Sudah sejauh mana penyelidikan kamu tentang orang yang aku kasih KTPnya kemarin?"

"Sebetulnya saya sudah menyelidiki semuanya tapi laporan yang saya buat belum selesai."

Nino mengibaskan tangannya. "Ceritakanlah."

"Baik Pak. Dari mana saya harus memulai laporan saya?"

"Kamu bisa mulai dengan namanya. Kurasa."

"Baiklah, Wanita itu bernama Murnisari, berusia 26 tahun, dia  seorang TKW yang baru pulang dari tanah arab dan dalam keadaan hamil."

"Hmm...." Nino menyimak semua laporan yang di sampaikan informannya dengan serius.

"Suami dan keluarga besarnya tidak bisa menerima kehamilannya untuk itu mereka semua mengusirnya." Nino menganggukan kepalanya.

"Bapak beruntung, dengan sedikit uang saya rasa mereka tidak keberatan menyerahkan bayi itu."

"Berikan alamatnya, biar pengacara saya yang mengurus selanjutnya."

"Baik Pak." Informan yang di sewa Nino mengeluarkan secarik kertas dan menyerahkannya pada Nino.

***

Melati POV

Aku bergegas keluar ruangan setelah jam tugasku selesai karena siang ini aku sudah janji akan mengantar Bapak pulang. Lagi-lagi kakiku berbelok arah menuju ruang perawatan bayi dan menatap bayi-bayi kecil itu di balik kaca, entahlah hampir setiap hari aku tidak pernah absen melihat bayi-bayi itu, ada kebahagian tersendiri kala melihat berbagai ekspresi yang di tampilkan para bayi-bayi tersebut, mereka menggeliat dan menagis seolah-olah mereka tahu kalau semua orang memperhatikannya.

Aku sangat menyukai tingkah polos mereka dan aku menyukai suara tangis mereka tapi aku tidak pernah berkeinginan punya anak sendiri, anak yang lahir dari rahimku sendiri dengan cara apapun.

Semua itu karena Ibu, Ibu yang telah membentuk dan mempersiapkan aku dari kecil supaya aku tidak mengenal rasa sakitnya penghianatan yang di rasakan Ibu semasa hidupnya. Kematian Ibu telah membuka mataku akan rasa sakit itu dan aku bertekad supaya tidak terjatuh seperti Ibu karena aku tidak ingin punya rasa sakit yang sama dengan Ibu.

"Ehmm.....Bayiku yang mana ya?" Tiba-tiba saja suara bariton seseorang mengagetkanku persis seperti yang Dokter Herman lakukan tadi pagi. Ada apa ini? kenapa hari ini aku begitu sial di kagetkan sama dua orang yang sama-sama menyebalkannya.Pertama Dokter Herman, dokter kurang kerjaan yang memiliki kekasih lebih dari satu dan masih saja berusaha merayuku, dan  sekarang ayahnya Fio. Pria paling mesum sedunia yang memanfaatkan semua kelebihan yang dia punya. Ku layangkan tatapan tidak suka pada pria di sampingku yang sedang berusaha memberikan senyuman terbaiknya, aku akui senyumannya memang sangat memikat dia begitu nice dan tampan tapi aku tidak tertarik sedikitpun dengan wajah tampannya itu.

LOVEBIRDWhere stories live. Discover now