1

105 4 0
                                        

Tiga bulan telah berlalu, aku menginjakkan kaki tepat di depan rumah besar bak istana ini bersama dengan seorang pria dewasa bernama Yuda. Aku disambut baik oleh jejeran orang-orang dewasa yang mengenakan seragam layaknya pembantu istana yang pernah aku lihat di acara televisi.

Sedari kecil aku sudah di rawat oleh Paman Alex, adik kandung Bunda, sampai aku berumur 10 tahun. aku tidak pernah betemu Bunda. Dari cerita Paman Alex, Bunda sudah meninggal saat melahirkanku. Hanya melalui foto yang selalu diperlihatkan oleh Paman Alex saat malam hari, Paman Alex banyak sekali bercerita tentang Bunda. Saat melihatnya aku menyadari bentuk wajah, bentuk mata, dan rambut panjang bergelombang milikku sama seperti milik Bunda.

Sayangnya Tuhan berkehendak lain, Paman Alex mengalami kecelakaan saat akan kembali dari tugas dinasnya di luar kota. Aku sangat terpukul dan ketakutan ekali karena hanya Paman Alex yang aku punya siapa lagi yang akan menjagaku seperti Paman Alex. Sedangkan Paman Alex bercerita sudah tidak memiliki sanak saudara setelah sepeninggal Bunda, Oma dan Opa ikut menyusul. Aku sudah tidak tahu lagi harus tinggal di mana sampai seorang pria dewasa berpakaian jas lengkap dengan dasi mendatangiku setelah prosesi pemakaman Paman Alex. Dia memperkenalkan dirinya sebagai orang kepercayaan Ayah kandungku dan mengajakku untuk tinggal bersama Ayah. Aku memang pernah bertanya sekali pada Paman Alex tentang Ayah tapi Paman Alex selalu enggan untuk menjawabnya dan raut wajahnya terlihat sangat marah sekali, sehingga aku enggak bertanya kembali.

Selama tinggal di rumah, aku sama sekali tidak pernah bertemu dengan Ayah. Kamar yang aku tempati juga berbeda, kamarku berada di sayap kiri rumah ini sedangkan kamar Ayah berada di sayap kanan. Aku hanya mendengarkan dari pembicaraan para pelayan yang berada di rumah ini bahwa Ayah memiliki wajah yang sangat tampan dan karismatik. Hanya mendengarkan tentang Ayah saja sudah membuatku ingin sekali bertemu bertatap muka dengannya.

"Bibi." panggilku.

Saat ini aku berada di ruang bermainku. Dari awal kedatangan ku, orang kepercayaan Ayah memperkenalkan ku dengan Bibi Margaret yang akan mengasuhku dan memenuhi kebutuhanku di rumah ini. Awalnya aku canggung sekali dengan keberadaan Bibi Margaret tapi setelah lama kenal ternyata aku seperti mendapatkan kasih sayang seorang ibu yang tidak pernah aku dapatkan.

"Iya, Non Claudia."

"Kapan aku bisa bertemu dengan Ayah, Bibi?"

Bibi Margaret terdiam sesaat, "Non Claudia sabar ya. Setelah Tuan tidak sibuk pasti akan bertemu dengan Non Claudia."

Sambil mewarnai buku gambar di atas karpet, aku menerima dengan lapang dada bahwa Ayah mungkin masih sibuk dan belum memiliki waktu untuk bertemu.

"Bibi, aku mau cokelat."

"Tidak boleh! Memangnya Non Claudia mau gigi-nya di bor seperti kemaren."

Teringat dulu, aku memakan cokelat banyak sekali sampai aku tidak bisa mengunyah makanan gara-gara gigi ku berlubang dan harus ke dokter gigi. Melihat alat bor gigi yang aku lihat di klinik dan rasa ngilu sudah membuatku ketakutan. Tapi aku ingin sekali memakan cokelat.

"Tapi Bi, sekali saja." Mengancungkan satu jari dengan memandang memohon ke arah Bibi Margaret.

"Sekali tidak tetap tidak Non Claudia."

Bibir aku manyunkan mendapatkan penolakan dari Bibi Margaret. Sekilas aku mendapatkan ide akan aku dapatkan di mana cokelat itu, membuatku tersenyum kecil. Mataku Melirikkan ke arah Bibi Margaret yang sedang menyulam baju seragamnya. Aku berdiri dari tengkurapku lalu berjalan ke arah pintu.

"Non Claudia mau ke mana?"

"Aku mau ke kamar, ada yang ketinggalan." bohongku.

Dengan santai aku berjalan keluar kamar dan tidak menutup pintu. Aku melangkahkan kaki ke arah dapur yang berada satu lantai di bawah. Banyak pelayan berseragam menyapaku sepanjang jalan dan kubalas dengan senyum lebar. Pelayan di rumah sini sangat baik sekali padaku, terkadang aku diberikan hadiah untukku pakai maupun bermain denganku. Aku sangat senang tinggal di sini walau sempat terbesit pikiran aku akan di perlakukan tidak baik selama tinggal tapi semua tidak pernah terjadi.

Saat ingin berjalan ke bawah, terdengar suara berisik. Karena penasaran aku terus melangkah menuruni tangga dan duduk di tangga untuk mendengarkan percakapan yang salah satunya seperti memohon.

"Saya mohon Yuda, itu bukan saya. Tolong pertemukan saya dengan Tuan." ucap suara wanita memohon.

"Tuan sedang sibuk."

"Tolong jangan lakukan ini pada saya. Saya tidak mau mati."

Jantungku langsung berpacu sangat cepat mendengarnya. Sebenarnya apa yang sudah dilakukan oleh wanita itu.

"Semua bukti tentang perbuatan anda sudah dilihat oleh Tuan. Nona tidak bisa merubahnya."

"Saya dijebak. Saya tidak melakukannya."

"Antar Nona keluar."

"SAYA DIJEBAK. ITU BUKAN PERBUATAN SAYA."

Dari tempatku duduk, aku melihat seorang wanita berteriak, memberontak dari genggaman dua orang pria bertubuh kekar, dan diseret keluar. Aku menatap horor apa yang terjadi di depan mataku.

"Nona Claudia," sapa Paman Yuda.

"Eh... Paman tadi siapa?" tanyaku penasaran.

"Bukan siapa-siapa. Ada yang bisa saya bantu Nona?"

Aku menggelenggkan kepala, "tidak, aku mau ke dapur." melangkah menuruni tangga sampai berdiri di depan Yuda.

"Saya tidak akan mengucapkan apa-apa kepada Margaret apa yang akan Nona lakukan di dapur." ucapnya.

Aku cengengesan mendengarnya lalu berlalu meninggalkannya menuju dapur. Jangan-jangan Paman Yuda tahu aku selalu mengambil cokelat di dapur tanpa sepengetahuan Bibi Margaret, tapi tau dari mana. Padahal aku selalu memastikan dapur tidak ada siapa-siapa. Jangan bilang Paman Yuda memiliki kemampuan cenayang, tubuhku bergidik ngeri memikirkannya.

Mendekati dapur, ternyata diluar perkiraan. di ambang pintu aku melihat dapur ramai sekali, orang hilir mudik dan saling bersaut-sautan. Tumben sekali di jam yang waktunya semua penghuni di rumah pada tidur siang, ini malah bekerja. Sepertinya aku akan kembali nanti saat sudah sepi.

"Loh... Nona Claudia. kenapa ke sini?"

"Eh... enggak tadi lewat sini ternyata ramai. Tumben sekali?"

"Iya, Tuan meminta makan siang di siapkan."

Ayah sedang di rumah, ingin sekali aku bertemu dengannya tapi teringat kejadian tadi membuatku mengurungkan niatan untuk bertemu dengan Ayah.

"Tadi saya melihat Nona Grace di bawa ke arah hutan di samping rumah. Tidak menyaka, padahal wajahnya cantik sekali tapi kelakuannya tidak mencerminkan wajahnya. Dia tega sekali melakukan itu pada Tuan." bisik salah satu pekerja di dapur.

"Iya, Tuan kalau sudah melihat kesalahan sedikit saja, hilang sudah nyawanya. Denger-denger sudah beberapa pembantu melakukan kesalahan tapi tidak kembali lagi. entah masih hidup atau sudah...." salah satu pembantu melakukan gerakan jempolnya segaris horizontal di depan lehernya.

Tubuhku menegang mendengarnya, berbagai pikiran buruk tentang Ayah berseliweran di dalam otakku. Apa karena itu, Paman Alex enggan menceritakan tentang Ayah, tentang kekejaman yang dilakukan oleh Ayah. Jantungku berdebar dengan kencang sekali. Aku harus pergi dari rumah ini.

"Kalian jangan bergosip, kembali bekerja." ucap kepala koki.


--

TBC

TBC

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.


Become a PrincessStories to obsess over. Discover now