Pesisir pantai Kuta malam itu masih cukup ramai. Terlihat beberapa turis asing bertelanjang dada yang sedang berkumpul dihiasi belasan botol bir yang sebagian kosong di atas meja. Mereka nengobrol dengan suara lantang, lalu tertawa terbahak-bahak dengan warna kulit wajah yang sedikit memerah.
Tidak jauh, beberapa pedagang sudah mulai membereskan dagangan mereka, sebagian lagi masih menjajakan dan melayani pelanggan yang berbelanja. Cuaca dingin dan angin yang cukup kencang sepertinya tidak berpengaruh dan sudah menjadi hal lumrah bagi mereka. Wajar saja, karena pada malam hari, daratan lebih dingin daripada lautan.
Pada salah satu kedai penjual nasi Jinggo¹, seorang pria duduk menyendiri, menatap kosong ke arah laut yang gelap dan tak berujung. Angin kencang sesekali menghembuskan rambutnya yang panjang hingga hampir menyentuh pinggang.
Secara samar-samar, terdengar lantunan sebuah lagu dari band Rock Classic era 80'an yang diketahui berasal dari ponsel pria tersebut. Lamunannya buyar, pandangannya kini teralih pada ponselnya di atas meja. Ia meraih ponselnya, lalu menjawab sebuah panggilan yang masuk.
Terdengar suara wanita di kejauhan sana, dengan suara yang cukup lantang, "Kamu kenapa pindah ke Bali tidak memberi tahu?" Protesnya dari dalam telepon.
Pria itu sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga, karena suara wanita itu yang memekik, "Jika saya memberi tahu, Tante enggak akan setuju, kan?"
"Bukannya tidak setuju, tante sudah janji dengan anaknya teman tante, untuk mengenalkanmu padanya, sekarang bagaimana?"
"Diundur saja, mungkin satu atau dua bulan lagi saya akan ke Jakarta. Saya cuma mau menengok tempat tinggal Ibu di sini." Jawabnya dengan enteng.
"Memang sudah 4 bulan semenjak kakakku meninggal, tempat itu selalu kosong. Baiklah, selesaikan urusanmu di sana, jaga diri, jika ada apa-apa segera hubungi tante. Tante tahu ada yang tidak beres dengan kematiannya."
"Baiklah, tolong juga tante jangan memberi tahu lelaki bajing—" belum selesai ia berbicara, panggilan itu sudah terputus.
Pria itu beranjak dari kursinya, lalu sedikit meregangkan badan. Setelah membayar pesanan, ia memutuskan untuk langsung pergi, menuju kediaman mendiang Ibunya yang jaraknya tidak cukup jauh dari tempat tersebut.
Langkahnya terhenti sejenak setelah ponselnya yang tiba-tiba kembali berbunyi, kali ini ada sebuah pesan masuk dari Tantenya yang baru saja menghubungi.
'Adrian, maaf tiba-tiba terputus, aku sangat yakin kematian ibumu seperti ada yang janggal. Tante minta kamu jaga diri, pastikan juga bahwa enggak ada yang membuntuti kamu di sana.'
Pria kurus itu bernama Adrian Mori, berumur 28 tahun. Penilaian mayoritas orang setelah pertama kali melihatnya adalah sosok 'preman' atau 'pembuat onar.'
Tidak bisa disalahkan, karena ia sendiri yang membangun image dirinya seperti itu. Dengan brewok tebal dan rambut yang panjang, ia sudah terlihat cukup menyeramkan. Ditambah lagi sekujur badan dan kedua lengannya yang dipenuhi tato permanen bertinta hitam. Sangat mencolok, karena terlalu kontras dengan warna kulitnya yang putih, tipikal warna kulit dari seseorang yang jarang terkena paparan sinar matahari.
Setelah membaca pesan itu, ia memasukkan ponselnya ke dalam saku dan melanjutkan perjalanannya, "Orang macam apa yang rela menyewa orang untuk membuntutiku. Ah, tapi apapun bisa dilakukan oleh bajingan tua itu! Kita lihat saja kejutan apa yang akan muncul kedepannya nanti," gumamnya dengan menyeringai.
•••••
¹Nasi Jinggo adalah makanan siap saji khas Bali yang berbalut daun pisang sebagai pembungkusnya.
YOU ARE READING
Rosa Nera
ChickLit"Pengedar narkoba, penculikan, pemerkosaan, pembunuhan berencana, dunia ini terlalu luas untuk kamu telusuri. Semua yang terlihat aman, selamanya tidak seperti itu. Semua yang terlihat bahagia, beberapa dari mereka hanya berkamuflase, menggunakan to...
